Advertorial

Punya Nilai Spesial, Toko Kopi TUKU Buka Gerai Pertama di Yogyakarta

Kompas.com - 30/12/2024, 17:55 WIB

KOMPAS.com – Pelopor kopi susu gula aren di Indonesia, Toko Kopi Tuku (TUKU), resmi membuka gerai pertama di Kota Yogyakarta. Gerai yang berlokasi di Jalan Sajiono Nomor 15 Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, ini menjadi cabang ke-58 TUKU di Indonesia.

Setelah sukses mengembangkan bisnis di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), Surabaya, serta Malang, TUKU membawa konsep ngopi yang memadukan nilai budaya lokal dengan pelayanan cepat dan berkualitas ke Kota Gudeg.

Chief Executive Officer (CEO) dan Founder TUKU Andanu Prasetyo mengatakan, ada alasan spesial di balik pembukaan gerai TUKU di Yogyakarta. Menurutnya, kota ini selalu memiliki tempat spesial karena telah menjadi sumber inspirasi dalam mengembangkan TUKU.

Dengan menggabungkan pengalaman menikmati kopi yang hangat dan pelayanan cepat, kehadiran TUKU diharapkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Yogyakarta sembari memperkuat budaya kopi lokal yang terus berkembang.

Andanu menjelaskan, Yogyakarta dipilih karena memiliki daya tarik yang menarik, yakni perpaduan antara kearifan lokal dan semangat inovatif. Hal ini sejalan dengan visi TUKU yang mengutamakan kesederhanaan, kebersamaan, dan terus berinovasi.

"Kami berharap, TUKU dapat menjadi 'ruang ketiga' bagi warga Yogya. Tempat mereka bisa berinteraksi, berbagi inspirasi, dan merayakan kreativitas," ujar Andanu dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin (30/12/2024).

Sebelum membuka gerai permanen, TUKU telah hadir di Yogyakarta melalui berbagai acara lokal, seperti Land of Leisures Yogyakarta (LOL), Prambanan Jazz, dan Jogja Coffee Week.

TUKU juga sukses menggelar rangkaian pop-up store bertajuk "TUKU Bertamu ke Jogja" di beberapa lokasi, mulai dari Klinik Kopi, Warung Minarwati, Bloomery Pattiserie, hingga Angkringan TUKU Bareng Raharja pada Juli 2024.

Kehadiran TUKU di Yogyakarta juga diwarnai dengan kolaborasi bersama Komite Kue Nusantara (Kukusan) dalam menghadirkan jajanan pasar dengan tampilan modern. Penganan tradisional ini dihadirkan melalui lini produk Tukudapan yang khusus dirancang untuk konsumen Yogyakarta.

Researcher Kukusan Faza Chu menjelaskan, pihaknya menggunakan tepung beras lokal dari Yogyakarta untuk menjaga kualitas dan kearifan lokal dalam setiap produk yang diciptakan.

"Menggunakan bahan lokal bukan hanya soal rasa. Langkah ini adalah cara kami menyatu dengan lingkungan dan komunitas tempat kami berada,” kata Faza.

Selain itu, imbuhnya, jajanan pasar kembali diangkat agar generasi muda dapat menikmati kudapan tradisional dengan tampilan dan rasa yang lebih modern.

Kehadiran TUKU di Yogyakarta diharapkan dapat memperkaya ekosistem kopi dan membuka lebih banyak ruang bagi kreativitas, inovasi, serta kebersamaan.

"Kami percaya bahwa setiap kota memiliki cerita dan budayanya sendiri. Di Yogya, kami ingin mendengar cerita dari setiap tetangga dan menyatu di tengah budaya hangat yang sudah ada. Sebab, TUKU tidak hanya tentang kopi, tetapi (juga) tentang rasa kebersamaan yang tercipta di setiap tegukan dan kudapan," tutur Andanu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau