Advertorial

Kisah Inspiratif Rita, Pelaku UMKM yang Naik Kelas dan Dipuji Jokowi

Kompas.com - 10/03/2024, 22:33 WIB

KOMPAS.com – Kebahagiaan menyelimuti hati Rita pada Kamis (8/3/2024). Perempuan asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, ini tidak menyangka bisa bertemu langsung dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di acara BRI Microfinance Outlook 2024 di Jakarta.

Rasa bahagia Rita semakin berlipat ganda kala produk usaha rumahannya, Kerupuk Rajungan Mama Muda, yang dipamerkan di acara itu dipuji oleh orang nomor satu di Indonesia tersebut.

Menurut Jokowi, produk dan kemasan Kerupuk Rajungan Mama Muda merupakan contoh kemajuan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Kemasan yang menarik, berbeda dari plastik biasa yang digunakan sebelumnya, membuka peluang produk ini masuk ke toko-toko ritel modern. Selain itu, pujian diberikan lantaran kerupuk rajungan milik Rita memiliki nama yang kreatif.

“Meskipun belum semuanya, kemasannya seperti ini, tetapi kemasan seperti ini sudah 46 persen yang menerapkan,” kata Jokowi.

Perjalanan inspiratif

Kisah perjalanan Rita dalam membangun usaha rumahannya tak kalah inspiratif. Pandemi Covid-19 pada 2020 memberi tantangan bagi masyarakat di daerah tempatnya tinggal, yaitu Dusun Kuri Caddi, Desa Nisombalia. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga membuka peluang baru.

“Di kampung saya, kebanyakan warga bekerja sebagai nelayan. Saat pandemi tidak ada yang beli hasil tangkapan rajungan kami. Datanglah tim dari Blue Forest Makassar ke Kuri Caddi dan memberi ide usaha agar ekonomi ibu-ibu di sini bisa berkembang dan menambah penghasilan keluarga. Karena mayoritas hasil tangkapan nelayan di sini rajungan, jadi muncul ide membuat kerupuk rajungan,” tutur Rita.

Rita dan ibu-ibu sekitar menerima ide tersebut. Dari pendampingan dan pelatihan yang diberikan Rita dan para ibu di wilayahnya berhasil memproduksi kerupuk rajungan sendiri.

Produknya tak hanya kerupuk rajungan, tetapi juga sambal ikan bete-bete, oseng-oseng ebi, sambal kerang, dan teh herbal. Proses produksinya dikerjakan secara berkelompok dengan dua orang rekan lainnya di rumah.

Pemasaran produk sudah mencapai daerah seperti Bogor, Kalimantan, Bone, bahkan Jakarta. Meskipun jumlah penjualan di wilayah tersebut masih sedikit, Rita bersyukur produknya disukai masyarakat.

Naik kelas dengan bantuan modal

Rita mendapatkan bantuan permodalan dari program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) sejak 2016. Pinjaman yang didapatkan bertahap, mulai dari Rp 2 juta hingga mencapai Rp 8 juta.

"Pinjaman ini sangat membantu mengembangkan produk dan juga kemasan," kata Rita.

Atas kerja keras dan kegigihannya, usaha Rita terus berkembang dan menjadi pelaku usaha yang naik kelas. Ia kemudian menjadi nasabah BRI dan mendapatkan pendanaan kredit usaha rakyat (KUR).

"Pinjaman BRI sekarang saya dapat Rp 35 juta, jadi sangat membantu sekali. Selain untuk mengembangkan usaha saya, juga membantu usaha suami saya yang seorang nelayan," imbuhnya.

Rita berterima kasih kepada PNM Mekaar dan BRI yang telah memberikan kesempatan modal usaha.

"Saya sangat berterima kasih kepada PNM Mekaar, terutama BRI, karena sudah membantu para pelaku UMKM kecil seperti saya memberi pinjaman dengan bunga rendah," kata Rita.

Harapan untuk masa depan

Rita berharap, produknya bisa lebih dikenal masyarakat luas, serta pemerintah dan lembaga terkait lainnya bisa lebih memperhatikan UMKM kecil, khususnya di daerah terpencil. Dengan begitu, sektor ini bisa semakin maju dan berkembang.

Kisah Rita merupakan salah satu contoh pelaku UMKM yang berhasil naik kelas berkat keberadaan Holding Ultra Mikro (UMi).

Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan bahwa Holding UMi yang dibentuk pada September 2021 telah berhasil menangani 44 juta nasabah kredit UMKM.

“Pemberdayaan itu ternyata tidak cukup hanya dengan dikasih kredit. Ada dua hal penting, yakni dikasih kredit dan didampingi, serta diajari menabung. Alhamdulillah di Holding UMi sudah punya rekening tabungan 173 juta rekening tabungan,” tambah Sunarso.

Kisah inspiratif Rita menunjukkan bahwa dengan kerja keras, pendampingan, dan akses permodalan yang mudah, UMKM di Indonesia dapat naik kelas dan menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau