KOMPAS.com – Kanker kolorektal atau kanker usus besar masih menjadi ancaman kesehatan yang serius.
Kanker kolorektal dapat menyerang siapa saja, terutama mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit serupa. Faktor genetik, seperti sindrom Lynch atau keberadaan polip pada usus besar, merupakan penyebab utama yang patut diwaspadai.
Polip yang tumbuh berlebihan di usus besar memang tidak selalu berbahaya. Akan tetapi, dalam kondisi tertentu, polip bisa berkembang menjadi kanker jika tidak ditangani dengan tepat.
Dokter Spesialis Bedah Digestif dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan dr Aditomo Widarso, SpB-KBD mengatakan, pendekatan penanganan kanker kolorektal sangat bergantung pada kondisi masing-masing pasien.
Kanker usus besar, lanjutnya, bisa ditangani dengan operasi. Jika tidak melekat, kanker usus besar bisa dilakukan dengan metode bedah minimal invasif atau laparoskopi.
“Namun, jika sudah melekat atau terjadi sumbatan, biasanya perlu dilakukan bedah terbuka (laparotomi),” ujar dr Aditomo dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Selasa (29/4/2025).
Ia menambahkan, pilihan terapi ditentukan berdasarkan beberapa faktor, mulai dari lokasi dan stadium kanker, luas penyebaran, hingga kondisi umum pasien.
Pada stadium awal, pembedahan bisa dilakukan tanpa harus menjalani kemoterapi. Hasilnya pun cukup menjanjikan.
“Sementara, pada stadium lanjut, terapi tambahan, seperti kemoterapi, radioterapi, atau kombinasi keduanya, akan diberikan untuk meningkatkan efektivitas pengobatan,” jelasnya.
Pendekatan terintegrasi melalui Oncology Center
Peluang keberhasilan pengobatan kanker kolorektal cukup tinggi apabila terdeteksi dan ditangani sejak dini.
Deteksi dini adalah kunci. Semakin cepat kanker ditemukan, maka semakin besar peluang untuk pulih.
Oleh karena itu, jangan tunda untuk melakukan pemeriksaan. Masa depan kesehatan Anda bisa dimulai dari langkah kecil hari ini.
Pemeriksaan dini bisa dilakukan di Mayapada Hospital yang memiliki layanan komprehensif Oncology Center.
Dengan pendekatan medis yang cermat, dukungan teknologi terkini serta pendampingan yang humanis, setiap pasien bisa mendapat kesempatan untuk sembuh dan kembali menjalani hidup yang lebih sehat.
Oncology Center di Mayapada Hospital telah menangani lebih dari 9.000 kasus kanker dalam dua tahun terakhir.
Di pusat layanan itu, setiap pasien mendapat pendekatan multidisiplin yang menyeluruh. Salah satunya melalui Tumor Board, yakni forum yang melibatkan tim dokter lintas spesialisasi untuk menyusun rencana perawatan yang paling tepat dan terkoordinasi.
Tak hanya itu, kehadiran Patient Navigator juga menjadi nilai lebih Oncology Center Mayapada Hospital.
Tenaga pendamping ini akan menemani pasien selama menjalani pengobatan, mulai dari proses administrasi, jadwal tindakan medis, hingga dukungan psikologis selama masa terapi. Tujuannya agar pasien tidak merasa sendiri serta dapat menjalani pengobatan dengan lebih tenang dan terarah.
Dokter Aditomo menuturkan bahwa pencegahan dan deteksi dini merupakan langkah penting dalam menghadapi kanker kolorektal.
Mayapada Hospital melalui Gastrohepatology Center menyediakan layanan skrining untuk mendeteksi potensi kanker saluran cerna, termasuk kolorektal.
Pemeriksaan itu sangat dianjurkan bagi seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker usus, berusia di atas 50 tahun, atau memiliki kebiasaan hidup yang berisiko, seperti konsumsi makanan rendah serat dan kurang olahraga.
Reservasi layanan tersebut pun semakin mudah. Pasien dapat melakukan reservasi melalui aplikasi MyCare.
Aplikasi ini juga dilengkapi dengan fitur pemantauan kesehatan harian, seperti jumlah langkah, detak jantung, kalori, hingga indeks massa tubuh (BMI).
Tidak hanya itu, aplikasi tersebut juga menyediakan berbagai artikel kesehatan dan tip hidup sehat untuk mendukung gaya hidup yang lebih baik.
Untuk mendapatkan informasi dan jadwal pemeriksaan, masyarakat bisa menghubungi call center di nomor 150770 atau mengakses aplikasi MyCare langsung dari ponsel pintar.