Advertorial

Wakil Ketua DPRD Surabaya Ingin Kota Pahlawan Punya Aplikasi Khusus untuk Atasi Pengangguran

Kompas.com - 03/12/2023, 05:25 WIB

KOMPAS.com – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya Reni Astuti ingin memaksimalkan upaya digitalisasi sebagai salah satu langkah efektif untuk menekan angka pengangguran di Surabaya, Jawa Timur (Jatim).

Reni menilai, langkah tersebut sangat relevan diambil lantaran Surabaya saat ini telah berstatus sebagai smart city yang sarat dengan digitalisasi.

Sebagai informasi, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase tingkat pengangguran terbuka (TPT) Kota Surabaya pada 2022 mencapai 7,62 persen.

“Digitalisasi harus dimanfaatkan benar untuk mengentaskan pengangguran. Terlebih, kini semua layanan di Kota Surabaya juga sudah berbasis digital. Jadi, digitalisasi merupakan sebuah keniscayaan,” ujar Reni dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Sabtu (2/12/2023).

Reni menambahkan, untuk melakukan digitalisasi, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya harus memulainya dengan membuat aplikasi.

Lewat aplikasi itu, Pemkot Surabaya nantinya akan mendata para lulusan sekolah menengah atas atau kejuruan (SMA/SMK) dan usia produktif yang ada di wilayah tersebut.

“Apabila ada warga usia produktif, khususnya siswa yang sudah lulus SMA/SMK, diharapkan punya akun dan membuat profil mereka di aplikasi itu. Profilnya nanti bisa di-update sesuai perkembangannya masing-masing. Dengan begitu, Pemkot Surabaya jadi mengantongi data lengkap warga usia produktif,” jelas Reni.

Dalam aplikasi itu, lanjut Reni, masyarakat yang terdata diwajibkan untuk mengisi sejumlah informasi, mulai dari minat, bakat, kemampuan, ketertarikan, pengalaman organisasi, keinginan bidang pekerjaan, hingga passion.

Data dan profil tersebut diperlukan untuk mempermudah Pemkot Surabaya mengarahkan masyarakat ke jalur yang tepat.

Sebagai contoh, jika nantinya terdapat informasi kegiatan penting, seperti lowongan kerja, pelatihan, workshop, atau seminar, masyarakat yang terdaftar dalam aplikasi tersebut akan langsung diinformasikan sesuai minat dan bakatnya.

Adanya pelatihan yang sesuai dengan bidang yang diminati itu diharapkan dapat membuat kualitas sumber daya manusia (SDM) dan daya saing ekonomi Surabaya jadi meningkat sekaligus membantu mengurangi TPT secara signifikan.

“Misalnya, jika ada perusahaan atau investor memerlukan pekerja, Pemkot (Surabaya) bisa melihat anak yang minat atau kemampuannya sesuai kebutuhan perusahaan yang menginginkan. Selain itu, bila ada pelatihan dan sejenisnya juga akan diberitahukan. Jadi, sebelum terjun bekerja, mereka sudah memiliki keterampilan yang maksimal,” ucap Reni.

Selain digunakan Pemkot Surabaya, Reni menambahkan, aplikasi itu juga harus bisa digunakan oleh sejumlah pihak seperti perusahaan.

Hal tersebut diperlukan agar para pengusaha dapat secara langsung mengirimkan notifikasi jika suatu saat tengah membuka lowongan pekerjaan.

Dengan segala manfaat tersebut, Reni ingin nantinya warga tak perlu lagi melapor ke lurah atau camat sedang menganggur atau tidak bekerja. Sebab, ini merupakan metode lawas yang tak sesuai dengan status Surabaya sebagai smart city.

Lebih lanjut, Reni mengatakan bahwa pihaknya yakin jika Pemkot Surabaya mampu mewujudkan dorongan itu. Apalagi, Pemkot Surabaya saat ini juga telah memiliki portofolio tentang program Kader Surabaya Hebat (KSH).

Reni ingin Pemkot Surabaya mampu mewujudkan dorongan terkait digitaliasi.Dok. DPRD Surabaya Reni ingin Pemkot Surabaya mampu mewujudkan dorongan terkait digitaliasi.

 “Ini juga jadi wujud komitmen untuk memajukan daerah. Jika ada kemauan, program atau aplikasi itu pasti bisa diwujudkan. Pada akhirnya, selain TPT berkurang signifikan dan IPM meningkat, ada nilai plus lain yang bakal didapat Surabaya jika menerapkan saran dari dewan, seperti kualitas hidup manusia meningkat, daya saing dan produktivitas meningkat, serta bisa mewujudkan kemandirian ekonomi,” ucap Reni.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau