Advertorial

Laporan Ericsson ConsumerLab: Pelanggan Rumah Tangga Mulai Bergeser Gunakan FWA 5G

Kompas.com - 22/04/2024, 14:31 WIB

KOMPAS.com – Perusahaan telekomunikasi asal Swedia, Ericsson, baru-baru ini merilis laporan ConsumerLab teranyar. Laporan studi yang melibatkan 19 negara, 370 juta rumah tangga, 1,2 miliar penduduk ini berisi persepsi konsumen terkait fixed wireless access (FWA) 5G.

Dalam laporannya itu, Ericsson juga menginformasikan sejumlah alat yang dibutuhkan oleh penyedia layanan untuk menangkap peluang pada pertumbuhan FWA 5G.

Laporan tersebut juga merekomendasikan strategi positioning bisnis berbasis nilai, kinerja, dan penyesuaian untuk menjangkau berbagai segmen rumah tangga dan mendorong adopsi FWA secara efektif.

Berikut adalah temuan penting “Ericsson ConsumerLab report: Capturing the 5G FWA opportunity – A household view”.

  1. 3 dari 5 rumah tangga di Indonesia tertarik FWA 5G

Salah satu temuan utama dari laporan tersebut adalah pergeseran pelanggan rumah tangga ke FWA 5G ketimbang jenis konektivitas lain. Tujuh dari 10 rumah tangga yang disurvei memilih menggunakan FWA 5G untuk menggantikan jaringan internet mereka sebelumnya.

Antusiasme serupa juga ditemukan pada rumah tangga Indonesia. Tiga dari lima rumah tangga mengaku tertarik terhadap teknologi FWA 5G. Setengah dari rumah tangga tersebut bersedia meningkatkan biaya bulanan untuk mendapatkan akses ke layanan FWA 5G.

Kemudian, 1 dari 2 rumah tangga bahkan siap menaikkan biaya bulanan mereka hingga lebih dari 10 persen untuk mendapatkan jaringan internet cepat tersebut.

Hal itu menunjukkan kesiapan investasi yang signifikan dari konsumen Indonesia untuk mendapatkan opsi konektivitas yang lebih canggih.

Selain itu, Ericsson ConsumerLab juga mengungkapkan poin data tentang preferensi dalam memilih FWA, seperti pemahaman tentang jaringan 4G dan 5G FWA, serta hambatan yang menghalangi rumah tangga memilih jenis koneksi tersebut.

  1. Keunggulan FWA

Laporan Ericsson ConsumerLab juga menunjukkan sejumlah keunggulan FWA ketimbang solusi internet berbasis kabel, yakni fleksibilitas, penyesuaian, dan kemudahan instalasi. Selain itu, FWA juga hanya membutuhkan investasi awal yang minimum.

Keunggulan tersebut membuat FWA cocok diterapkan di wilayah perdesaan dan kepulauan yang sulit dijangkau oleh kabel tradisional. Dengan demikian, FWA dapat mengatasi masalah aksesibilitas internet dengan memperluas cakupan ke daerah yang kurang terlayani.

  1. Rumah tangga puas dengan FWA 5G

Dalam laporan Ericsson ConsumerLab, responden yang telah menggunakan FWA 5G pun menyatakan kepuasannya terkait pengalaman layanan yang meliputi waktu pengiriman, ketentuan kontrak, kualitas peralatan, dan level biaya ketimbang fiber optik.

Soal kinerja jaringan FWA 5G yang mencakup kecepatan, jangkauan dalam ruangan, keamanan, dan kapasitas, tingkat kepuasan responden pengguna FWA 5G setara dengan pengguna fiber optik.

  1. 6 segmen rumah tangga konsumen FWA

Laporan tersebut juga mengidentifikasi enam segmen rumah tangga berdasarkan minat dan kebutuhan yang berbeda terhadap FWA.

Segmen tersebut meliputi pemburu harga, pencari paket bundling, peminat kapasitas tinggi, peminat konektivitas tinggi, pencari kemudahan, dan pengguna aktif seluler.

Ilustrasi bekerja dari rumah. Dok. Ericsson Ilustrasi bekerja dari rumah.

Dengan berbagai temuan tersebut, laporan Ericsson ConsumerLab menawarkan wawasan untuk penyedia layanan yang menargetkan preferensi konsumen yang berbeda.

Head of Fixed Wireless Access Ericsson Networks John Yazlle mengatakan, penggunaan layanan 5G dari FWA saat ini merupakan salah satu yang terbesar setelah mobile broadband.

Koneksi FWA 5G diperkirakan tumbuh sekitar tiga kali lipat menjadi 330 juta layanan di seluruh dunia pada akhir 2029. Pertumbuhan ini menghasilkan pendapatan tahunan bagi penyedia layanan sebesar 75 miliar dollar AS.

Hasil studi ini memvalidasi preferensi rumah tangga untuk broadband berkecepatan tinggi dan kemudahan yang mendukung adopsi FWA 5G.

“Adanya teknologi dan jaringan 5G merupakan momen yang tepat untuk menangkap peluang besar dan menjangkau lebih dari satu miliar rumah tangga dan perusahaan yang belum terlayani secara global," ujar John dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (3/4/2024).

Untuk Indonesia, tambah John, Ericsson berkolaborasi dengan Telkomsel dan Qualcomm untuk menggelar uji coba FWA 5G menggunakan spektrum frekuensi baru 3,5 GHz dan 26 GHz. Uji coba ini telah mendapatkan izin dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).

Melalui kolaborasi tersebut, Ericsson, Telkomsel, dan Qualcomm bertujuan menghadirkan kapasitas jaringan 5G yang lebih optimal dengan latensi rendah serta memperluas jangkauan 5G, baik di wilayah pedesaan yang terpencil maupun di area kota yang padat penduduk.

Sementara itu, Head of Ericsson Indonesia Khrisna Patil menjelaskan bahwa temuan Ericsson ConsumerLab semakin menegaskan bahwa FWA merupakan solusi yang lebih efisien karena tidak memerlukan kabel fisik dan infrastruktur penunjang yang besar.

“Kami percaya, teknologi FWA dapat mendukung pemerintah untuk menyediakan layanan internet ke wilayah terpencil dan pedesaan. Sebagai pemimpin ICT global, Ericsson berkomitmen untuk menghadirkan teknologi terkini. Utamanya, jaringan FWA demi kemajuan infrastruktur digital di Indonesia,” jelas Khrisna.

Unduh laporan “Ericsson ConsumerLab report: Capturing the 5G FWA opportunity – A household view” di sini.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau