Advertorial

BRI Menanam Grow & Green, Ujung Tombak Pelestarian Laut di Gili Matra

Kompas.com - 01/04/2025, 15:09 WIB

KOMPAS.com - Keseimbangan ekosistem laut menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan sektor wisata bahari di Indonesia.

Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Gili Matra di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sebagai destinasi yang dikenal dengan keindahan bawah lautnya, Gili Matra dipenuhi dengan flora air yang menakjubkan sekaligus rumah bagi berbagai fauna yang dilindungi, termasuk penyu.

Sayangnya, masih terdapat masyarakat yang menangkap ikan dengan tidak ramah lingkungan atau destructive fishing di kawasan Gili Matra.

Bermula dari keprihatinan itulah, Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Gili Matra berdiri dan menjadi garda terdepan dalam melindungi serta melestarikan ekosistem Gili Matra.

Terbentuk sejak 2021, kelompok tersebut telah berkontribusi membantu menjaga sumber daya alam (SDA), terutama kelautan dan perikanan dari segala bentuk gangguan di wilayah perairan Gili Matra.

Dengan anggota yang berasal dari beragam latar belakang, mulai dari nelayan, wiraswasta, hingga pengusaha, Pokmaswas Gili Matra berupaya memastikan bahwa praktik perikanan tetap berjalan secara berkelanjutan tanpa merusak ekosistem.

Upaya menjaga kelestarian kawasan konservasi Gili Matra tidak hanya bergantung pada masyarakat setempat, tetapi juga hasil dari sinergi dengan berbagai pihak, termasuk PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI.

Melalui program BRI Menanam - Grow & Green, BRI turut berkontribusi dalam melindungi ekosistem bawah laut sekaligus memberdayakan komunitas lokal.

Inisiatif tersebut tidak hanya berfokus pada konservasi lingkungan, tetapi juga peningkatan kapasitas masyarakat, terutama mereka yang bergerak di sektor wisata bahari.

Wakil Ketua Pokmaswas Gili Matra Hasanuddin mengatakan, kolaborasi dengan BRI dalam program BRI Menanam - Grow & Green berawal dari pertemuan bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKPN) Kupang Satuan Kerja (Satker) Kawasan Konservasi Gili Matra, Yayasan Ekonomi Keanekaragaman Hayati Laut Indonesia (YEKHALI), serta berbagai pihak lainnya.

Melalui program BRI Menanam - Grow & Green, BRI turut berkontribusi dalam melindungi ekosistem bawah laut sekaligus memberdayakan komunitas lokal.Dok. BRI Melalui program BRI Menanam - Grow & Green, BRI turut berkontribusi dalam melindungi ekosistem bawah laut sekaligus memberdayakan komunitas lokal.

Hasil dari pertemuan tersebut menunjukkan perlunya restorasi ekosistem laut, terutama dalam pemulihan terumbu karang dan padang lamun di Gili Matra.

Pada aktivasi program tersebut, BRI melaksanakan berbagai upaya restorasi ekosistem laut di tiga kawasan utama Gili Matra, yaitu Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno.

Salah satu aksi utamanya adalah transplantasi 1.500 karang dengan 100 unit reef star di area seluas 1.000 meter persegi di Gili Trawangan.

Selain itu, dilakukan juga transplantasi 2.500 hingga 3.000 tegakan lamun di area seluas 625 meter persegi di Gili Air untuk mendukung ekosistem laut yang lebih sehat.

Tak hanya itu, program tersebut juga melibatkan underwater clean up, yakni kegiatan pembersihan bawah laut untuk menjaga kebersihan perairan.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan lingkungan laut tetap terjaga dan menjadi tempat yang aman bagi biota laut untuk berkembang.

“Ada pula berbagai aktivitas lainnya yang ditujukan kepada kelompok masyarakat pegiat wisata bahari, salah satunya adalah Sertifikasi Eco-Diver and Trainer Diver bagi 10 anggota kelompok untuk mendukung ekowisata berkelanjutan,” ujar Hasanuddin dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Selasa (1/4/2025).

Kemudian, lanjut dia, ada pula pelatihan pemandu wisata snorkeling. Tujuannya, untuk meningkatkan kualitas layanan wisata bahari serta pemberian sarana penunjang wisata bawah laut.

“(Pelatihan tersebut juga) untuk mendukung sektor pariwisata berkelanjutan di Gili Matra,” kata Hasanuddin.

Sejak dilaksanakan pada 2022, program BRI Menanam Grow & Green telah melakukan transplantasi karang sebanyak 3.930 fragment di atas luas area 2.458 meter persegi, serta telah terlaksana transplantasi 2.500 hingga 3.000 tegakan lamun di area seluas 625 meter persegi.Dok. BRI Sejak dilaksanakan pada 2022, program BRI Menanam Grow & Green telah melakukan transplantasi karang sebanyak 3.930 fragment di atas luas area 2.458 meter persegi, serta telah terlaksana transplantasi 2.500 hingga 3.000 tegakan lamun di area seluas 625 meter persegi.

Hasanuddin sendiri mengaku merasakan manfaat yang diberikan lewat program BRI Menanam - Grow & Green, mulai dari meningkatnya populasi ikan khususnya ikan-Ikan target tangkapan nelayan, peningkatan terumbu karang yang sehat, hingga bertambahnya daya tarik wisatawan untuk terus berkunjung ke Gili Matra.

“Suatu kepuasan bisa melihat secara langsung kepedulian masyarakat yang terlibat dalam membantu pemulihan ekosistem laut melalui program BRI Menanam Grow & Green. Semoga kedepannya program ini dapat berlanjut terus di Gili Matra yang tentunya dengan menjunjung tinggi nilai-nilai tanggung jawab atas apa yang sudah dikerjakan,” ungkapnya.

Aksi nyata jaga ekosistem laut

Pada kesempatan sama, Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi menambahkan, program BRI Menanam Grow & Green di Gili Mantra merupakan upaya BRI dalam menjaga ekosistem laut yang berkelanjutan.

Program tersebut diharapkan dapat mendorong perekonomian masyarakat setempat.

“Kami berkomitmen menjaga ekosistem laut sebagai aksi nyata BRI dalam memerangi perubahan iklim. Semoga kegiatan transplantasi karang yang sedang berjalan dapat memberikan manfaat bagi keberlanjutan dan kelestarian alam, khususnya ekosistem laut di Gili Mantra. Program ini juga harapannya bisa membantu mendorong ekonomi masyarakat setempat,” jelasnya.

Sebagai informasi, program BRI Menanam Grow & Green di Gili Matra merupakan salah satu bagian dari Program “Grow & Green Coral Reef, yang merupakan kegiatan transplantasi karang dan tegakan lamun guna menjaga ekosistem dan biodiversitas laut.

Sejak dilaksanakan pada 2022, program tersebut telah melakukan transplantasi karang sebanyak 3.930 fragment di atas luas area 2.458 meter persegi, serta telah terlaksana transplantasi 2.500 hingga 3.000 tegakan lamun di area seluas 625 meter persegi.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau