Advertorial

Festival Rujak Uleg, Laila Mufidah: Ajang Edukasi untuk Memperkenalkan Kekayaan Kuliner Tradisional

Kompas.com - 27/05/2024, 18:07 WIB

KOMPAS.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sukses menggelar Festival Rujak Uleg 2024 di Taman Surya, Balai Kota Surabaya, Minggu (19/5/2024).

Acara yang mengusung tema “The History of Rujak Cingur” ini dihadiri oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Surabaya, perguruan tinggi, serta delegasi dari berbagai negara.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya Laila Mufidah, menyatakan bahwa acara tahunan "Festival Rujak Uleg" menjadi sarana untuk lebih mengenalkan kekayaan kuliner tradisional kepada generisi muda di wilayah setempat.

"Acara Festival Rujak Uleg yang rutin digelar setiap tahun tersebut bisa memberikan pengetahuan kepada anak-anak muda," kata Ning Laila, sapaan akrabnya, seusai menghadiri Festival Rujak Uleg, dalam rilis yang diterima Kompas.com, Senin (27/5/2024).

Ning Laila menambahkan bahwa melalui proses edukasi ini, kesadaran anak muda terhadap kuliner tradisional bisa tumbuh. Dengan begitu, ke depannya mereka dapat aktif terlibat dalam upaya pelestarian rujak uleg.

"Jangan sampai makanan khas Kota Surabaya hilang. Semakin banyak yang terjun ke kuliner, rujak uleg akan tetap terjaga," ujarnya.

Lebih lanjut, pelestarian rujak uleg juga mampu menimbulkan dampak positif bagi perekonomian para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) kuliner ataupun industri pariwisata di Surabaya.

Kuliner menjadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan, baik dalam maupun luar negeri. "Kalau masyarakatnya berdaya, pengangguran terus turun dan kemiskinan bisa dientaskan," ucapnya.

Sementara itu, Ning Laila menuturkan bahwa DPRD bersama Pemkot Surabaya terus mengevaluasi pelaksanaan Festival Rujak Uleg sehingga ke depannya, muatan dan tampilan acara semakin kaya.

"Kami upayakan ini efektif, supaya masyarakat bisa terus menikmati dan berpartisipasi," kata dia.

Sebagai informasi, Festival Rujak Uleg menjadi salah satu rangkaian acara menyambut Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-731 yang diperingati setiap tanggal 31 Mei. Laila pun berharap, bertambahnya usia Ibu Kota Jawa Timur (Jatim) bisa menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.

"Surabaya tambah maju, kondusif, dan masyarakatnya berdata. Sekarang stunting sudah turun, kemiskinan bisa ditangani lebih baik," kata Laila Mufidah.

Pemkot Surabaya menyajikan 731 porsi rujak uleg. Jumlah porsi rujak uleg yang disuguhkan kepada masyarakat kali ini disesuaikan dengan angka peringatan HJKS ke-731.

Selain itu, ada 800 porsi rujak uleg yang disajikan dan dibagikan oleh 432 peserta Festival Rujak Uleg 2024 kepada ribuan pengunjung.

Ia menerangkan, tema Festival Rujak Uleg akan berbeda di setiap tahunnya. Perbedaan tema itu tidak hanya untuk menarik minat masyarakat, tetapi juga dilihat dari segi venue yang digunakan.

“Kapasitas di masing-masing tempat itu berbeda. Kalau di balai kota, bisa menampung sekitar 8000 lebih pengunjung. Kalau kami mengenang Kota Lama, maka akan kembali ke Kota Lama, tetapi kalau temanya berbeda, bisa di Balai Kota. Jadi, tema akan mempengaruhi tempat. Nah, kalau di Kya-Kya kelihatannya penuh tapi (kapasitasnya) tidak sepenuh di Balai Kota,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, mengatakan bahwa pihaknya mulai menyusun kajian untuk menambah gelaran festival kuliner, salah satunya yang diproyeksikan adalah "sambelan".

"Orang Surabaya ini suka sambelan, nanti makanan khas Surabaya juga ditampilkan. Kami upayakan itu masuk tahun depan," kata Eri.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau