Advertorial

Ribuan Marbot Mushala dan Penjaga Rumah Ibadah di Surabaya Dapat Honor, Wakil Ketua DPRD Surabaya: Harus Tambah Giat

Kompas.com - 23/04/2024, 20:27 WIB

KOMPAS.com - Sebanyak 1.945 marbot mushala dan penjaga rumah ibadah di Kota Surabaya, Jawa Timur (Jatim), mendapatkan honor bulanan sebesar Rp 400.000.

Adapun penyerahan honor dilakukan secara bertahap di seluruh wilayah Surabaya. Untuk pembagian gelombang awal, salah satunya dilakukan di Kantor Kecamatan Sawahan, Senin (23/4/2024).

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya Laila Mufidah yang hadir untuk meninjau langsung pencairan honor tersebut pun meminta kepada para marbot agar semakin giat dalam bertugas.

“Harus tambah giat. Jangan dilihat dari nilainya, tapi semangat pemerintah Surabaya untuk memberi perhatian kepada warganya yang harus diapresiasi. DPRD juga ikut senang karena kami yang menginisiasi program pemberian honorarium marbot hingga bisa terealisasi hari ini,” ujar Laila dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (23/4/2024).

Laila berharap, para marbot dan penjaga rumah ibadah juga tambah bersemangat saat membersihkan tempat ibadah sehingga umat yang beribadah merasa nyaman dan betah.

Pasalnya, kebersihan rumah ibadah harus menjadi prioritas karena menunjukkan karakter dan wajah agama serta Kota Surabaya.

Bagi Laila, marbot yang membersihkan mushala dan rumah ibadah di Surabaya selalu menunjukkan keikhlasan.

Hal itu terlihat dari ketulusan mereka yang bekerja tanpa pamrih meski tidak ada yang menggaji sama sekali.

Bila pun ada marbot yang digaji, marbot tersebut umumnya berasal dari masjid-masjid yang besar.

“Mereka adalah wajah-wajah surga yang dengan tulus mengurus tempat ibadah. Mereka bekerja, mulai dari membersihkan masjid secara rutin hingga mencari pekerjaan serabutan. Wajah mereka telah mengetuk kami untuk terus memperjuangkan hak mereka,” kata Laila.

Laila menambahkan, usulan pemberian honor kepada marbot juga tak lepas dari sejumlah profesi yang telah mendapatkan upah bulanan dari pemerintah terlebih dahulu, seperti modin, kader kesehatan, hingga rukun tetangga (RT).

Hal itulah yang mendorong Laila dan pihaknya mengupayakan agar para marbot mendapatkan apresiasi serupa.

“Kami terus mendorong Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi untuk memberi penghargaan kepada para marbot. Selama ini, mereka bertugas untuk umat. Akhirnya, Pak Wali pun bisa memahami dan masalah honor bisa terealisasi,” ucap Laila.

Sebagai informasi, saat ini, terdapat belasan ribu marbot dan penjaga rumah ibadah di seluruh Surabaya. Namun, baru 1.945 orang yang terdaftar sebagai penerima honor.

Oleh karena itu, para marbot yang belum terdaftar akan didata secara bertahap.

Adapun dari jumlah 1.945 marbot yang sudah terdata, sebanyak 1.600 adalah marbot muslim dan 345 sisanya adalah penjaga tempat ibadah non-muslim.

Untuk bisa mendapatkan honor bulanan, para marbot dan penjaga rumah ibadah harus diseleksi dan lolos administrasi terlebih dahulu.

Salah satu syarat utama untuk bisa mendaftar adalah memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Kartu Keluarga (KK) yang berdomisili di Surabaya.

Kemudian, mereka juga diharuskan untuk mengajukan pendaftaran lewat aplikasi yang sudah disiapkan Bagian Kesra Pemkot Surabaya.

“Kami akui, belum semua marbot bisa ter-cover. Namun, kami akan terus mengupayakan tambahan kuota setiap tahun. Asalkan memenuhi kualifikasi. Tentu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Surabaya juga terbatas dan tidak hanya untuk honor marbot. Namun, kami akan terus memperjuangkan hak marbot,” tutur Laila.

Kasmidi yang merupakan salah satu marbot mushala di Simo Sidomulyo, Kecamatan Sawahan, mengaku senang dan bersyukur bisa mendapatkan tambahan penghasilan dan perhatian dari DPRD Kota Surabaya serta Pemkot Surabaya.

Meski nilainya tidak banyak, tapi honor itu dinilainya sudah sangat membantu.

“Daripada tidak ada honor sama sekali seperti selama ini. Saya selama ini berjualan nasi geprek. Alhamdulillah, bisa untuk tambahan pendapatan dan bisa dipastikan. Selama ini, kami belum pernah menerima honor bulanan dari siapa pun. Ini menjadi penyemangat kami untuk bertugas menjadi marbot di mushala,” kata Kasmidi.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau