KOMPAS.com - Koperasi Sarana Bangun Lampung (Sabalam) berhasil mencatatkan kinerja positif dalam membina sekaligus membantu petani menembus pasar ekspor.
Upaya tersebut dilakukan melalui pengolahan dan pemasaran komoditas rempah-rempah unggulan.
Keberhasilan itu tidak lepas berkat dukungan pembiayaan dana bergulir yang disalurkan oleh Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) sejak 2022.
Berkat pembiayaan dari LPDB, Koperasi Sabalam mampu membangun ekosistem usaha pertanian yang terintegrasi dengan pelaku industri ekspor sekaligus meningkatkan daya saing petani lokal.
Para petani juga sukses memperkuat rantai pasok produk ekspor, seperti lada, cengkih, kayu manis, dan pala ke pasar internasional.
Ketua Koperasi Sabalam Supriyanto mengatakan, dalam membina para petani di Provinsi lampung, pihaknya menghadapi berbagai keterbatasan terkait permodalan dan akses pembiayaan.
Namun, setelah memperoleh dukungan dana bergulir dari LPDB, Koperasi Sabalam mampu memperluas usahanya hingga menjalin kerja sama strategis dengan CV Spice Solution Indonesia (SSI) yang telah memiliki jaringan ekspor global.
Koperasi Sabalam menjadi pemasok utama CV SSI untuk ekspor rempah-rempah, seperti lada, cengkih, kayu manis, pala, cabai jawa, dan kunyit ke berbagai negara tujuan.
“Kami memulai dengan kondisi yang terbatas. Namun, dengan semangat membangun ekosistem pertanian dari hulu ke hilir, kami berhasil membantu para petani. Ini juga berkat dana bergulir dari LPDB. Kami jadi mampu meningkatkan kapasitas usaha koperasi, memperluas pembinaan kepada petani, dan mendorong produk rempah-rempah ke pasar ekspor,” ujar Supriyanto dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (10/7/2025).
Tak hanya itu, kehadiran LPDB juga membuat berbagai pihak, seperti petani, pembeli, dan mitra usaha menjadi lebih percaya kepada koperasi.
"Dana bergulir yang diperoleh memungkinkan koperasi melakukan pembayaran tunai kepada petani dan menjaga kesinambungan pasokan bahan baku kepada eksportir,” kata Supriyanto.
Saat ini, tambah Supriyanto, Koperasi Sabalam telah membina ratusan kelompok tani di berbagai kabupaten di Lampung, seperti di Tanggamus, Lampung Barat, dan Pesawaran.
Model keanggotaan koperasi juga dibuat selektif dan efisien dengan hanya melibatkan pengurus kelompok sebagai perwakilan.
Sementara, pembinaan dilakukan menyeluruh kepada petani di tingkat bawah dengan sistem klaster.