Advertorial

DPRD Apresiasi Pemkot Surabaya dalam Penanganan Banjir hingga ke Kampung

Kompas.com - 20/03/2024, 21:23 WIB

KOMPAS.com - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Surabaya atas upaya yang telah dilakukan dalam menangani banjir yang terjadi di kota pahlawan.

Menurut Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Laila Mufidah, sejauh ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah berupaya melakukan penanganan banjir hingga kampung-kampung dengan membersihkan ataupun membangun gorong-gorong atau saluran.

Ia menjelaskan bahwa selama musim hujan pada 2024, skala banjir di Kota Surabaya makin menurun. Harus diakui secara bertahap, upaya Pemkot Surabaya menanggulangi banjir makin kelihatan. Wilayah yang sebelumnya menjadi langganan banjir, kini sudah terbebas dari banjir meski sejumlah wilayah saat musim hujan masih belum terbebas dari genangan.

Salah satunya yang mengejutkan adalah Surabaya Barat yang musim hujan tahun ini dilanda banjir. Padahal, segala upaya sudah dilakukan agar banjir itu tidak terulang.

“Banjir memang menjadi momok tahunan (bagi) Surabaya. Skalanya menurun kok. Genangan banjir berkurang dan durasinya juga tidak lama. Semoga impian Surabaya bebas banjir bisa terwujud sepenuhnya. Kami dukung upaya Surabaya bebas banjir ini,” kata Laila Mufidah dalam rilis yang diterima Kompas.com, Rabu (20/3/2024).

Untuk itu ia menegaskan, pembangunan saluran air dan gorong-gorong harus menjadi prioritas. Salah satu yang sudah dilakukan adalah pembangunan saluran di Jalan Manyar Kartika VIII, Kelurahan Menur Pumpungan, Kecamatan Sukolilo, Surabaya.

“Terbangunnya saluran air (sepanjang) 130 meter yang terkoneksi dengan saluran lain di Manyar Kartika itu adalah impian lama warga. Sudah bertahun-tahun, warga tersiksa dengan banjir yang selalu menghantui mereka. Tinggi genangan bisa sampai lutut di jalan kampung,” kata Laila Mufidah.

Imbau Pemkot Surabaya perhatikan hasil Musrenbangkel

Lebih lanjut ia bercerita bahwa sebelumnya, warga mengeluhkan kondisi banjir lantaran saluran yang diusulkan warga tidak segera direalisasikan Pemkot Surabaya. Warga juga sudah mengusulkan melalui musyawarah rencana pembangunan kelurahan (Musrenbangkel). Sayangnya, hal itu tidak juga direalisasikan.

Wakil ketua DPRD Kota Surabaya Laila Mufidah.Dok. DPRD Kota Surabaya Wakil ketua DPRD Kota Surabaya Laila Mufidah.

Melihat kondisi tersebut, Laila Mufidah yang ikut turun langsung mengecek kondisi kampung Manyar Kartika merasa tidak terima jika warga di sana terus dalam ancaman banjir.

“Bayangkan kalau kita tinggal di tempat yang saban tahun banjir,” kata Laila yang memahami kondisi warga.

Kemudian, Laila mendesak Pemkot Surabaya melalui dinas terkait untuk tidak menunda pembangunan saluran air di kampung tersebut. Politisi perempuan dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) peraih suara terbanyak di Dapil 3 DPRD Surabaya ini menekan dinas untuk merealisasikan pembangunan saluran air.

“Musrenbangkel yang menjadi saluran warga harus menjadi perhatian. Begitu juga masa reses, harus menjadi saluran lain untuk menampung usulan warga dalam perencanan pembangunan kota. Salah satu yang menjadi prioritas saya adalah mewujudkan kampung-kampung di Surabaya agar bebas banjir. Tentu ini bukan impian mudah karena infrastrukturnya juga rumit,” kata Laila.

Ia menegaskan, penanganan banjir memang harus menjadi prioritas perhatian. Selain ada saluran primer sekunder hingga tersier di kampung-kampung, proyek penanganan banjir juga harus menyeluruh.

“Harus dibangun semua saluran air di kota ini yang tersambung satu sama lain, bukan berdiri sendiri tanpa ada sambungan. Apalagi, saluran satu dan lain mampet,” katanya.

Hal tak disangka, pada Selasa (19/3/2024) pagi, warga mengabarkan dengan ucapan terima kasih kalau saluran air itu sudah selesai dibangun.

“Alhamdulillah sekarang sudah terealisasi. Saya ikut merasakan kebahagiaan warga. (Pada dasarnya) keberadaan saya harus memberi manfaat warga. Saat reses, warga mengeluhkan saluran air. Kemudian usulan itu dimasukkan Musrenbangkel. Sejauh usulan itu riil dan mendesak, sebaiknya Pemkot jangan menunda usulan warga ini. Jangan pernah abaikan Musrenbangkel warga,” tegas Laila.

Sementara itu, warga mengaku sangat senang karena saluran air yang mampet jadi lancar. Genangan air tak lagi menghantui mereka. Saluran air di kampung tersebut kini juga terkoneksi dengan saluran air yang lebih besar.

“Terima kasih untuk semua pihak yang sudah merealisasikan pembangunan saluran air hingga tuntas. Terima kasih Pemkot. Terima kasih Ibu Laila Mufidah,” ucap salah satu tokoh masyarakat setempat, Khasanan.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau