Advertorial

Sekjen Kemendagri: Alumni IPDN Perekat NKRI, Siap Bertugas di Mana pun

Kompas.com - 27/02/2024, 20:02 WIB

KOMPAS.com – Alumni Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) memiliki peran penting dalam memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Peran tersebut diwujudkan melalui kontribusi mereka dalam menyelaraskan berbagai dokumen perencanaan, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Suhajar Diantoro saat menerima audiensi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Abdullah Azwar Anas bersama sivitas akademika IPDN di Aula Zamhir Islamie, IPDN Kampus Jakarta, Selasa (27/2/2024).

“Salah satu contoh konkretnya adalah membantu kepala daerah dalam menyusun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) agar sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN),” jelas Suhajar dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa.

Lebih lanjut, Suhajar mengibaratkan alumni IPDN sebagai perekat NKRI di dalam tubuh aparatur negeri sipil (ASN).

“Kita punya tentara dan polisi yang tersebar di seluruh Indonesia sebagai perekat NKRI. Alumni sekolah pamong ini (IPDN) diharapkan (bisa) memperkuat peran tersebut di dalam tubuh ASN,” ucapnya.

Suhajar menuturkan, IPDN memiliki sejarah panjang yang dimulai jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan sejak era Hindia Belanda. Sekolah ini telah berganti nama beberapa kali, baik sebelum maupun setelah kemerdekaan.

Setelah kemerdekaan, IPDN menjadi sekolah pertama yang didirikan untuk membantu Kemendagri mengurus pemerintahan hingga ke tingkat desa. Saat itu, IPDN masih bernama Sekolah Menengah Tinggi Pangreh Praja. Kemudian, berganti nama menjadi Sekolah Menengah Pegawai Pemerintahan Administrasi Atas.

Sejak awal didirikan, IPDN dikhususkan untuk melahirkan para pamong praja yang disiapkan menjadi aparatur pemerintahan dalam negeri. Hingga saat ini, IPDN terus membantu pemerintah dalam menyelenggarakan pemerintahan di seluruh wilayah Indonesia, baik di tengah kota maupun pulau terpencil.

“Alumni IPDN harus siap ditempatkan di mana pun, di tengah kota atau di puncak gunung, di mana pun ada rakyat yang harus dilayani,” kata Suhajar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau