Advertorial

Lewat BRI Peduli - BRInita, Kelompok Dasawisma Pisang di Palembang Sulap TPS Liar Jadi Urban Farming yang Bernilai Ekonomis

Kompas.com - 23/05/2024, 15:54 WIB

KOMPAS.com – Di tengah dinamika perkotaan yang terus berkembang, urban farming hadir sebagai solusi kreatif untuk memanfaatkan lahan-lahan terbengkalai, termasuk lahan-lahan tempat pembuangan sampah (TPS) liar.

Kini, urban farming tidak sekadar menyediakan pangan lokal yang sehat, tetapi juga memberikan potensi ekonomi signifikan bagi masyarakat perkotaan. Hal ini turut dirasakan oleh warga di Kelurahan Sungai Pangeran, Palembang, Sumatera Selatan (Sulsel) yang sukses menyulap lahan terbengkalai menjadi lahan hijau produktif.

Ketua Kelompok Dasawisma Pisang RT 17 Kelurahan Sungai Pangeran Palembang Yusraenati menceritakan, pembenahan TPS liar yang menimbulkan dampak pencemaran lingkungan menjadi lahan hijau merupakan langkah inovatif dan edukatif untuk menciptakan lingkungan lebih hijau dan sehat.

Inisiatif yang dijalankan oleh Kelompok Dasawisma Pisang tersebut tidak lepas dari bantuan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI lewat program corporate social responsibility (CSR) BRI Peduli Bertani di Kota atau BRInita.

“Dalam program itu, BRI memberikan berbagai bantuan fasilitas dan infrastruktur urban farming bagi Kelompok Dasawisma Pisang yang berjumlah 16 orang,” ujar Yusraenati dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (23/5/2024).

Selain bantuan infrastruktur, program BRInita juga memberikan berbagai bantuan lain guna meningkatkan kapasitas serta kapabilitas kelompok Dasawisma Pisang. Bantuan itu di antaranya pelatihan cara menanam hidroponik, pelatihan budidaya ikan, dan pelatihan pembuatan eco-enzyme (POC).

“Kami senang bisa mendapatkan pelatihan mengenai cara-cara bercocok tanam dengan sistem hidroponik ataupun cara pembudidayaan ikan lele dengan baik,” kata Yusraenati.

Atas inisiatif yang dijalankan secara konsisten oleh Kelompok Dasawisma Pisang, berbagai manfaat pun mulai terasa untuk warga secara keseluruhan, mulai dari manfaat secara ekonomi hingga kelestarian lingkungan sekitar.

Area pemukiman yang sebelumnya merupakan lokasi penimbunan sampah di atas sungai itu, misalnya, kini tidak lagi berbau sampah dan lebih nyaman. Dengan begitu, daya tarik warga lokal akan lingkungan mereka pun meningkat.

Selain itu, produktivitas lingkungan pun bertambah dan memberikan nilai ekologis bagi warga Sungai Pangeran. Alhasil, area yang dulu terbengkalai, kini sudah menjadi sarana edukasi, rekreasi, serta relaksasi bagi warga sekitar.

Dengan kata lain, manfaat dari program BRInita yang dirasakan oleh warga Sungai Pangeran merupakan dampak dari menjalani hidup seimbang dengan alam.

Tak hanya itu, hal tersebut juga menunjukkan bahwa upaya menjaga keseimbangan ekosistem dan menggunakan sumber daya alam secara bijaksana dapat memberikan manfaat besar.

Sebagai informasi, urban farming yang dijalankan sejak Mei 2023 itu dimulai dengan pembangunan fasilitas BRInita serta pemberian 200 benih lele untuk dibudidayakan. Kelompok Dasawisma Pisang juga sudah menghasilkan empat kali panen sayuran, yakni bayam brasil, pakcoy, selada, bawang merah, sawi, cabai, dan kangkung, empat kali panen ikan lele, serta delapan produk olahan.

Kelompok Dasawisma Pisang pun telah melakukan panen sayur hingga 67,35 kilogram selama Juni hingga September 2023. Mereka juga telah melakukan panen lele hingga 35 kilogram.

Selain secara ekonomis, program tersebut juga mendorong peningkatan keahlian bagi Kelompok Dasawisma Pisang dalam budidaya ikan lele dan hidroponik.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada BRI melalui BRInita yang telah mendukung kami secara maksimal dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sekitar,” ujar Yusraenati.

Sejalan dengan SDG’s

Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto mengungkapkan bahwa program BRInita yang dilaksanakan oleh Kelompok Dasawisma Pisang Palembang telah sejalan dengan Sustainable Development Goal (SDG’s).

Program tersebut dirancang untuk menjaga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkesinambungan, menjaga keberlanjutan sosial masyarakat, serta menjaga kualitas lingkungan hidup dan pembangunan yang inklusif dari generasi ke generasi.

Secara langsung, urban farming di Sungai Pangeran menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan meningkatkan produktivitas sektor pertanian serta perikanan di lahan sempit perkotaan.

Urban farming juga menciptakan alur produktivitas serta konsumsi yang berkelanjutan dari olahan tanaman hidroponik dan budidaya ikan.

Tak hanya itu, berkat kolaborasi yang kuat antara Kelompok Dasawisma Pisang dengan BRI Peduli BRInita, pemanfaatan bekas area pembuangan sampah di atas aliran Sungai Pangeran guna mencegah pencemaran lingkungan dan membuka potensi urban farming BRInita yang produktif pun terwujud.

“Program itu tidak hanya (dilakukan) di satu titik, tetapi di 21 titik di Indonesia. Semoga program ini berjalan secara konsisten sehingga menjadi wadah positif bagi masyarakat. Kisah inspiratif yang ditunjukkan oleh Kelompok Dasawisma Pisang diharapkan dapat ditiru oleh kelompok-kelompok lainnya,” tegas Catur.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau