Advertorial

DPRD Dorong Pemkot Surabaya Kembangkan Wisata Air untuk Dongkrak Pariwisata

Kompas.com - 18/07/2024, 16:34 WIB

KOMPAS.com - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya terus mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk menggali dan memaksimalkan potensi pariwisata yang dimiliki Kota Pahlawan.

Dorongan tersebut diberikan menyusul kesuksesan Pemkot Surabaya dalam mengembangkan dan mengenalkan Kota Lama sebagai salah satu ikon pariwisata Surabaya, Jawa Timur (Jatim).

Kali ini, DPRD Kota mendorong Pemkot Surabaya agar mengembangkan wisata air karena punya potensi yang cukup besar.

Surabaya sendiri memiliki sejumlah jembatan dan sungai yang cukup legendaris. Salah satunya adalah Jembatan Petekan yang berada di daerah Perak. Jembatan ini dibangun pada 1900 dan disebut sebagai salah satu jembatan tercanggih pada zamannya.

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya AH Thony mengatakan, Surabaya pada zaman dahulu merupakan salah satu kota yang ramai lalu lintas karena dilalui banyak kapal besar dan perahu.

Jika ada kapal yang melintas, konstruksi jembatan yang memiliki nama asli Ferwerda Brug itu akan terbelah menjadi dua sehingga perahu bisa lewat di sela-selanya.

Menilik nilai sejarah tersebut, DPRD Kota Surabaya mendorong Pemkot Surabaya agar segera mengembangkan Jembatan Petekan menjadi wisata air.

“Ini peninggalan sejarah yang tak boleh dibiarkan begitu saja. Mengingat, teknologinya yang begitu canggih di zaman itu,” ujar Thony dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (18/7/2024).

DPRD Kota Surabaya, tambah Thony, telah mengajukan usulan pengangkatan kekayaan sejarah Jembatan Petekan.

Bak gayung bersambut, Pemkot Surabaya disebut sudah merencanakan pembangunan replika dari Jembatan Petekan di Wisata Kalimas.

Selain menghidupkan wisata, replika jembatan tersebut juga bakal memberikan satu fasilitas pada pihak yang ingin membayangkan peradaban masa lalu dan evolusi transportasi.

“Terpenting, penentuan posisi jembatan harus dilakukan kajian terlebih dulu. Tentu banyak pertimbangan, misalnya dari segi ekonomi dan wisata,” kata Thony.

Revitalisasi Kalimas jadi pekerjaan penting

Selain mendorong Pemkot Surabaya untuk mengembangkam Jembatan Petekan, Thony juga mendorong upaya revitalisasi Kalimas.

Revitalisasi Kalimas merupakan tindak lanjut dari revitalisasi Kota Lama yang belum lama ini diresmikan.

Revitalisasi juga dilakukan untuk mengikat berbagai kawasan yang sudah dikembangkan di wilayah itu, mulai dari zona Pecinan hingga Arab.

Menurut Thony, revitalisasi Kalimas merupakan langkah strategis karena akan menegaskan Surabaya sebagai bagian dari jalur rempah.

Selain itu, keberadaan Kalimas sisi utara dapat menjadi pengikat dari empat kawasan yang sudah direvitalisasi oleh Pemkot Surabaya.

Untuk diketahui, pada zaman dahulu, sungai selebar 20-35 meter dan panjang 12 kilometer yang membentang dari Wonokromo hingga Semampir itu merupakan jalur transportasi air utama.

“Revitalisasi agar keberadaannya (Sungai Kali Mas) bisa saling terkoneksi dan mengangkat satu sama lain. Utamanya, antara zona Arab, Eropa, Melayu, dan Pecinan. Nanti itu bisa diikat dengan jalur sungainya ini," kata Thony.

Thony berharap, revitalisasi Kalimas bisa tuntas sebelum Agustus atau September 2024. Dengan begitu, Pemkot Surabaya dapat melakukan soft launching revitalisasi Kalimas zona utara dalam waktu dekat.

Meski demikian, ia menyadari jika ada beberapa faktor yang menjadi perhatian, khususnya terkait keamanan dan kenyamanan pengunjung.

Thony juga tak ingin proses revitalisasi tidak menimbulkan masalah di kemudian hari, seperti kapal tidak layak atau lainnya.

Maka dari itu, Thony juga meminta masyarakat agar mau ikut berpartisipasi dan menangkap peluang dari rencana tersebut.

Masyarakat bisa melakukan koordinasi bersama Pemkot Surabaya dan Jasa Tirta untuk pemanfaatan fungsi sungai agar tidak muncul polemik di masa depan.

"Jadi, kita harus memikirkan juga agar apa yang dibangun Pemkot Surabaya bisa diterjemahkan lebih lanjut. Dengan begitu, multiplier effect-nya ada. Spirit itulah yang perlu dipikirkan dalam menyikapi pembangunan-pembangunan yang sudah dilakukan Pemkot," ucapnya.

Selain sebagai sarana wisata, Thony juga menyarankan untuk membuka kemungkinan terkait fungsi lain, khususnya yang dapat membangkitkan ekonomi.

Oleh karena itu, pembangunan jembatan di tempat baru dan fungsinya juga perlu dipertimbangkan

"Salah satu pertimbangannya adalah bisa jadi penghubung Pasar Pabean yang dikenal dengan pasar ikan. Lalu, kalau dibangun jembatan kira-kira kajiannya seperti apa serta kepentingan dan keterhubungan dengan pihak sebelah seperti apa. Jangan sampai saat dibangun nanti ada dari masing-masing pihak tidak sepakat. Itu perlu ada pembahasan lanjutan," tutur Thony.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau