Advertorial

Sambut 2024, Kementerian LHK Tanam Ratusan Bibit Pohon di 38 Provinsi Indonesia

Kompas.com - 30/12/2023, 22:13 WIB

KOMPAS.com - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) melaksanakan kegiatan penanaman pohon secara serentak di seluruh wilayah Indonesia, Sabtu (30/12/2023).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim, pemulihan kualitas lingkungan hidup, percepatan rehabilitasi hutan dan lahan, serta pengoptimalan musim penghujan di akhir 2023 dan awal 2024.

Penanaman pohon serentak diselenggarakan dengan melibatkan masyarakat secara masif dalam kegiatan penanaman selama musim penghujan 2023/2024. Hal ini sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo (Jokowi).

Pelibatan tersebut diharapkan dapat membangkitkan motivasi dan partisipasi masyarakat dalam penanaman dan pemeliharaan pohon.

Adapun pelaksanaan penanaman pohon serentak dilakukan di setiap provinsi yang dipimpin oleh pejabat Kementerian LHK pusat dan daerah. Acara ini melibatkan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian LHK, dinas lingkungan hidup dan kehutanan (DLHK) di daerah, aparatur sipil negara, serta masyarakat.

Bibit pohon yang ditanam meliputi jenis kayu-kayuan, tanaman penghasil hasil hutan bukan kayu (HHBK), buah-buahan, dan berbagai jenis pohon serbaguna atau multi-purpose tree species (MPTS). Bibit-bibit ini diperoleh dari berbagai pusat persemaian Kementerian LHK yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk persemaian skala besar, persemaian permanen, dan fasilitas pembibitan lain.

Menteri LHK Siti Nurbaya mengatakan bahwa penanaman pohon serentak bukan hanya suatu acara seremonial, melainkan akan terus diikuti dengan kegiatan pemeliharaan.

Selain itu, lanjut Siti, Kementerian LHK juga akan terus mendorong partisipasi masyarakat luas untuk meningkatkan tutupan lahan.

“(Ini karena) keberadaan pohon dan tutupan lahan yang baik akan meningkatkan daya dukung alam, ketahanan pangan, energi, dan kesejahteraan seluruh makhluk hidup,” ujar Siti saat memimpin pelaksanaan penanaman pohon serentak di Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Jabar), Sabtu, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Kompas.com.

Pada kesempatan itu, ia juga mengingatkan bahwa dunia saat ini menghadapi triple planetary crisis. Krisis ini melibatkan perubahan iklim, polusi, dan ancaman kehilangan keanekaragaman hayati.

“Ketiga krisis ini saling terkait dan memerlukan penanganan segera dengan mengedepankan paradigma kolaborasi dan kerja sama dari semua pihak,” imbuh Siti.

Ia pun menjelaskan bahwa dampak nyata perubahan iklim sudah terasa di tingkat tapak, regional, dan global.

Pertama, mencakup keterlambatan musim tanam, kegagalan panen, peningkatan wabah dan hama tanaman, serta penurunan produktivitas tanaman.

Kedua, meliputi kenaikan permukaan air laut dan hilangnya daratan. Ketiga, peningkatan kejadian bencana hidrometeorologis. Keempat, peningkatan ancaman terhadap keanekaragaman hayati.

Menghadapi tantangan tersebut, Kementerian LHK mengajak semua pihak dan masyarakat untuk aktif menanam dan merawat pohon, serta meningkatkan tutupan lahan. Hal ini menjadi bagian dari komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi karbon dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan lain melalui inisiatif Indonesia’s Forest and Land Use Net Sink 2030.

Sejalan dengan upaya melibatkan semua pihak, pada pelaksanaan penanaman pohon serentak, dilakukan pula penyerahan Surat Keputusan (SK) Menteri LHK Nomor 1221/2023 tentang Penetapan Green Ambassador kepada 1.994 pelajar dari 1.068 sekolah di seluruh Indonesia.

Para green ambassador tersebut merupakan generasi muda yang diharapkan akan menjadi pelopor, agen perubahan, serta pemimpin masa depan yang kreatif, produktif, inovatif, dan berdedikasi untuk melestarikan lingkungan hidup dan kehutanan.

Peran para ambassador itu juga diharapkan dapat mempercepat upaya pemulihan lingkungan dan kehutanan dengan pendekatan yang lebih masif, inklusif, dan inovatif. Dengan demikian, bumi dapat kembali pulih dan nyaman untuk ditinggali oleh semua.

Siti mengatakan, upaya dalam menjaga kelangsungan bumi dan kesejahteraan manusia memerlukan lima lompatan krusial.

Hal tersebut, kata Menteri LHK, merujuk dari sebuah laporan yang terbit pada 2022, yaitu “The Earth for All – A Survival Guide for Humanity”.

Adapun lompatan-lompatan tersebut mencakup pengentasan kemiskinan, pengurangan kesenjangan, pemberdayaan perempuan, implementasi sistem pangan yang sehat untuk manusia dan ekosistem, serta perubahan sistem energi menuju efisiensi lebih tinggi dan transisi ke energi bersih.

Siti menegaskan bahwa seluruh upaya tersebut perlu diperkuat dengan pemanfaatan kecerdasan buatan, robotika, konektivitas, dan bioteknologi yang terus berkembang.

“Karena alam adalah amanah bagi kita, perlu dikelola dengan baik dengan melindungi dan merawatnya dari kerusakan. Aksi konkret penanaman pohon serentak melalui kolaborasi dan kerja sama semua pihak ini adalah salah satu upaya mewujudkan dunia yang lebih baik dan berkelanjutan. Bangun harmoni dengan alam, mulailah menanam,” ujar Siti.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau