Advertorial

Kunjungi Athala, Bocah Penderita Ginjal di Polman, Pj Gubernur Sulbar Bahtiar: Semangat Nak, Saya Akan Urus Hingga Sembuh

Kompas.com - 20/07/2024, 11:32 WIB

POLMAN - Athala Dwi Putra (6 tahun) bocah yang menderita penyakit ginjal bocor di Polman, Sulawesi Barat (Sulbar) boleh bernagas lega. Pasalnya, pekan ini anak seorang sopir angkot ini akan dirujuk ke Rumah Sakit (RS). Wahidin Sudirohusodo Makassar untuk menjalani perawatan intensif.

"Saya berterima kasih sekali ke Pak Gubernur Sulawesi Barat (Pj Bahtiar Baharuddin). Kasian sekali keluargaku, saya kasian anakku ji. Yang penting bisa sembuh" ujar Ibu dari Athala, Rezki Amalia (36) sambil terisak sedih lalu menutup wajahnya.

Rezki tak menyangka Penjabat (Pj) Bahtiar akan bertandang ke rumahnya dan menyapa langsung dirinya serta sempat mengajak Athala bercengkrama.

"Saya tidak sangka Pak (Pj) Gubernur ke sini. Mudah mudahan anakku segera sembuh kembali" lirihnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Sabtu (20/7/2024).

Untuk diketahui, Pj Gubernur Bahtiar Baharuddin sendiri mengunjungi keluarga Athala Dwi Putra di Desa Tangnga-Tangnga, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, Jumat (19/7/2024).

Adapun Athala menderita ginjal bocor sejak berumur 2 tahun, Akibat penyakit ini perut Athala pun makin hari makin membesar.

"Saya melihat dan membaca berita ada warga anaknya sakit ginjal. Makanya kita berkunjung ke sini," kata Bahtiar.


Ia menambahkan kehadirannya untuk membantu Athala mendapatkan perawatan yang baik.

"Saya sudah perintahkan Dinkes (dinas kesehatan) untuk membantu segala perobatannya. Karena fasilitas rumah sakit di Sulbar memang sangat terbatas," tambahnya.

Makanya, kata dia, nanti Athala akan dikirim ke Makassar untuk mendapatkan perawatan yang baik.

"Kita provinsi baru sangat terbatas fasilitas kesehatan. Semoga ada dukungan Kementerian Kesehatan untuk membantu Sulbar dari sektor kesehatan," ungkapnya.

Sebab, lanjut Bahtiar, rumah sakit di Sulbar belum ada tipe B masih tipe C. Makanya biasanya yang sakit tidak bisa ditangani langsung dikirim ke Makassar.

"Jaraknya ini bisa 8 sampai 9 jam lewat darat. Jadi bisa dibayangkan betapa terbatasnya infrastruktur kesehatan," ujarnya.

Namun, dia pastikan Athala mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Makanya diberikan bantuan untuk meringankan beban orang tuanya yang merupakan guru honorer.

"Sabtu 20 Juli 2024 akan dikirim ke Makassar. Saya kira ini menjadi perhatian kita bahwa soal kesehatan perlu diperhatikan," paparnya.

Saat Bahtiar tiba di rumah, Athala kelihatan sumringah. Ia pun sempat bercengkrama dengan Pj Bahtiar sekitar 15 menit sambil ketawa

"Sehat nak yah. Tetap semangat. Saya akan mengurus hingga sembuh. Di sini ada Pak Bupati Polman, Kadis Kesehatan Sulbar. Di Makassar lengkap. Bapak saya juga pernah ginjal lalu dirawat di RS Makassar. Insya Allah sembuh," kata Bahtiar kepada Athala.

Sebelumnya, viral di media diberitakan bahwa Athala Dwi Putra hidup dalam kondisi memprihatinkan. Athala yang menderita ginjal bocor membuat perutnya makin hari makin membesar.

Meski masih berusia belia, Athala Dwi Putra berusaha tetap tegar dengan kondisinya saat ini. Kondisinya semakin memilukan sebab faktor ekonomi kedua orangtuanya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau