Advertorial

Seru! Pejabat Pemkab Klaten Jadi Pelakon Pertunjukkan Ketoprak “Hadeging Klaten”

Kompas.com - 10/08/2024, 19:00 WIB

KOMPAS.com – Suasana di kompleks Gedung Sunan Pandanaran, Kabupaten Klaten, terasa berbeda pada Jumat (9/8/2024) malam. Masyarakat, khususnya penggemar seni budaya, memadati halaman gedung tersebut. Mereka ingin menyaksikan pagelaran seni ketoprak berlakon “Hadeging Klaten”.

Gelaran seni ketoprak tersebut diselenggarakan dalam rangka menyemarakkan peringatan hari jadi Kabupaten Klaten ke-220 dan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Indonesia ke-79. Istimewanya, semua pemerannya adalah pejabat Kabupaten Klaten, mulai dari Sekretaris Daerah (Sekda), Ketua DPRD Klaten, hingga pejabat TNI dan Polri serta direksi BUMD di Kabupaten Klaten.

Para pejabat daerah, TNI, Polri, dan direksi BUMD yang bukan pelaku seni peran profesional menambah seru kisah yang dituturkan.

Tak jarang, mereka melakukan kesalahan dialog atau malah menuturkan dialog improvisasi yang spontan. Pertunjukan ini menunjukkan sisi lain yang autentik dan manusiawi dari para pejabat di hadapan masyarakat.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Sabtu (10/9/2024), Ketua Pembina Dewan Kesenian Kabupaten Klaten, Sunarna, menyampaikan bahwa pageralan seni ketoprak ini merupakan wujud bangga masyarakat Klaten akan seni asli daerahnya. Seperti diketahui, ketoprak merupakan seni yang disebut-sebut pertama kali muncul di Klaten.

Gelaran yang melibatkan unsur pejabat ini diharapkan dapat menguatkan Kabupaten Klaten sebagai pusat perkembangan kesenian tersebut.

“Semoga gelaran ketoprak ini bisa memberi hiburan kepada masyarakat Klaten dan memberi manfaat bagi semua masyarakat,” ujar pria yang sempat menjabat sebagai Bupati Klaten periode 2005-2015 tersebut.

Bupati Klaten Sri Mulyani, yang hadir dalam pagelaran tersebut, menyampaikan apresiasi atas terlaksananya pertunjukkan “Hadeging Klaten”.

Bupati Klaten Sri Mulyani menyampaikan apresiasi atas terlaksananya pagelaran ketoprak tersebut.dok. Humas Pemkab Klaten Bupati Klaten Sri Mulyani menyampaikan apresiasi atas terlaksananya pagelaran ketoprak tersebut.

“Hari ini berbeda dan istimewa. Biasanya, kita menyaksikan seniman yang tampil di atas panggung untuk menghibur. Malam ini, para pejabat pemerintahan Kabupaten Klaten yang tampil menghibur. Saya harap, gelaran ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari nguri-uri budaya kita,” ujarnya.

Menuturkan perjalanan Klaten hingga jadi Kabupaten
Lakon “Hadeging Klaten” menceritakan bagaimana perjalanan Klaten hingga menjadi Kabupaten. Adapun cerita dimulai dari dibukanya wilayah Klaten sebagai desa.

Sebagai informasi, Klaten merupakan desa tertua yang tercantum dalam Prasasti Upit. Desa Klaten dibuka pada era pemerintahan Rakai Kayuwangi, Raja Medang di era Mataram Kuno, yang berkuasa pada 855 Masehi (M) hingga 885 M.

Para pemeran ketoprak ?Hadeging Klaten? bukanlah seniman, melainkan para pejabat daerah Kabupaten Klaten, unsur TNI dan Polri, serta direksi BUMD di Kabupaten Klaten.dok. Humas Pemkab Klaten Para pemeran ketoprak ?Hadeging Klaten? bukanlah seniman, melainkan para pejabat daerah Kabupaten Klaten, unsur TNI dan Polri, serta direksi BUMD di Kabupaten Klaten.

Kemudian, cerita bergulir hingga dibangunnya Fort Engelenburg sebagai banteng pertahanan di Klaten oleh Pemerintahan Distrik Militer Belanda pada 1804.

Bupati Sri Mulyani pun berterima kasih kepada segenap pejabat Kabupaten Klaten yang bersedia ikut serta berperan di dalam gelaran ketoprak dan memainkan perannya dengan baik.

Pada kesempatan tersebut, ia juga menyerahkan piagam penghargaan bagi 21 pelestari seni ketoprak di Kabupaten Klaten. Penghargaan tersebut diberikan kepada sekolah, media, hingga perusahaan milik pemerintah dan swasta yang terlibat aktif dalam pelestarian seni ketoprak sebagai budaya asli Klaten.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau