Advertorial

Pemprov Lampung Ikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, BPS Umumkan Deflasi September 2024

Kompas.com - 22/10/2024, 13:51 WIB

KOMPAS.com — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung, diwakili oleh Inspektur Provinsi Lampung Fredy, menghadiri Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah secara virtual di Dinas Kominfotik Provinsi Lampung, Rabu (02/10/2024).

Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Tomsi Tohir mengingatkan kepada pemerintah daerah agar lebih cermat dalam memantau perkembangan inflasi di wilayahnya masing-masing.

“Kami minta setiap daerah untuk lebih memperhatikan perkembangan inflasi di wilayahnya masing-masing. Lakukan koordinasi yang baik, dan pelaksanaan yang pasti, jangan biarkan berlalu begitu saja. Hasil yang sudah dicapai harus kita pertahankan,” ujar Tomsi dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (21/10/2024).

Sementara itu, Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti dalam paparannya menegaskan bahwa BPS selalu menjaga independensi dan terbebas dari intervensi dalam penghitungan inflasi yang dilakukan.

“Kami selalu bertanggung jawab atas hasil inflasi yang kami hitung. Semua tahapan proses penghitungan inflasi tersebut terus dan tetap kami lakukan sesuai dengan pedoman berstandar internasional,” tegas Amalia.

Amalia juga menegaskan bahwa BPS terus menjamin secara ketat kualitas hasil data yang dipublikasikan dalam setiap tahapan proses penyediaan statistiknya.

Rapat dilaksanakan di Dinas Kominfotik Provinsi Lampung, Rabu (02/10/2024). Dok. Pemprov Lampung Rapat dilaksanakan di Dinas Kominfotik Provinsi Lampung, Rabu (02/10/2024).

Ia kemudian menyampaikan bahwa pada bulan September 2024, Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,12 persen, dengan inflasi year-on-year (yoy) sebesar 1,84 persen dan inflasi tahun kalender sebesar 0,74 persen.

Menurut Amalia, penurunan harga di tingkat konsumen yang menyebabkan deflasi pada September 2024 disumbang oleh beberapa komoditas yang mengalami peningkatan pasokan, yakni kelompok makanan, minuman dan tembakau, serta kelompok transportasi.

“Penurunan harga di sektor makanan, seperti cabai merah, cabai rawit, daging ayam ras, dan telur ayam ras, memberikan kontribusi besar terhadap deflasi. Selain itu, penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang menyesuaikan harga minyak internasional juga menjadi faktor penting dalam deflasi ini,” jelas Amalia.

Dalam laporannya, Amalia juga menjelaskan bahwa deflasi pada September 2024 merupakan yang terdalam dalam lima tahun terakhir, dengan 24 provinsi mengalami deflasi dan 14 provinsi lainnya mencatat inflasi.

"Deflasi yang terjadi dalam 5 bulan terakhir secara umum disumbang oleh penurunan harga komoditas bergejolak," tutur Amalia. (ADV)

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau