Advertorial

Berkat KUR BRI, Produsen Keripik Kulit Ikan Ini Sukses Kembangkan Usahanya Hingga Mendunia

Kompas.com - 06/06/2024, 13:49 WIB

KOMPAS.com - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus konsisten dalam memberikan dukungan permodalan dan pendampingan usaha kepada pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Salah satu UMKM penerima bantuan BRI adalah usaha keripik kulit ikan dari Pringsewu, Lampung. Pemilik usaha, Ravie Cahya Ansor, mengatakan bahwa pembiayaan serta pendampingan dari BRI dapat mendorong kapasitas usaha pelaku UMKM.

Pada 2018, Ravie mengamati camilan keripik kulit ikan (fish skin) buatan Singapura yang sangat laris dan banyak disukai oleh masyarakat Indonesia. Lantas, ia berencana untuk membuat versi lokalnya dengan memakai bahan-bahan dari buatan lokal, seperti kulit ikan yang dibeli dari Tanjung Bintan, Lampung serta bumbu tambahan yang dibeli dari Banten.

“Kemudian, hasilnya kami kemas dengan merek Rafins Snack. Lalu kami pasarkan dengan harga Rp 23.000 untuk kemasan 70 gram (gr),” ujar Ravie selaku Chief Executive Officer (CEO) serta sektor Research and Development (R&D) Rafins Snack.

Menyimak kondisi permodalan serta melakukan serangkaian riset, Ravie mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI. Adapun peruntukan nominal kredit yang dikeluarkan KUR tersebut dibaginya ke berbagai pos dalam manajemen bisnisnya, seperti biaya perizinan, marketing, sampai pengadaan fasilitas pembuatan produk.

“Angka tertinggi justru di sektor perizinan, seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Kami mengejar pengesahan ini karena penting untuk menunjukkan kualitas produk. Selanjutnya, untuk produksi dan kebutuhan biaya lebih fleksibel,” ucap Ravie.

Selain menjual keripik kulit ikan yang merupakan produk andalan dari Rafins Snack, Ravie mengungkapkan bahwa usahanya tengah melebarkan sayap ke berbagai produk, yakni Banana Choco, Banana Cheese, Taro Talas, Potato, Cassava Singkong, sampai Keripik Nangka.

“Selain itu, kami juga memiliki produk yang bercita rasa gurih. Salted egg salah satu seasoning andalan dari produk kami,” ujarnya.

Merambah pasar ekspor

Ravie menambahkan, dalam penjualan produk, ia memasarkan di dalam maupun di luar negeri. Untuk penjualan di dalam negeri, meliputi area Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek), Malang, Surabaya, dan Medan.

Adapun untuk pasar ekspor, lanjut Ravie, merambah Turki, Mesir, Kanada, Malaysia, serta permintaan dari Oslo, Norwegia dan Den Haag, Belanda.

“Terbukanya peluang ekspor ini melalui dua cara, yakni kami bawa sendiri ke pameran-pameran dunia, seperti Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Atase Pertahanan (Athan). Melalui cara ini, pasar kami sudah terbentuk, salah satunya di Mesir yang sudah terbentuk mulai 2022,” ujar Ravie.

Sementara itu, untuk cara yang kedua, adalah melalui diaspora warga Indonesia yang tinggal di luar negeri. Skemanya melalui pengiriman ke pihak diaspora atau metode beli putus.

Omzet dari penjualan keripik, sebut Ravie, cukup membanggakan. Selama pandemi Covid-19, penjualannya bahkan berhasil melonjak 2-3 kali dari kondisi normal.

“Estimasi penjualan kami pada masa normal sekitar 7.000 – 10.000 pieces per bulan. Kini, kami berada dalam kondisi normal akan tetapi tetap semangat memasarkan dan melakukan kreasi untuk pemasaran atau penjualan agar dapat meningkat kembali, termasuk mengadakan perluasan pasar,” imbuhnya.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengatakan, BRI selalu konsisten dalam memberikan dukungan permodalan bagi pelaku UMKM serta memberikan pendampingan usaha dalam pengembangan produk hingga upaya digitalisasi pelaku UMKM.

“Kisah produsen sekaligus pelaku UMKM keripik kulit ikan ini menjadi salah satu contoh bagaimana pembiayaan yang diberikan serta pendampingan usaha yang kami berikan dapat mendorong kapasitas usaha pelaku UMKM,” ujar Supari.

Perlu diketahui, BRI merupakan bank di Indonesia yang menjadi salah satu penyalur KUR terbesar. Jumlah penyaluran KUR pun terus meningkat setiap tahunnya.

Sepanjang Januari hingga April 2024, BRI berhasil menyalurkan KUR senilai Rp 59,96 triliun kepada 1,2 juta debitur. Pencapaian tersebut setara 36 persen dari target penyaluran KUR yang di-breakdown pemerintah kepada BRI pada 2024, yakni sebesar Rp 165 triliun.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau