Advertorial

Berkat Pendanaan Usaha BRI, Waroeng Tani Sukses Berjaya hingga Lintas Generasi

Kompas.com - 22/04/2025, 17:03 WIB

KOMPAS.com - Melanjutkan usaha yang telah dirintis orangtua tentu tidak mudah, apalagi jika usaha itu sudah memiliki nama besar.

Hal tersebut diungkapkan pemilik usaha Waroeng Tani, Ali Supandri (50). Berlokasi di Jetal Lor, Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, nama Waroeng Tani terinspirasi dari latar belakang keluarganya yang berprofesi sebagai petani.

Awalnya, keluarga Ali merintis usaha sebagai pemasok durian dan mangga ke luar daerah, seperti Papua. Namun, seiring waktu berjalan, keluarganya ingin membuka usaha lain. Dari sini, ide membuat Waroeng Tani sebagai usaha kuliner tercetus.

Sejak muda, Ali sudah dilibatkan dalam bisnis keluarga, termasuk saat Waroeng Tani berdiri pada 2019. Ali pun diminta keluarganya untuk melanjutkan usaha tersebut.

Ali mengaku mengalami beberapa kendala saat baru memulai usaha ini. Salah satunya adalah pandemi Covid-19. Supaya bisnis orangtuanya tidak gulung tikar, ia harus memutar otak.

“Untungnya, kami menerapkan konsep warung terbuka. Inisiatif ini membuat pengunjung tetap ramai selama pandemi tanpa harus melanggar aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM),” kata Ali dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (22/4/2025).

Strategi yang dilakukan Ali untuk membuka warung dengan konsep suasana perdesaan terbilang sukses. Ali mengaku, omzet usahanya terus mengalami kenaikan, termasuk di masa pandemi.

Demi menggaet pasar yang lebih merata, Waroeng Tani juga menerapkan konsep prasmanan dan menawarkan menu hemat porsi sepuasnya.

“Cukup membayar Rp 8.000, pengunjung sudah bisa makan nasi dan aneka olahan sayur sepuasnya. Kami juga menyediakan 100 macam menu yang bisa dipesan terpisah sebagai tambahan lauk,” tuturnya.

Salah satu olahan sayur hasil budi daya sendiri yang bisa diambil sepuasnya di Warung Tani adalah kreasi daun katuk. Selain membantu meningkatkan produksi air susu ibu (ASI), daun ini juga kaya kandungan gizi.

Daun katuk bisa menjadi olahan sayuran yang lezat dan nikmat di tangan ibu-ibu yang terbiasa memasak makanan tradisional. Pengunjung bisa menikmatinya dengan cuma-cuma di Waroeng Tani.

Strategi tersebut membuat Waroeng Tani selalu ramai pembeli, termasuk di bulan Ramadhan.

Saking ramainya, Waroeng Tani sampai menerima 2.000 pack pesanan berbuka puasa. Padahal, kapasitas Waroeng Tani hanya untuk 1.500 orang. Menu yang tersedia hampir habis dipesan setiap hari selama Ramadhan.

“Dari banyak menu, gurami asam manis dan gurami saus telur asin menjadi favorit pelanggan,” kata Ali.

Waroeng Tani, lanjut Ali, semakin ramai saat liburan. Ia mengaku bisa mendapat omzet rata-rata Rp 500 juta per bulan. Saat ini, Ali telah menyerahkan pengelolaan Waroeng Tani kepada anaknya.

Ali mengakui keberhasilannya mengelola usaha kuliner tak terlepas dari bantuan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Ia sudah menjadi nasabah BRI sejak usia 19 tahun.

Hal tersebut membuatnya mengenal beragam fasilitas pinjaman BRI, seperti kredit usaha rakyat (KUR). Sebagai pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), ia amat terbantu dengan fasilitas pinjaman modal usaha dari BRI.

“Saya merasa BRI sudah seperti bapak angkat sendiri karena memodali saya dari awal usaha sampai sekarang. Jadi, saya benar-benar terbantu dan berterima kasih sekali kepada BRI,” imbuhnya.

Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi menyampaikan bahwa BRI terus memberikan dukungan bagi pelaku UMKM untuk terus berkembang. Mayoritas KUR BRI dialokasikan ke sektor produksi.

Hal tersebut sejalan dengan Asta Cita Pemerintah, yakni membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat serta mendorong produktivitas rakyat dan daya saing.

“Dengan semakin luas akses pembiayaan melalui KUR, kami percaya semakin banyak pelaku usaha yang dapat bertumbuh, berkembang, dan berkontribusi lebih besar dalam mendukung ketahanan ekonomi nasional,” kata Hendy.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau