Advertorial

Presiden Jokowi Pastikan Beras SPHP Bulog Banjiri Pasar Induk Beras Cipinang

Kompas.com - 15/02/2024, 20:44 WIB

KOMPAS.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau ketersediaan cadangan beras pemerintah yang disalurkan dalam program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur (Jaktim), Kamis (15/2/2024).

Adapun tinjauan Jokowi di lapangan guna memastikan secara langsung ketersediaan beras dalam jumlah berlimpah.

Jokowi mengatakan, Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) telah menggelontorkan beras SPHP ke Pasar Induk Beras Cipinang dengan volume besar. Untuk itu, pihaknya mengimbau masyarakat agar tidak khawatir kesulitan mencari beras dengan kualitas baik dan harga terjangkau. 

"Saya datang di Pasar Induk Cipinang untuk memastikan bahwa stok beras di sini ada. Untuk diketahui, beras dari sinilah yang didistribusikan ke ritel, supermarket, dan daerah dari Pasar Induk Cipinang. Saya ingin pastikan beras yang ada di sini tersedia dalam jumlah cukup. Saya melihat (jumlah beras) melimpah," ujar Jokowi dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis.

Lebih lanjut, Jokowi menyebut bahwa harga beras yang berada di atas harga normal saat ini disebabkan oleh belum masuknya hasil panen.

Selain itu, jalur distribusi terganggu akibat banjir di sejumlah daerah, seperti di Demak dan Grobogan.

Meski begitu, Jokowi optimistis, kendala tersebut telah diatasi lewat pengiriman dari Bulog ke daerah dan Pasar Induk Cipinang.

“Saya kira dalam seminggu-dua minggu ini, (harga) beras akan sedikit turun sambil menunggu panen. Sudah, pokoknya pasar minta berapa pun, beri (saja). Daerah minta berapa pun, beri, baik yang SPHP maupun yang komersial," ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Jokowi juga menepis anggapan bahwa kenaikan harga beras dipicu pemberian bantuan pangan dari pemerintah.

Menurutnya, pemberian bantuan pangan kepada masyarakat justru merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mengendalikan harga beras dengan meningkatkan suplai di masyarakat.

"Tidak ada hubungannya sama sekali dengan bantuan pangan beras, tidak ada hubungannya sama sekali (kenaikan) harga. Karena justru ini yang bisa mengendalikan mengingat suplainya lewat bantuan sosial (bansos) ke masyarakat sehingga justru menahan harga tidak naik. Kalau enggak, justru melompat. Ini rumus supply dan demand. Kalau suplainya diberikan dan terdistribusi dengan baik, otomatis harga akan terkendali," jelasnya.

Bulog pasok beras SPHP

Pada kesempatan sama, Direktur Utama Perum Bulog Bayu Khrisnamurti menjelaskan bahwa saat ini, pihaknya rutin memasok Beras SPHP ke Pasar Induk Beras Cipinang, retail modern, pasar tradisional, dan saluran distribusi lainnya.

Selepas kegiatan bersama presiden di Cipinang, dirinya menyempatkan untuk mengunjungi Pasar Tradisional Rawamangun dan Transmart Cempaka Putih guna melakukan pengecekan ketersedian Beras SPHP.

"Seperti yang disampaikan Presiden Jokowi stok beras SPHP di Cipinang tersedia dengan jumlah yang melimpah. Berdasarkan pantauan di Pasar Tradisional Rawamangun dan Transmart Cempaka Putih, ketersediaan beras SPHP dalam jumlah cukup. Kami akan terus menggelontorkan beras SPHP ke berbagai saluran distibusi guna memastikan kebutuhan masyarakat tercukupi,” terangnya.

Teaser:Presiden Jokowi imbau masyarakat tidak khawatir kesulitan mencari beras dengan kualitas baik dan harga terjangkau.

Tag:Bulog, Perum Bulog, Stok Beras, Pasar Induk Cipinang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau