Advertorial

Sulap Batik Jadi Produk Streetwear, Brand Bandung Ini Curi Perhatian di BRI UMKM EXPO(RT) 2025

Kompas.com - 31/01/2025, 21:04 WIB

TANGERANG, KOMPAS.com – Setiap helai kain batik memiliki cerita. Sebuah kisah yang melekat dalam setiap motif dan warna, mencerminkan nilai budaya yang kaya dan keberagaman Indonesia. Batik bukan sekadar kain, melainkan identitas yang telah melebur dalam kehidupan masyarakat. Dari upacara adat hingga acara formal, batik selalu hadir sebagai simbol kebanggaan nasional.

Namun, di era modern, batik kerap dianggap sebagai pakaian yang terlalu formal dan kurang relevan bagi generasi muda. Mereka lebih memilih pakaian kasual yang sesuai dengan gaya hidup dinamis. Lalu, bagaimana jika batik bisa berpadu dengan tren mode masa kini tanpa kehilangan esensi tradisinya?

Fenomena tersebut menginspirasi Tina, mantan pegawai bank asal Bandung, untuk mengubah persepsi batik melalui Batik Reunceum. Didirikan pada 2015, Batik Reunceum menawarkan perpaduan tradisi dan modernitas, menjadikan batik lebih kasual dan cocok untuk anak muda.

Baca juga: Ungkap Kronologi Kasus Nastar Berjamur, Pemilik Clairmont: Kami Dapat Penawaran

Perjalanan Tina membangun Batik Reunceum bermula dari hobinya mengenakan batik saat masih bekerja sebagai pegawai bank.

Setiap Jumat, saat batik menjadi seragam wajib, Tina dan rekannya memiliki kebiasaan unik mengenakan dua motif batik menjadi satu pakaian. Kreativitas ini ternyata menarik perhatian rekan-rekan kerjanya.

"Teman kantor banyak yang penasaran dan bertanya dari mana batik kami. Dari situ, banyak yang minta dibuatkan. Mulai saat itu, kami pun coba membuatkan batik pesanan teman-teman kantor,” ujar Tina saat wawancara dengan Kompas.com pada BRI UMKM EXPO(RT) 2025 yang berlangsung di ICE BSD, Tangerang, Banteng, Kamis (30/1/2025).

Baca juga: Profil Surya Sahetapy, Putra Ray Sahetapy yang Berprofesi Dosen di Amerika

Lambat laun, pesanan terhadap produk batiknya pun meningkat. Akhirnya, Tina dan temannya memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus membangun Batik Reunceum.

Nama Reunceum diambil dari bahasa Sunda yang berarti ramai. Nama ini menggambarkan karakteristik produknya yang mengombinasikan beberapa motif batik dalam satu pakaian.

Tak terbatas pada produk batik formal, Batik Reunceum juga menghadirkan berbagai koleksi yang lebih kasual ala streetwear, seperti jaket bomber, outer, celana panjang, dan masker.

Baca juga: Ribuan Kurir Antre Sepanjang 2 Kilometer untuk Retur Paket di Ulujami

Semuanya hadir dengan harga yang bervariasi, yakni dari Rp 30.000-an hingga Rp 500.000.

Batik Reunceum saat ini memiliki gerai offline yang berada di wilayah Bandung dan sejumlah toko online yang ada di platform e-commerce.

"Kami sengaja mix and match beberapa motif batik dalam satu baju dan dikombinasikan dengan kain polos. Memang sengaja kami buat kasual supaya tetap bisa dipakai sehari-hari. Meski (memiliki motif) tradisional, (pakaiannya) tetap bisa dipakai dengan gaya modern," jelas Tina.

Baca juga: Lulus Kuliah Jadi CPNS, Ini 10 Sekolah Kedinasan Sepi Peminat

Inovasi tersebut, tambah Tina, terbukti berhasil menarik minat berbagai kalangan, termasuk generasi muda, seperti Gen Z.

Menurut Tina, generasi muda kini semakin sadar dengan batik dan tidak lagi menganggapnya sebagai pakaian yang membuat mereka terlihat tua.

"Sekarang anak-anak SMA juga banyak yang pakai produk kami karena desainnya memang sengaja dibuat lebih cocok untuk anak muda. Mereka senang saja, bahkan main pun kadang-kadang pakai batik," tutur Tina.

Jadi mitra binaan perbankan

Baca juga: Hadiri Pemakaman Ray Sahetapy, Dewi Yull Ucapkan Terima kasih

Tina mengaku, dirinya merasa senang dengan penerimaan masyarakat terhadap produk Batik Reunceum yang ia buat bersama temannya.

Menurut pengakuan Tina, produknya kini telah dijual ke berbagai masyarakat di Indonesia dengan omzet mencapai Rp 200 juta per bulan.

Meski begitu, Tina dan temannya masih memiliki keinginan untuk menjangkau pangsa pasar yang lebih luas, khususnya secara global.

Baca juga: Ini Daftar Motor dan Mobil yang Dilarang Isi BBM Pertalite di SPBU Pertamina per 4 April 2025

Untuk mewujudkan itu, Tina pun melakukan berbagai upaya. Salah satunya, dengan bergabung menjadi mitra binaan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI pada akhir 2024.

Meski terbilang baru, ia menjelaskan bahwa ia dan rekannya telah mendapatkan berbagai program pembinaan yang ditawarkan BRI untuk mengembangkan usahanya.

Salah satu program yang diikuti Tina adalah pelatihan virtual tentang perdagangan ekspor dan impor.

Produk Batik Reuceum yang memadukan berbagai motif batik dan punya desain kasual. Dok. Thomi Fikri/Kompas.com Produk Batik Reuceum yang memadukan berbagai motif batik dan punya desain kasual.

Baca juga: Guru Besar UGM Diduga Lecehkan Mahasiswi S1-S3 sejak 2023, Kini Dibebastugaskan

Melalui program itu, ia dan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) lainnya mendapat pengetahuan komprehensif tentang tata cara dan dokumen yang diperlukan untuk menembus pasar global.

"Kami dapat banyak materi mengenai ekspor dan impor. Terutama terkait dokumen yang harus disiapkan. Tadinya, kami hanya sebatas kirim barang ke luar negeri saja. Sekarang kami jadi tahu bagaimana sistem dan dealing yang aman," ungkap Tina.

Ia bercerita, pengalaman mengirim produk ke luar negeri sebenarnya bukan hal baru bagi Batik Reunceum.

Baca juga: Senjakala LuLu Hypermarket...

Produk mereka telah sampai ke berbagai negara seperti Hong Kong, Taiwan, Jerman, Turki, dan Korea. Namun, pengiriman tersebut masih dalam skala perorangan, bukan ekspor dalam jumlah besar.

Hal itu juga yang membuat dirinya tertarik untuk mengikuti kurasi agar bisa menjadi UMKM terpilih yang ada pada BRI UMKM EXPO(RT) 2025.

Batik Reunceum pun sukses jadi salah satu dari 1.000 UMKM yang turut memamerkan beragam produk unggulan di ajang BRI UMKM EXPO(RT) 2025.

Baca juga: 5 Manfaat Buah Srikaya, Sedang Musim dan Banyak Dijual

Melalui ajang tersebut, Tina berharap, mendapat kesempatan untuk memperluas jangkauan bisnisnya.

Saat berhasil lolos kurasi, ia mengaku terkesan dengan fasilitas yang diberikan BRI dalam acara itu yang dinilainya berbeda dengan pembinaan dari lembaga lain yang pernah ia ikuti.

"Saya agak kaget juga. Biasanya kalau dapat fasilitas dari dinas atau lembaga lain, kami cuma dapat sekadarnya saja. Kalau BRI, hospitality-nya luar biasa. Semua ditanggung sampai akomodasi. Ini pertama kali, makanya saya takjub. BRI kan BUMN besar, jadi kami berharap bisa dibantu untuk pengembangan pasar dengan mendapatkan customer baru dan bisa lebih berkembang," jelas Tina.

Baca juga: Rincian Tarif Listrik per 1 April 2025 untuk Pelanggan Bersubsidi dan Nonsubsidi

Tina juga berharap, program business matching yang difasilitasi BRI bisa membantu produknya lebih dikenal di pasar internasional.

Menurutnya, dukungan dari BRI tidak hanya penting untuk pengembangan brand, tetapi juga untuk peningkatan kapasitas produksi dan pendapatan usaha.

"Kami optimistis dengan dukungan dari BRI, Batik Reunceum bisa berkembang lebih pesat dan menembus pasar global," tambah Tina.

Baca juga: Kediaman Jokowi Jadi Lokasi Wisata Baru di Solo, Mampu Sedot 1.500-an Pengunjung

Komitmen BRI dorong perkembangan UMKM

Saat memberikan sambutan pada BRI UMKM EXPO(RT) 2025, Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan bahwa BRI fokus kepada bisnis UMKM serta konsisten menumbuhkembangkan dan memberdayakan pelaku UMKM di Tanah Air.

Pada tahun ini, BRI UMKM EXPO(RT) 2025 diikuti oleh 1.000 UMKM terbaik yang berhasil lolos seleksi ketat. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya hanya 700 UMKM Bazaar.

Direktur Utama BRI Sunarso. Dok. BRI Direktur Utama BRI Sunarso.

Baca juga: Tangis Penyesalan Fania Usai Tikam Kekasihnya yang Kerap Minta Uang untuk Judi Online

“Dengan melihat pertambahan dari sisi peserta UMKM, BRI pun menargetkan sales volume tahun ini mencapai Rp 38 miliar,” kata Sunarso.

Jumlah pengunjung acara juga diproyeksikan mencapai 50.000 orang. Angka ini naik signifikan dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya dengan 26.315 pengunjung.

BRI juga menargetkan business matching senilai 89,4 juta dollar AS sepanjang 2025 atau setara Rp 1,44 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan capaian 81,3 juta dollar AS pada 2023.

Baca juga: Daftar 7 SPBU Alternatif di Luar Jalan Tol Solo-Ngawi

Tahun ini, jumlah pembeli dan negara yang berpartisipasi dalam business matching diproyeksikan meningkat menjadi 94 buyers dari 33 negara, dibandingkan 86 buyer dari 30 negara pada tahun lalu. 

Sebagai perbandingan, pada penyelenggaraan perdana, yakni 2019, business matching mencatat nilai 33,5 juta dollar AS dengan 16 buyer dari 7 negara. Nilai ini meningkat menjadi 57,5 juta dollar AS pada 2020, melibatkan 26 buyer dari 11 negara.

Tren positif tersebut berlanjut dengan pencapaian 81,3 juta dollar AS pada 2023. BRI juga berkolaborasi dengan Kementerian Perdagangan untuk mengadakan business matching secara rutin sebanyak dua kali dalam sebulan. Hal ini guna memperluas akses pasar ekspor bagi UMKM binaan BRI.

“Kami berharap, event ini dapat mendukung Asta Cita Bapak Presiden Prabowo Subianto untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan," terang Sunarso.

Untuk informasi lebih lanjut terkait acara BRI UMKM EXPO(RT) 2025, silakan akses di laman berikut.

Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi Akun
Proteksi akunmu dari aktivitas yang tidak kamu lakukan.
199920002001200220032004200520062007200820092010
Data akan digunakan untuk tujuan verifikasi sesuai Kebijakan Data Pribadi KG Media.
Verifikasi Akun Berhasil
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau