Advertorial

Komitmen terhadap Isu SGDs, BRI Raih Penghargaan Platinum di Ajang BISRA 2024

Kompas.com - 08/07/2024, 20:42 WIB

KOMPAS.com – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI meraih penghargaan Platinum dalam ajang Bisnis Indonesia Corporate Social Responsibility Awards (BISRA) 2024 yang digelar pada Kamis (27/6/2024). Penghargaan ini diberikan untuk salah satu program unggulan BRI, yakni "Yok Kita GAS–Gerakan Anti Sampah".

Sebagai informasi, BISRA adalah ajang penghargaan bagi perusahaan yang berkomitmen dalam penyelenggaraan program corporate social responsibility (CSR).

Penghargaan tersebut mendukung implementasi CSR yang efektif, berdampak luas, berkelanjutan, dan berkontribusi pada percepatan pencapaian sustainable development goals (SDGs).

Oleh karena itu, pemberian penghargaan itu diharapkan dapat memotivasi setiap perusahaan untuk memberikan kontribusi lebih besar kepada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan lingkungan hidup.

Melalui program BRI Peduli selaku payung dari program CSR, perseroan dinilai terus menunjukan komitmen dan dukungannya terhadap isu SGDs.

Komitmen tersebut ditunjukkan melalui dukungan terhadap upaya-upaya pemerintah dalam menjaga kelestarian ekosistem lingkungan dan memerangi perubahan iklim.

Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto mengatakan, penghargaan dari BISRA 2024 pada program unggulan Yok Kita GAS – Gerakan Anti Sampah adalah wujud nyata dukungan BRI kepada pemerintah dalam mengatasi persoalan sampah di berbagai wilayah di Indonesia.

Raihan itu tak lepas dari peran dan kontribusi program BRI Peduli yang membantu menggerakkan roda perekonomian nasional serta pelaksanaan Program Bina Lingkungan.

“Kami menyambut baik apresiasi ini dan tentunya sebagai wujud nyata BRI dalam mendukung kelestarian lingkungan dan memerangi perubahan iklim. BRI Peduli Yok Kita GAS secara nyata telah memberikan dampak bagi masyarakat di berbagai wilayah, baik dari sisi sosial, ekonomi, maupun lingkungan”, ujar Catur dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (8/7/2024).

Catur menambahkan, sejak digulirkan pada 2021, program BRI Peduli Yok Kita GAS - Gerakan Anti Sampah telah dilaksanakan di 41 lokasi di berbagai wilayah di Indonesia yang terdiri dari enam tempat di pasar tradisional dan 35 lokasi di lingkungan masyarakat.

Manfaat program tersebut dirasakan oleh masyarakat yang ada di wilayah padat pemukiman atau wilayah kota adalah mendapatkan wawasan tentang kondisi pengelolaan sampah.

Berkat itu, kesadaran mereka terhadap lingkungan jadi semakin meningkat. Mereka juga mendapatkan keterampilan dalam memilah sampah dari rumah sehingga mampu mengatasi persoalan sampah dari rumah tangga.

Hadir dalam dua bentuk program

Dalam pelaksanaannya, program BRI Peduli Yok Kita GAS diimplementasikan dalam dua bentuk. Salah satunya, Yok Kita GAS – Gerakan Anti Sampah melalui Pasar Tradisional.

Kemudian, ada juga Yok Kita GAS – Gerakan Anti Sampah Stand Alone Location. Penyaluran program dilakukan di lokasi bank sampah atau tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) di lokasi padat penduduk yang pengelolaannya dilakukan oleh masyarakat setempat.

“Kami melakukan pengelolaan sampah terintegrasi dengan pembentukan bank sampah, pengelolaan sampah organik menjadi pupuk dengan maggot, dan penjualan sampah anorganik untuk mendorong pendapatan masyarakat. Ini juga untuk menumbuhkan pola pikir dan mental masyarakat agar gemar menabung melalui program bank sampah,” kata Catur.

Dari sisi sosial, tambah Catur, masyarakat juga diberikan edukasi tentang pengelolaan sampah dan pelatihan-pelatihan, seperti pelatihan pengelolaan sampah, pembuatan laporan, pembukuan, manajemen SDM, dan pemakaian alat-alat pengelolaan sampah.

program BRI Peduli Yok Kita GAS - Gerakan Anti Sampah telah dilaksanakan di 41 lokasi di berbagai wilayah di Indonesia. Dok. BRI program BRI Peduli Yok Kita GAS - Gerakan Anti Sampah telah dilaksanakan di 41 lokasi di berbagai wilayah di Indonesia.

Sebanyak 3.065 pedagang pasar di berbagai wilayah tercatat telah mengikuti sosialisasi tentang bank sampah dan pengelola sampah di pasar.

Dari sisi lingkungan, Gerakan Anti Sampah Yok Kita GAS juga mengedukasi masyarakat mengenai pemilahan sampah, baik organik maupun anorganik.

Sampah anorganik sendiri dapat diolah lagi menjadi barang-barang bernilai ekonomis. Dalam mendukung pengelolaan sampah tersebut, BRI Peduli tercatat telah menyalurkan 11 unit mesin pencacah sampah organik, 173 bak maggot komunal, dan 50 unit kandang black soldier fly (BSF).

Hingga saat ini, BRI bersama masyarakat sudah berhasil mengumpulkan sebanyak 236.153 kg sampah organik, 471.32 kg sampah anorganik di bank sampah, dan 6.921,5 maggot yang terjual.

Secara keseluruhan, BRI berhasil mencatat sebanyak 3.962,063 kg CH42 Eq metan dan 34.739,868 kg Co2 Eq karbon tereduksi melalui bank sampah.

Program tersebut juga telah memproduksi 388.843 kg pupuk kompos, 777 eco enzyme, dan 843 pupuk organik cair.

Dari segi ekonomi, Gerakan Anti Sampah Yok Kita GAS berhasil mengubah cara pandang masyarakat tentang mengubah sampah jadi uang.

Sampah anorganik kini mereka cacah menggunakan alat pencacah sampah yang disediakan BRI. Setelah dicacah, sampah pun dijual kepada pengumpul sampah dan masyarakat memperoleh pendapatan.

Dari upaya itu, tercatat total tabungan masyarakat yang melakukan penukaran sampah jadi duit di bank sampah telah mencapai lebih dari Rp 100 juta dengan jumlah nasabah bank sampah terdaftar sebanyak 8.699 nasabah.

Pada program BRI Peduli, BRI juga bekerja sama dengan konsultan dalam pendampingan program selama 6 bulan, membangun infrastruktur TPST, pengadaan mesin pengelolaan sampah organik dan anorganik, dan melakukan sosialisasi awareness tentang pengelolaan sampah ke pedagang pasar.

Selanjutnya, melakukan pembagian kantong sampah terpilah ke pedagang pasar, mengadakan pelatihan pengelolaan sampah organik dan anorganik, serta melakukan pendampingan program pemberdayaan SDM berupa pembukuan (administrasi), pemasaran program Bank Sampah, serta pemakaian alat-alat pengelolaan sampah.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau