Advertorial

Satu Dekade Pimpin Kota Bogor, Bima Arya Bercerita Perjalanan Menata Kota Hujan

Kompas.com - 19/04/2024, 20:48 WIB

KOMPAS.com - Wali Kota (Walkot) Bogor Bima Arya genap 10 tahun memimpin Kota Bogor pada Sabtu (20/4/2024).

Sejak menakhodai Kota Hujan pada 2014, Bima berhasil mengubah dan menata wajah Kota Bogor dengan berbagai kebijakan.

Perubahan itu terangkum di dalam film dokumenter berdurasi 22 menit 26 detik di kanal Youtube Bima Arya.

Dalam film tersebut, Bima memaparkan perjalanan kepemimpinannya yang tidak mudah dalam menyelesaikan berbagai persoalan, seperti kemacetan, sampah, dan tata kota.

Bima pun mengungkapkan cara pandangnya terhadap kota kelahirannya itu, mulai soal keasrian hingga karakter orang Bogor yang someah, guyub, dan saling menyayangi.

Bima memiliki tokoh yang menjadi referensi dalam kepemimpinan. Di level nasional, ada Soekarno yang merupakan sosok pemberani, cerdas, serta visi yang kuat.

Ada pula Bung Hatta yang dikenal berpihak kepada rakyat secara ekonomi dan kesederhanaannya.

Selain itu, Bima juga menjadikan sosok BJ Habibie sebagai referensi lantaran presiden ketiga Indonesia tersebut menempatkan kepentingan nasional di atas segalanya dan membawa Indonesia memiliki kompetensi yang berbeda secara manusia.

Sementara, di lingkup Asia Tenggara, Bima mengagumi Lee Kuan Yew, perdana menteri Singapura era 1959-1990. Bima menilai, Lee Kuan Yew memiliki totalitas dan keteladanan yang mampu membangun sistem di Singapura yang begitu bersih dan profesional.

Selanjutnya, panutan yang paling terdekat adalah sosok ayahnya, Toni Sugiarto. Toni merupakan sosok idola Buma. Ayahnya merupakan seorang polisi, abdi negara, dan bersih. Bima mengaku selalu mengingat kata-kata ayahnya yang terngiang-ngiang hingga saat ini.

"Sebaik-baiknya orang adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain dan lingkungannya," ujar Bima dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Jumat (19/4/2024).

Ia merasa sudah keliling dunia, tapi belum melakukan sesuatu untuk Kota Bogor. Oleh karena itu, Bima mencalonkan diri sebagai walkot pada 2013.

“Tantangan terbesar bukan hanya sekadar mencari pekerjaan, melainkan betul-betul memperbaiki Kota Bogor yang saya sangat cintai. Perjuangan enggak mudah karena kami (kala itu) menang tipis. Apalagi, saya nonbirokrat pertama yang menjadi Walkot Bogor,” jelasnya.

Pada saat itu, ia berkomitmen dan memprioritaskan untuk mengentaskan masalah kemacetan. Dalam perjalanannya, ia berhasil menerapkan program konversi angkot 3:1 atau 3 angkot menjadi 1 bus. Tercatat, sudah ada 347 unit angkot dikonversi menjadi 49 unit Biskita.

Kemudian, Bima juga berhasil menerapkan Sistem Satu Arah (SSA) seputaran Kebun Raya Bogor pada 2016 untuk mengurai kemacetan di pusat kota.

“Saya ingin banget memberikan kenyamanan untuk warga Kota Bogor dan kok ada kaitannya dengan index of happiness. Orang yang senang jalan, aktif di ruang publik, ya, itu lebih happy-lah kesehariannya,” imbuhnya.

Bima juga menyampaikan telah membangun jogging track di Sempur, jalur pedestrian, alun-alun, hutan kota, serta taman dan bermain anak seluas 15 hektare (ha).

Ia juga meluncurkan program Bogor Tanpa Kantong Plastik (Botak), TPS3R, bank sampah, penambahan armada sampah, serta pemanfaatan sampah green economy.

Saat ini, Kota Bogor memiliki 30 TPS3R dan 124 bank sampah yang tersebar di seluruh kecamatan.

Soal pengelolaan sampah, Bima terinspirasi dari sosok Tri Rismaharini, mantan Walkot Surabaya yang memiliki sistem untuk mengelola sampah mulai dari tingkat RT.

“Ini menjadi salah satu kunci Bogor memperoleh Piala Adipura setelah 28 tahun. Jangan sampai Adipura pergi lagi. Siapa pun walkotnya, siapa pun pemimpinnya, siapa pun kepala dinasnya, Adipura harus tetap di sini,” tegasnya.

Bima percaya, Indonesia tidak memerlukan pergantian pemimpin daerah dengan gagasan yang silih berganti. Sebaliknya, Indonesia butuh pergantian pemimpin daerah yang mengedepankan konsistensi serta keberlanjutan setiap gagasan, sekecil apa pun gagasan itu.

“Sampai detik terakhir jadi Walkot Bogor, saya akan pastikan siapa pun yang akan menjadi walkot tidak membuat Kota Bogor mundur. Jangan pernah Kota Bogor mundur. Harus terus berlari, bahkan lebih kencang daripada 10 tahun ini ketika saya menjadi walkot,” kata Bima.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau