Advertorial

BRI Tanam 5.000 Bibit Pohon Produktif di Desa Kutuh untuk Peringati Hari Menanam Pohon Indonesia

Kompas.com - 01/12/2024, 14:16 WIB

KOMPAS.com — PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) terus mendukung upaya pemerintah dalam memerangi perubahan iklim dan menjaga keseimbangan lingkungan melalui berbagai inisiatif.

Melalui aktivitas Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI Peduli, BRI kembali melaksanakan Program BRI Menanam – Grow & Green dengan penanaman 5.000 bibit pohon produktif. Bibit tersebut terdiri dari 1.500 bibit tanaman alpukat dan 3.500 bibit tanaman matoa.

Kegiatan tersebut dilakukan sekaligus untuk memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia dengan keterlibatan kelompok tani dan masyarakat lokal di Desa Kutuh, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Senin (25/11/2024).

Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto mengatakan bahwa pelaksanaan program tersebut merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab pihaknya dalam menjaga keseimbangan alam dan lingkungan.

“Tanaman yang ditanam juga dapat membantu perekonomian masyarakat setempat saat sudah berkembang dan berbuah,” ujar Catur dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Minggu (1/12/2024).

Selain itu, lanjut Catur, Program tersebut juga menjadi bentuk komitmen BRI dalam mendukung pembangunan dan pertumbuhan kinerja berkelanjutan yang berbasis Environment, Social and Governance (ESG).

Ia mengatakan, program BRI Menanam – Grow & Green juga menjadi wadah untuk mewujudkan praktik pembangunan berkelanjutan yang memiliki tujuan untuk melestarikan lingkungan, menyerap karbon, memberdayakan masyarakat, dan meningkatkan perekonomian.

Dalam kegiatan program tersebut, BRI turut menggandeng Yayasan Ladang Sinergi Lestari yang membantu dalam melakukan pendampingan, monitoring, dan evaluasi program.

Sementara itu, Ketua Kelompok Munduk Buluh I Wayan Swastika mengatakan bahwa sebelumnya, kelompoknya merupakan petani di Desa Kutuh yang belum bisa menggarap hutan karena tidak mendapatkan izin dari pemerintah.

“Setelah kelompok tani terbentuk pada 2017, akhirnya kami bisa menggarap hutan dan menjadikan sebagai sumber penghasilan,” tutur Wayan.

Wayan mengatakan bahwa program BRI Menanam – Grow & Green memiliki tujuan baik yang sesuai dengan rencana pengembangan kelompok. Ia berharap kolaborasi ini dapat membantu penghijauan kawasan hutan di Desanya dan dapat membantu perekonomian anggota kelompoknya.

Lebih lanjut Catur menuturkan, kegiatan penanaman pohon produktif itu merupakan upaya nyata pihaknya dalam membantu pemerintah mengurangi dampak buruk dari lahan kritis seperti banjir, longsor, dan kekeringan.

Kegiatan tersebut juga menjadi langkah nyata BRI untuk berkontribusi dalam pengurangan emisi dan adaptasi perubahan iklim.

Perlu diketahui, sejak peluncurannya pada 2023, Program BRI Menanam – Grow & Green telah memberikan kontribusi dalam melawan perubahan iklim dan membantu menjaga keseimbangan lingkungan.

Hingga saat ini, program tersebut telah mencatat lebih dari 60.300 pohon telah tertanam dan terpelihara dengan baik dan berpotensi menyerap karbon sebesar 17.960 ton CO2e per tahun.

Tak hanya itu, Program BRI Menanam – Grow & Green juga mencatatkan transplantasi 2.430 fragmen yang dilakukan untuk memulihkan ekosistem laut.

Selain berdampak pada keseimbangan lingkungan, program tersebut juga berkontribusi pada pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan 1.080 kepala keluarga dan 23 kelompok tani dan nelayan di berbagai wilayah Indonesia.

“BRI Menanam – Grow & Green merupakan wujud komitmen kami dalam mendukung pelestarian lingkungan sekaligus memberdayakan masyarakat,” ujar Catur.

Dengan semangat gotong royong, lanjutnya, program tersebut akan terus berlanjut di berbagai titik lainnya untuk lebih memperkuat komitmen BRI dalam melestarikan bumi demi generasi yang akan datang.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau