TANGERANG. KOMPAS.com – Ledekan “sepatu jelek dan jebol” yang diterima kala duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) rupanya berubah menjadi motivasi bagi Aprill Soeharto untuk merintis usaha sepatu custom.
“Dulu saya malu banget diledeki begitu. Tapi, ternyata itu menumbuhkan kecintaan saya sama sepatu, apalagi sepatu bot,” cerita Aprill saat ditemui di stan Arta Louwee—usaha rintisannya—di gelaran BRI UMKM EXPO(RT) 2025 di ICE BSD, Banten, Kamis (30/1/2025).
Berbeda dengan alas kaki jenis lain, lanjut dia, sepatu bot dapat memberikan perlindungan ekstra bagi kaki. Desainnya yang kukuh dan dapat menutupi seluruh kaki menghasilkan dukungan yang kuat pada jari-jari dan mata kaki.
Apalagi, Arta Louwee dapat dikustomisasi sesuai kondisi kaki pemakainya. Inovasi ini hadir untuk menjawab tantangan sepatu ready to wear yang tidak selalu memiliki ukuran yang benar-benar pas di kaki. Padahal, sepatu yang benar-benar pas dapat menunjang aktivitas secara optimal.
Peluang bisnis itu pun membawa Arta Louwee menerima pesanan dari berbagai negara, mulai dari Singapura, Malaysia, Vietnam, Hongkong, Arab Saudi, Turki, Oman, hingga Amerika.
Perempuan asal Malang, Jawa Timur, ini menjelaskan, Arta Louwee yang dibaca “arta luwih” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “harta lebih”. Nama ini berangkat dari filosofi Arta Louwee yang ingin memberikan penghasilan lebih kepada tenaga kerja lokal yang saat ini turut dipekerjakan.
“Kami juga berharap, masyarakat bisa membelanjakan harta lebihnya untuk produk-produk UMKM lokal yang tak kalah saing dengan produk luar,” tutur Aprill.
Belajar dan terus belajar
Sebelum mengantongi omzet hingga Rp 90 juta per bulan seperti sekarang, Aprill mengakui bahwa dirinya kerap mengalami kegagalan. Maklum saja, bisnis yang dijalani ini dimulai dari nol.
Bagi Aprill, kegagalan adalah tantangan. Ia pun terus belajar untuk bisa mengembangkan produk dan memasarkannya secara tepat.
“Dulu ilmu (marketing) saya masih minim. Saya asal saja upload foto sesering mungkin di Instagram, bahkan hingga 30 postingan, agar bisa menjangkau pasar lebih luas. Namun, rupanya, teknik itu tidak tepat,” ujar Aprill.
BRI UMKM EXPO(RT) 2025 menjadi wadah bagi UMKM, seperti Arta Louwee, untuk naik kelas. Dari situ, Aprill mulai aktif mengikuti berbagai program pelatihan, termasuk yang dihadirkan BRI lewat program Pengusaha Muda BRILian (PMB) 2020 dari BRI.
PMB merupakan rangkaian program intensif yang ditujukan untuk akselerasi bisnis para pengusaha muda Indonesia dengan bidang usaha meliputi food and beverages, fashion, dan handicraft.
Melalui program itu, bank pelat merah tersebut juga mendorong lahirnya pengusaha muda atau young entrepreneurs Indonesia yang berdaya saing tinggi di kancah lokal dan global.
Meski belum terpilih sebagai juara, PMB menjadi perjalanan penting bagi Arta Louwee. Lewat program ini, Aprill bersama peserta lain lain mendapatkan pelatihan dan pendampingan dari mentor yang ahli di bidangnya.
Para peserta mendapatkan pendampingan dengan kurikulum yang disusun secara terintegrasi disertai penyelesaian tugas-tugas sesuai bidang usahanya. Tujuannya, untuk menyiapkan UMKM tersebut masuk ke pasar global.
Aprill menilai, PMB berbeda dengan program pelatihan dan mentoring lain yang hanya memberikan materi. Adapun PMB secara konsisten memberikan pendampingan hingga peserta mempraktikkan hasil pelatihan.
“Misalkan ada proses yang kurang tepat atau hasilnya yang tidak tidak sesuai, hal ini akan digali bareng-bareng dengan mentor,” tambah dia lagi.
Di samping pelatihan dan pendampingan, berbagai program pemberdayaan UMKM dari BRI juga memperluas jaringan sehingga membuka akses untuk melakukan ekspor.
Unjuk gigi di BRI UMKM EXPO(RT) 2025
Berkat kegigihan Aprill, kali ini, Arta Louwee terpilih menjadi salah satu dari 1.000 UMKM yang unjuk gigi pada gelaran BRI UMKM EXPO(RT) 2025.
Rangkaian kegiatan BRI UMKM EXPO(RT) 2025 mencakup expo, showcase UMKM terkurasi, business matching, UMKM Award, entertainment, dan art installation.
Suasana stan BRI UMKM EXPO(RT) 2025. Antusiasme peserta dari tahun ke tahun juga terus meningkat. Hal ini terlihat dari jumlah UMKM yang lolos kurasi dalam tahun terakhir, yakni 502 UMKM pada 2022 dan 700 UMKM pada 2023. Angka ini meningkat dari 155 UMKM terlibat pada awal penyelenggaraannya, yakni 2019.
Tahun ini, sebanyak 1.000 UMKM terbaik berhasil lolos seleksi ketat selama sekitar satu bulan. UMKM ini dipamerkan dalam lima kategori utama, yaitu Home Decor and Craft (153 UMKM), Food and Beverage (358 UMKM), Accessories and Beauty (181 UMKM), Fashion and Wastra (273 UMKM), serta Healthcare and Wellness (35 UMKM).
“Dengan melihat pertambahan dari sisi peserta UMKM, BRI menargetkan sales volume tahun ini mencapai Rp 38 miliar,” kata Direktur Utama BRI Sunarso saat membuka acara tersebut.
Adapun jumlah pengunjung ekshibisi diproyeksikan menembus 50.000 orang. Angka ini naik signifikan dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya dengan 26.315 pengunjung.
BRI juga menargetkan business matching senilai 89,4 juta dollar AS sepanjang 2025 atau setara Rp 1,44 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan capaian 81,3 juta dollar AS pada 2023.
Pembukaan BRI UMKM EXPO(RT) 2025 di ICE BSD, Banten, Kamis (30/1/2025). Tahun ini, jumlah pembeli dan negara yang berpartisipasi dalam business matching diproyeksikan meningkat menjadi 94 buyers dari 33 negara, dibandingkan 86 buyer dari 30 negara pada tahun lalu.
Sebagai perbandingan, pada penyelenggaraan perdana di 2019, business matching mencatat nilai 33,5 juta dollar AS dengan 16 buyer dari 7 negara. Nilai ini meningkat menjadi 57,5 juta dollar AS pada 2020, melibatkan 26 buyer dari 11 negara.
Tren positif tersebut berlanjut dengan pencapaian 81,3 juta dollar AS pada 2023. BRI juga berkolaborasi dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk mengadakan business matching secara rutin sebanyak dua kali dalam sebulan. Hal ini guna memperluas akses pasar ekspor bagi UMKM binaan BRI.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang turut hadir pada acara tersebut menilai bahwa BRI UMKM EXPO(RT) 2025 merupakan bukti nyata BRI dalam memberdayakan pelaku usaha UMKM yang merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia.
“UMKM merupakan sektor yang menyumbang lebih dari 60 persen PDB Indonesia dan menyerap 97 persen tenaga kerja. Kontribusi mereka dalam perdagangan global masih dapat terus ditingkatkan. Inisiatif BRI ini yang melibatkan 1.000 UMKM ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Bapak Prabowo untuk menciptakan lapangan kerja yang berkualitas,” tegasnya.
Informasi lebih lanjut terkait BRI UMKM EXPO(RT) 2025 dapat diakses melalui https://briumkmexport.com/.