Advertorial

Manfaatkan Momentum Panen Raya, Bulog Serap 30.000 Ton Gabah per Hari

Kompas.com - 02/05/2024, 14:45 WIB

KOMPAS.com - Memanfaatkan momentum panen raya yang sedang berlangsung di beberapa daerah di Indonesia, Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) sebagai mitra pemerintah bergerak cepat untuk melakukan penyerapan gabah dan beras sebanyak-banyaknya.

Langkah tersebut diambil sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketahanan pangan dengan memastikan ketersediaan stok beras nasional dari hasil produksi dalam negeri.

Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk mengoptimalkan penyerapan gabah dan beras dalam negeri selama periode panen raya.

Menurutnya, pemenuhan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) melalui penyerapan gabah dan beras dari dalam negeri pada masa panen raya merupakan prioritas pemerintah saat ini.

Secara tahunan (yoy), penyerapan gabah dan beras dalam negeri meningkat selama tiga tahun terakhir. Per April 2024, penyerapan komoditas tersebut mencapai 468.000 ton setara Gabah Kering Panen (GKP).

“Saat ini, dengan upaya yang kami lakukan, Bulog dapat menyerap hingga 30.000 ton setara GKP setiap harinya, dibandingkan dengan rata-rata sebelumnya 20.000 ton. Ke depannya, hasil serapan (gabah dan beras) akan terus kami tingkatkan secara optimal,” ujar Bayu dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (2/5/2024).

Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi menegaskan bahwa pihaknya terus memantau kinerja Bulog dalam penyerapan hasil panen gabah dan beras dalam negeri.

Hal itu ia sampaikan dalam agenda kunjungan kerja “Monitoring Ketersediaan Stok Gabah dan Beras” di Gudang Bulog Purwomartani, Sleman dan Sentra Penggilingan Padi (SPP) Bulog, Sragen, Senin (29/4/2024).

Ia menekankan bahwa langkah penyerapan yang dilakukan Bulog merupakan upaya untuk memenuhi stok pangan nasional saat ini dan di masa depan.

"Momentum panen raya ini sangat penting. Sebab, panen raya pada semester pertama menyumbang hingga 70 persen dari total produksi nasional, terutama di sentra-sentra padi, seperti di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Ini juga menjadi atensi Presiden Joko Widodo bahwa kami harus memanfaatkan produksi dalam negeri seoptimal mungkin dan meminimalkan impor," jelasnya.

Pada kesempatan sama, Direktur Rantai Pasok dan Pelayanan Publik Perum Bulog Suyamto menambahkan bahwa salah satu strategi yang dilakukan Bulog untuk mempercepat penyerapan hasil gabah dan beras adalah dengan menggelar program Jemput Gabah Beras di setiap wilayah surplus produksi.

“Kami juga terus berkoordinasi dengan kelompok tani, unit penggilingan, dan mitra kerja pengadaan untuk mencapai hasil serapan yang maksimal pada momentum panen raya ini," tuturnya.

Lebih lanjut, Suyamto menegaskan bahwa Bulog sebagai perusahaan pangan pemerintah yang bertugas melakukan penyerapan dan pengelolaan stok pangan nasional berupaya secara aktif dengan turun langsung ke lokasi panen.

“Bulog senantiasa melakukan sinergi dengan para pelaku usaha perberasan guna melakukan penyerapan hasil produksi gabah dan beras dalam negeri,” tukasnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau