KOMPAS.com - Sering merasa pegal di punggung atau melihat bahu tidak sejajar? Jika iya, bisa jadi itu tanda skoliosis.
Skoliosis merupakan kelainan tulang belakang yang melengkung tidak normal, seperti membentuk huruf “C” atau “S”.
Penyakit tersebut biasanya dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti jenis kelamin, faktor genetik, dan usia. Kondisi ini biasanya terdeteksi sejak masa kanak-kanak.
Meski demikian, orang dewasa tidak menutup kemungkinan mengalami skoliosis, baik karena penuaan maupun tidak terdiagnosis atau mendapatkan penanganan yang tepat sejak kecil. Akibatnya, keluhan ini baru muncul saat usia dewasa.
Penanganan skoliosis di usia dewasa sangat bergantung pada tingkat kelengkungan tulang belakang. Kondisi ini dapat diketahui setelah dokter melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.
Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Tulang Belakang Mayapada Hospital Jakarta Selatan dr Starifulkani Arif, Sp OT (K), FICS, menjelaskan, pada skoliosis kasus ringan dengan tingkat kelengkungan di bawah 25 derajat, dokter akan melakukan observasi sebagai langkah penanganan utama.
“Pasien kemudian perlu melakukan pemeriksaan rutin setiap enam bulan dan rontgen lanjutan tiap setahun sekali untuk memastikan kelengkungan tidak bertambah parah,” kata dr Starifulkani dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (28/4/2025).
Selanjutnya, skoliosis sedang dengan tingkat kelengkungan antara 25 hingga 45 derajat, penanganan dilakukan dengan alat penyangga (brace). Tindakan ini diperlukan untuk mencegah kelengkungan semakin buruk dan mengurangi keluhan nyeri.
Pasien, lanjutnya, juga disarankan untuk melakukan terapi fisik untuk memperkuat otot tulang belakang, melatih fleksibilitas, memperbaiki postur, dan meredakan nyeri.
Terapi yang dilakukan meliputi peregangan, latihan penguatan otot inti, dan latihan fisik dengan beban rendah, seperti berenang.
Sementara itu, pada skoliosis berat dengan kelengkungan lebih dari 45 derajat, dokter akan melakukan tindakan operasi spinal fusion.
“Operasi spinal fusion dilakukan untuk mengatur dan menggabungkan tulang belakang agar menjadi satu tulang yang solid serta menghilangkan penekanan pada saraf,” tuturnya.
Pada kasus anak, lanjut dr Starifulkani, skoliosis ringan biasanya tidak memerlukan penyangga atau pembedahan. Meski demikian, pasien memerlukan pantauan rutin untuk mendeteksi perubahan kelengkungan seiring pertumbuhan anak.
“Penggunaan brace pada anak dengan tingkat skoliosis sedang dapat dilakukan untuk mencegah keparahan dan mengurangi kelengkungan tulang belakang anak yang masih terus bertumbuh,” kata dr Starifulkani.
Tidak selalu sama
Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Tulang Belakang Mayapada Hospital Bandung dr Abdul Kadir Hadar, Sp OT (K) menambahkan, skoliosis yang dialami orang dewasa tidak selalu sama. Terdapat beberapa jenis skoliosis yang dibedakan berdasarkan faktor penyebabnya.
Adapun kasus paling umum adalah skoliosis idiopatik yang penyebabnya tidak diketahui, tetapi faktor keturunan turut memengaruhi. Lalu, ada pula skoliosis kongenital yang terjadi akibat kelainan sejak dalam kandungan.
Terdapat pula skoliosis neuromuskular yang disebabkan gangguan saraf dan otot penyangga tulang belakang, seperti pada penderita cerebral palsy atau spina bifida.
“Terakhir, ada skoliosis sindromik yang terkait dengan kelainan genetik, seperti sindrom marfan dan sindrom ehlers-danlos,” ujar dr Abdul.
Gejala skoliosis pada orang dewasa
Orang dewasa yang mengalami skoliosis dapat mengalami berbagai gejala, seperti nyeri punggung, penonjolan otot atau tulang akibat rotasi tulang belakang, garis pinggang yang tidak sejajar, pinggul tampak tinggi sebelah, dan penurunan tinggi badan akibat perubahan postur.
Dalam kasus yang parah, skoliosis dapat mengakibatkan kesulitan bernapas dan rasa kenyang lebih cepat karena perubahan pada volume rongga dada dan perut.
Penanganan skoliosis harus dilakukan sesuai rekomendasi dokter spesialis ortopedi. Pasien dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis ortopedi, seperti dr Abdul Kadir dan dr Starifulkani di layanan Orthopedic Center Mayapada Hospital.
Layanan tersebut dikenal menyediakan perawatan yang komprehensif dan berstandar internasional untuk menangani berbagai kasus tulang, sendi, dan otot. Di sana, pasien dapat menikmati layanan deteksi dini, diagnosis, tindakan dan terapi, hingga perawatan pasca-tindakan.
Untuk menjadwalkan layanan di Orthopedic Center Mayapada Hospital, pasien dapat melakukannya dengan mudah melalui aplikasi MyCare milik Mayapada Hospital.
Aplikasi tersebut menawarkan berbagai informasi terkait keberhasilan Orthopedic Center dalam menangani berbagai kasus ortopedi melalui fitur Health Articles & Tips.
Selain itu, MyCare juga dilengkapi fitur Personal Health untuk membantu pasien tetap bugar dengan memantau detak jantung, langkah kaki, jumlah kalori terbakar, serta body mass index (BMI).
Anda dapat mengunduh aplikasi MyCare di App Store atau Google Play Store. Nikmati bonus reward point saat registrasi pertama yang bisa digunakan sebagai potongan harga layanan di seluruh unit Mayapada Hospital.
Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai skoliosis, Anda dapat mengeklik tautan ini.