Advertorial

BRI Bagikan Strategi Mengelola Keuangan dan Investasi untuk Generasi Muda

Kompas.com - 18/11/2024, 20:49 WIB

KOMPAS.com – Gaya hidup modern yang terus berkembang membawa berbagai perubahan dalam cara generasi muda mengelola keuangan.

Salah satu tantangan yang mereka hadapi adalah kebiasaan pengeluaran kecil, seperti membeli kopi atau berlangganan layanan streaming, yang sering kali tidak disadari dampaknya.

Direktur Bisnis Konsumer PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI Handayani, menjelaskan bahwa kebiasaan kecil tersebut sering disebut sebagai “Latte Factor”.

Istilah itu digunakan untuk menggambarkan pengeluaran kecil yang terlihat sepele, seperti kopi, langganan streaming, atau makanan kekinian.

“Meski terlihat sepele, jika dijumlahkan, nilai (yang mereka keluarkan itu) bisa membuat keuangan terganggu,” jelas Handayani dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin (18/11/2024).

Handayani menjelaskan, kurangnya literasi keuangan menjadi salah satu penyebab utama generasi muda kesulitan menabung, membangun dana darurat, atau memulai investasi. Padahal, perencanaan keuangan sedini mungkin adalah langkah penting untuk mencapai kestabilan finansial.

Handayani mencontohkan bahwa perencanaan keuangan dapat dimulai dengan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

“Kebutuhan adalah hal mendasar yang penting untuk kelangsungan hidup, seperti rumah, pakaian, makanan, dan kesehatan. Sebaliknya, keinginan adalah barang yang tidak terlalu mendesak dan bisa digantikan, seperti gadget terbaru atau barang bermerek,” jelasnya.

Selain masalah pengeluaran kecil, fenomena pinjaman online (pinjol) juga menjadi tantangan besar bagi generasi muda. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), karyawan dan pelajar—yang mayoritas generasi muda—mencakup sekitar 12 persen dari pengguna pinjol.

Hal tersebut, lanjut Handayani, dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kemudahan akses teknologi dan gaya hidup konsumtif.

“Pinjol menawarkan pengajuan yang praktis, syarat mudah, dan persetujuan instan. Namun, minimnya literasi keuangan membuat generasi muda sering kali tergiur tanpa mempertimbangkan risiko sehingga terjebak dalam utang yang sulit dikelola,” ujar Handayani.

Peluang dan tantangan bagi industri perbankan

Kehadiran pinjol yang semakin marak turut mengubah lanskap industri perbankan di Indonesia. Di sisi lain, hal ini juga menjadi peluang bagi perbankan untuk mempercepat transformasi digital.

Merespons fenomena itu, BRI menghadirkan solusi melalui inovasi produk digital dengan meluncurkan BRIGuna Digital melalui platform BRImo sebagai alternatif layanan perbankan yang mudah diakses.

“BRImo adalah superapps BRI yang memiliki lebih dari 100 fitur untuk memudahkan masyarakat memenuhi kebutuhan perbankan. Tak hanya menabung, nasabah juga terintegrasi dengan ekosistem digital, seperti belanja online, transportasi, dan hiburan,” ujar Handayani.

Fitur unggulan BRImo lain adalah fasilitas kredit konsumtif dan produktif berbasis pendapatan tetap (fixed income). Pengajuan pinjaman di BRImo pun dapat dilakukan secara digital kapan saja, dengan proses cepat sekitar 15 menit dan bunga kompetitif.

Solusi itu diharapkan menjadi jawaban atas kebutuhan keuangan generasi muda yang sebelumnya menggunakan pinjol.

Selain berinovasi dalam layanan digital, BRI juga aktif memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat.

Handayani menjelaskan, BRI senantiasa memberikan literasi keuangan ke berbagai segmen, mulai dari anak sekolah hingga nasabah pensiun.

“Salah satu kegiatan rutin kami adalah berkeliling ke (berbagai) universitas untuk meningkatkan pemahaman anak muda dalam mengelola keuangan, memilih instrumen investasi, dan menghindari pinjol,” ucapnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau