Advertorial

Mengenal Teknik Vacuum Assisted Breast Biopsy, Biopsi Payudara Minimal Invasif dengan Hasil Akurat

Kompas.com - 24/11/2023, 16:42 WIB

KOMPAS.com – Biopsi merupakan standar utama untuk mendiagnosis kanker, termasuk kanker payudara.

Biopsi payudara merupakan prosedur pengambilan sebagian jaringan payudara dari area yang dicurigai sel kanker untuk kemudian diperiksa di laboratorium oleh dokter spesialis patologi anatomi. Adapun biopsi merupakan pemeriksaan lanjutan setelah ditemukan gejala kanker payudara, seperti benjolan dan tumor, atau setelah pemeriksaan radiologi, seperti mammogram dan ultrasonografi (USG) payudara.

Dokter Spesialis Bedah Onkologi dari Mayapada Hospital Bandung dr Francisca Badudu mengatakan, biopsi payudara tidak selalu menunjukkan bahwa pasien menderita kanker.

“Kebanyakan hasil biopsi dari tumor bukan kanker. Namun, biopsi menjadi satu-satunya cara pasti untuk mengetahui keganasan (kanker) pada jaringan yang diambil,” ujar dr Francisca dalam keterangan pers yang diterima Kompas.com, Jumat (24/11/2023).

Dokter yang juga merupakan salah satu pionir dokter bedah onkologi perempuan di Indonesia itu menegaskan bahwa biopsi payudara tidak berbahaya dan menyebabkan penyebaran sel kanker.

Dokter Francisca menjelaskan, secara garis besar, biopsi payudara terbagi menjadi tiga.

Pertama, biopsi bedah dengan sayatan terbuka (open biopsy). Biopsi ini dilakukan dengan membuat sayatan di kulit payudara untuk pengambilan jaringan yang dicurigai.

Open biopsy dibedakan menjadi dua jenis, yakni biopsi insisi dan biopsi eksisi. Adapun biopsi insisi hanya mengambil sebagian dari area yang dicurigai, sedangkan biopsi eksisi mengambil seluruh tumor atau area yang dicurigai, termasuk sedikit jaringan normal di sekitarnya.

Open biopsy akan menimbulkan luka atau bengkak dan diperlukan jahitan untuk pemulihan pascatindakan,” ucap dr Francisca.

Kedua, biopsi dengan jarum halus atau fine needle aspiration biopsy (FNAB). Biopsi ini dilakukan dengan menggunakan jarum berongga tipis yang ditempelkan pada alat suntik untuk menarik jaringan payudara atau cairan dari area yang dicurigai dengan jumlah kecil.

FNAB kerap dilakukan pada area yang kemungkinan besar merupakan kantung berisi cairan (kista payudara).

FNAB sendiri tergolong sebagai bedah minimal invasif atau minimal luka karena sayatan yang dihasilkan akibat biopsi berukuran kecil.

“FNAB juga dapat dilakukan jika dokter tidak yakin apakah area yang terlihat pada tes radiologi merupakan kista kecil (cairan) atau massa padat,” kata dr Francisca.

Karena jaringan padat yang terambil dengan metode FNAB sedikit, lanjut dia, hasil pemeriksaan biopsi menjadi kurang akurat.

Ketiga, biopsi dengan jarum besar atau core needle biopsy (CNB). Dibandingkan FNAB, CNB menggunakan jarum berongga dengan diameter yang lebih besar untuk mengambil potongan jaringan payudara di area yang dicurigai.

Jarum tersebut dipasang pada alat yang dapat bergerak masuk dan keluar jaringan secara cepat. Jarum ini dapat mengambil inti jaringan padat lebih banyak.

Dokter Francisca mengatakan bahwa metode tersebut tergolong bedah minimal invasif karena sayatan yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan biopsi bedah.

“Seperti FNAB, luka biopsi CNB juga minimal, tetapi hasilnya lebih akurat karena jaringan sampel yang terambil lebih banyak,” ujar dr Francisca.

Seiring dengan kemajuan teknologi, metode biopsi CNB pun berkembang. Saat ini, dunia kedokteran mulai menerapkan biopsi vakum payudara atau vacuum assisted breast biopsy (VABB).

Pada prosedur VABB, dokter akan melokalisasi area tumor terlebih dahulu dengan alat radiologi, seperti USG payudara. Kemudian, dokter akan mengambil sampel dengan alat vakum pada area tersebut.

Dokter Francisca mengatakan, teknik VABB memiliki sejumlah keunggulan, yakni luka sayat biopsi dan risiko infeksi lebih minimal, durasi tindakan lebih cepat, keakuratan lebih baik, serta pemulihan pascatindakan lebih cepat.

Dokter Spesialis Bedah Onkologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Bayu Brahma, menambahkan bahwa teknik VABB dapat diandalkan untuk kasus-kasus yang tidak memerlukan biopsi bedah, misalnya pada kasus tumor yang dicurigai jinak.

“Pada kasus tumor jinak dengan kondisi tertentu, contohnya (tumor yang) berukuran sangat kecil, VABB bahkan bisa sekaligus dilakukan untuk mengangkat tumor secara keseluruhan. Dengan demikian, pasien tidak membutuhkan operasi terbuka atau proses bedah yang lebih invasif,” jelas dr Bayu.

Selain menggunakan alat canggih, teknik VABB memerlukan keterampilan tangan dari dokter bedah onkologi yang telah menjalani pelatihan khusus. Oleh sebab itu, tidak semua fasilitas layanan kesehatan bisa mengerjakan prosedur VABB.

Baru-baru ini, dr Francisca berhasil melakukan tindakan VABB kepada seorang pasien yang mengalami keluhan benjolan di payudara sehingga membutuhkan biopsi.

“Akhirnya, pasien menjalani tindakan VABB dan mendapatkan perawatan di Mayapada Hospital Bandung, Jawa Barat,” cerita dr Francisca.

Tindakan itu, lanjut dia, juga menjadi tindakan VABB pertama di Kota Bandung karena belum ada fasilitas kesehatan lain yang bisa melakukan tindakan tersebut.

Untuk diketahui, biopsi payudara dapat dilakukan secara tepat di fasilitas layanan kesehatan unggul, seperti di pusat layanan kanker komprehensif dan terpadu Oncology Center Mayapada Hospital.

Pusat layanan tersebut menyediakan layanan komprehensif serta menyeluruh, mulai dari pencegahan, deteksi dini, diagnosis, pengobatan, hingga terapi berkelanjutan untuk tumor dan kanker.

Adapun Oncology Center Mayapada Hospital didukung oleh kolaborasi tim multispesialis dan fasilitas terkini.

Tim multispesialis yang hadir di Oncology Center Mayapada Hospital berasal dari tim multidisiplin, seperti dokter bedah onkologi, dokter penyakit dalam konsultan hematologi onkologi, dokter onkologi radiasi, dokter ginekologi onkologi, dan dokter spesialis terkait lain sesuai kebutuhan pasien.

Informasi lengkap mengenai teknik VABB dan Oncology Center Mayapada Hospital bisa Anda temukan pada tautan berikut.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau