Advertorial

Jaga Ekosistem Laut Tetap Lestari, Ini Aksi Nyata BRI Menanam - Grow and Green di Pulau Kapoposang

Kompas.com - 16/05/2025, 11:43 WIB

KOMPAS.com – Laut biru yang terbentang luas, terumbu karang yang indah, dan kehidupan

biota laut yang melimpah menjadikan Indonesia bak surga bawah laut yang mempesona.

Manusia memegang peran penting dalam menjaga kelestarian alam bahari ini. Ketika alam dijaga dengan baik, maka ia pun akan memberikan kebaikan kembali.

Keyakinan tersebut juga tumbuh di tengah masyarakat Pulau Kapoposang, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan (Sulsel).

Berbagai kelompok masyarakat, seperti Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pulau Kapoposang, Kelompok Rehabilitasi Karang Web Spider, Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas), dan Kelompok Pelestari Kehati Bahari Lestari aktif menjalankan upaya pelestarian laut.

Mereka bertugas mengawasi praktik penangkapan ikan ilegal yang dilakukan nelayan luar, seperti penggunaan bom dan bius, serta membantu penanganan telur penyu di perairan Kapoposang.

Salah satunya, Pokdarwis Kapoposang, dibentuk pada 2024 atas kesadaran pentingnya menjaga laut.

Dalam waktu singkat, kelompok tersebut berkembang hingga memiliki 33 anggota aktif yang berkomitmen menjaga kelestarian alam.

“Kami melihat potensi besar dalam pariwisata bahari seperti snorkeling, menyelam, hingga wisata budaya. Sayangnya, pesona Kapoposang belum dikenal luas,” ujar anggota Pokdarwis Kapoposang, Abdul Rauf melalui siaran persnya, Jumat (16/5/2025).

Karena itu, lanjut dia, Pokdarwis Kapoposang bertekad memperkenalkan pulau tersebut sambil tetap menjaganya dari kerusakan.

Kelompok Rehabilitasi Karang Web Spider Pulau Kapoposang juga menunjukkan aksi nyata pelestarian.

Kelompok itu berdiri sejak 2019 atas kerja sama antara BKKPN Kupang Satuan Kerja Kapoposang dan pemuda lokal yang peduli terhadap kondisi bawah laut.

“Kelompok ini hadir sebagai respons atas kerusakan terumbu karang akibat praktik penangkapan ikan yang merusak,” jelas Ketua Kelompok Rehabilitasi Karang Web Spider, Umar.

Selain itu, lanjut dia, Kelompok Rehabilitasi Karang Web Spider juga rutin memantau ekosistem di kawasan Taman Wisata Perairan Kapoposang untuk memastikan kelestarian laut.

Terbantu oleh BRI Menanam – Grow & Green: Coral Reef

Selain inisiatif masyarakat, Pulau Kapoposang juga mendapat perhatian dari BRI melalui program BRI Menanam – Grow & Green.

Abdul dan Umar menceritakan bahwa mereka mulai terlibat dalam program itu pada 2023, saat diskusi terbuka yang digelar oleh BRI dan Yayasan Ekonomi Keanekaragaman Hayati Laut Indonesia (YEKHALI).

Abdul mengungkapkan bahwa program tersebut sangat bermanfaat, terutama melalui kegiatan transplantasi karang, pelatihan rescue, dan sertifikasi pemandu wisata.

“Program ini memberikan pengetahuan baru bagi anggota kelompok, seperti rehabilitasi terumbu karang, pertolongan pertama, dan keterampilan dasar sebagai pemandu wisata,” ujar Abdul.

Semua pelatihan tersebut, lanjut dia, menjadi bekal penting untuk menjaga laut dan membuka peluang pariwisata bahari di Pulau Kapoposang.

Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI, Agustya Hendy Bernadi, menyatakan bahwa program BRI Menanam – Grow & Green: Coral Reef di Kapoposang menjadi bukti nyata komitmen BRI menjaga ekosistem laut secara berkelanjutan.

Program tersebut diharapkan mampu mendorong perekonomian masyarakat setempat.

BRI Peduli telah melakukan transplantasi 1.500 fragmen terumbu karang dengan 100 unit reef star di lahan seluas 1.000 meter persegi (m2) sebagai upaya pemulihan ekosistem laut,” jelas Hendy.

BRI Peduli, lanjut dia, juga memberikan pelatihan bersertifikat, seperti Rescue Diver, EFR, dan CPR berstandar PADI kepada 10 peserta, serta sertifikasi Pemandu Wisata Selam berstandar BNSP kepada 15 peserta.

Untuk mendukung aktivitas tersebut, BRI menyediakan perlengkapan selam yang bisa digunakan oleh masyarakat dalam kegiatan wisata.

Program itu juga mengajak masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan edukatif seperti penyelamatan penyu, pembersihan pantai, hingga pelepasan tukik ke laut.

“Kami terus berkomitmen menjaga kelestarian ekosistem laut sebagai bagian dari aksi nyata memerangi perubahan iklim,” tambah Hendy.

Ia berharap, kegiatan transplantasi karang yang sedang berjalan dapat memberikan manfaat bagi keberlanjutan dan kelestarian alam, khususnya ekosistem laut di Pulau Kapoposang.

Program tersebut, sebut Hendy, juga diharapkan dapat membantu mendorong ekonomi masyarakat setempat.

Dalam pelaksanaannya, BRI Peduli bekerja sama dengan YEKHALI dan masyarakat setempat menyelenggarakan berbagai kegiatan konservasi laut yang diintegrasikan dengan pelatihan berbasis kompetensi.

Pulau Kapoposang merupakan satu dari empat titik pelaksanaan nasional program BRI Menanam – Grow & Green: Coral Reef.

Sejak 2023, program tersebut telah menjangkau lebih dari 50 anggota kelompok masyarakat di empat lokasi, yaitu Maratua (Kalimantan Timur), Karampuang (Sulawesi Barat), Gili Matra (Nusa Tenggara Barat), dan Kapoposang (Sulsel).

Secara keseluruhan, BRI Peduli telah mentransplantasi lebih dari 5.448 fragmen karang di area konservasi seluas 0,44 hektar (ha), menggandeng 10 kelompok lokal, serta meningkatkan kapasitas komunitas bahari dengan pelatihan bersertifikasi nasional dan internasional.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau