Advertorial

Kemenperin Ajak Gen Z Intip Aktivitas Manufaktur di Industrial Festival 2024

Kompas.com - 06/12/2024, 18:13 WIB

KOMPAS.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z), untuk menggali potensi mereka demi mempersiapkan masa depan. Upaya ini diwujudkan melalui Industrial Festival 2024 yang digelar di Surabaya, Jawa Timur, pada Rabu (4/12/2024) hingga Kamis (5/12/2024).

Dalam acara tersebut, Kemenperin mengajak Gen Z untuk mengikuti factory tour ke pabrik PT Nestle Indonesia di unit Kejayan, Pasuruan, Jawa Timur.

Di sana, para peserta melihat langsung proses pengemasan produk di pabrik PT Nestle yang merupakan salah satu pabrik susu dengan manufaktur modern dan berkelanjutan di Indonesia.

Hal itu dilakukan agar Gen Z memperoleh pengetahuan mengenai sektor manufaktur serta wacana mengenai pilihan bagi masa depan mereka.

Sebagai informasi, kegiatan tersebut dihadiri mahasiswa Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Politeknik Negeri Malang, Universitas Airlangga, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, dan Universitas Negeri Surabaya, Universitas Ciputra, Universitas Yos Sudarso, dan komunitas Tunas Hijau.

Para mahasiswa dan komunitas Tunas Hijau melihat proses langsung proses pengemasan produk di pabrik PT Nestle Indonesia.Dok. Kemenperin Para mahasiswa dan komunitas Tunas Hijau melihat proses langsung proses pengemasan produk di pabrik PT Nestle Indonesia.

Pada kesempatan itu, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan kesempatan kepada para mahasiswa dan Gen Z untuk belajar cara berpikir dalam problem solving.

“Dengan kemampuan tersebut, diharapkan (membuka) banyak kesempatan (bagi para Gen Z) menjadi wirausaha,” ujar Faisol dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (6/12/2024).

Industri makanan dan minuman (mamin) di Indonesia, lanjut Faisol, memiliki peluang pertumbuhan yang sangat besar.

Hal itu berkat dukungan dari sumber daya alam (SDA) yang melimpah dan tren kesehatan di kalangan masyarakat, sektor industri mamin, khususnya susu, terus mengalami peningkatan permintaan domestik.

Dalam kunjungan tersebut, Wamenperin Faisol juga menyampaikan apresiasinya kepada PT Nestle Indonesia yang telah melakukan kemitraan dalam pemenuhan bahan baku sejak 1975 hingga saat ini.

Selain itu, Nestle juga melakukan pembelian bahan baku susu segar senilai Rp 1,8 triliun per tahun dari 26.000 peternak dan pembelian biji kopi senilai Rp 1,2 triliun dari 11.00 petani kopi di Lampung, Sumatera Selatan.

“PT Nestle Indonesia tak hanya memberikan kontribusi pada perekonomian melalui penciptaan lapangan kerja di Indonesia, tetapi juga berkomitmen dalam menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan dan inovasi di sektor industri,” tambahnya.

Saat ini, kata Faisol, pemerintah tengah berupaya untuk menurunkan impor bahan baku susu yang saat ini mencapai 80 persen dari total kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu nasional.

Oleh karena itu, ia berharap, PT Nestle Indonesia tetap berkomitmen untuk terus berkolaborasi dan melakukan inovasi dalam mengembangkan program kemitraannya dengan peternak sapi perah.

“Dengan begitu, dapat meningkatkan produktivitas peternak untuk memproduksi susu segar sebagai bahan baku industri,” jelas Faisol.

Sementara itu, untuk mendukung program makan bergizi gratis dari pemerintah, kolaborasi dan inovasi diharapkan dapat mendorong peningkatan gizi serta konsumsi susu di kalangan masyarakat Indonesia.

Industrial Festival 2024 mengajarkan para mahasiswa dan komunitas Tunas Hijau cara memproduksi susu di PT Nestle Indonesia.Dok. Kemenperin Industrial Festival 2024 mengajarkan para mahasiswa dan komunitas Tunas Hijau cara memproduksi susu di PT Nestle Indonesia.

Corporate Affairs and Sustainability Director Nestle Indonesia Sufintri Rahayu turut mengapresiasi Kemenperin yang aktif membersamai pelaku industri, seperti memberikan pembinaan serta pendampingan.

“Kami ingin mengapresiasi Kemenperin yang sudah berjalan berdampingan, memberikan technical advice kepada kami di industri pengolahan susu serta industri makanan dan minuman,” ujar Sufintri.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan, industri susu di Indonesia masih sangat potensial untuk berkembang.

Oleh karena itu, Gen Z harus bersiap diri untuk mengisi industri existing ataupun industri yang akan dikembangkan di masa depan.

Kemenperin juga mendorong gerbong-gerbong di belakang lokomotif sektor industri, sesuai dengan arah pengembangan industrinya. Sebab, Indonesia tidak akan mendapatkan apa pun jika tidak bisa memproduksi barang jadi.

“Maka dari itu, pemerintah dan masyarakat harus mengembangkan kemandirian serta lapangan kerja. Saya yakin, Gen Z siap jadi pemimpin industri mamin Indonesia di masa mendatang,” tutur Putu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau