KOMPAS.com – Air mata Tri Susanti (36) mengalir saat menceritakan perjuangannya melahirkan tiga buah hati tercinta.
Bagi Tri, kehamilan adalah anugerah. Namun, kehamilan itu juga menjadi tantangan hidup yang luar biasa.
Tri bercerita, ia baru mengetahui bahwa dirinya mengandung bayi triplet saat usia kandungannya memasuki bulan keempat. Hamil triplet adalah kondisi ketika seorang wanita mengandung tiga janin dalam satu kehamilan.
Pada awal kehamilan, ia sempat memeriksakan diri di Puskesmas Kebumen 3, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah (Jateng).
Saat itu, bidan yang memeriksa tidak menyebutkan kondisi khusus pada kehamilannya. Namun, sebagai seorang ibu yang pernah hamil, ia merasa ada yang tidak biasa.
Perutnya selalu terasa kencang. Saat usia kandungan menginjak empat bulan, ukuran perutnya jauh lebih besar ketimbang ibu hamil pada umumnya.
“Setiap jalan sedikit saja terasa begitu melelahkan. Berjalan ke dapur atau ke kamar mandi pun seperti mendaki gunung, terasa sesak. Akhirnya, saya dan suami memutuskan untuk periksa ke dokter spesialis kandungan,” ujar Tri, seperti dikutip dari rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin (28/7/2025).
Warga Desa Jemur Kecamatan Kebumen itu mengungkapkan, setelah dilakukan pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa dirinya mengandung triplet.
Mendengar hal tersebut, Tri dan suaminya kaget, bukan karena tidak ingin menerima, melainkan khawatir akan kondisi Tri dan ketiga bayinya.
Kekhawatiran Tri beralasan. Pasalnya, kehamilan triplet memiliki risiko lebih tinggi jika dibandingkan kehamilan tunggal atau bahkan kembar dua.
“Saking syoknya, kami belum mau memberi tahu keluarga, bahkan orangtua, tentang kondisi kehamilan ini. Saya tidak ingin keluarga menjadi khawatir,” kata Tri.
Tak pelak, bayang-bayang biaya persalinan dan perawatan selama kehamilan triplet pun selalu menghantui hari-hari mereka.
Untuk diketahui, kehamilan triplet memerlukan pemantauan dan penanganan medis yang intensif serta biaya yang tidak sedikit. Padahal, sang suami hanya bekerja sebagai buruh harian, sedangkan Tri tidak bekerja.
“Memang, mendapatkan anak itu rezeki luar biasa dari Tuhan. Saya dan suami saling menguatkan satu sama lain,” kata Tri sembari mengusap lembut ketiga buah hatinya.
Singkat cerita, saat usia kehamilannya memasuki tujuh bulan, kondisi fisik Tri makin menurun. Ia mulai merasa napasnya tersengal-sengal.
Setibanya di Rumah Sakit (RS) Soedirman Kebumen, ia langsung menjalani operasi caesar. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa kelahiran anak-anak mereka akan menjadi begitu dramatis.
“Ketiganya lahir dalam kondisi prematur. Berat badan mereka masing-masing hanya 13 ons, 11 ons, dan 8 ons. Tangisan pertama dari bayi-bayi itu kami sambut dengan haru dan cemas. Haru karena mereka lahir selamat dan cemas karena harus langsung dirawat intensif di ruang NICU,” tutur Tri.
Tri melanjutkan, selama 25 hari, bayi-bayi kecilnya berjuang di ruang NICU dengan alat bantu pernapasan, infus, dan pemantauan medis 24 jam.
Setelah itu, mereka menjalani perawatan lanjutan selama 30 hari di ruang perawatan bayi. Total, 53 hari mereka dirawat di rumah sakit. Sementara itu, dirinya sendiri harus menjalani perawatan selama seminggu pascaoperasi.
“Alhamdulillah, sekarang bayi kami menunjukkan perkembangan luar biasa. Berat mereka naik pesat. Semula hanya 13, 11, dan 8 ons, kini masing-masing sudah mencapai 2 kg, 1,7 kg, dan 1 kg. Mereka masih harus rutin kontrol ke rumah sakit untuk pemeriksaan penglihatan, pendengaran, hingga kondisi paru-parunya,” jelasnya.
Peserta program JKN
Di tengah perjuangan panjang tersebut, salah satu hal yang sangat ia syukuri adalah telah terdaftar sebagai peserta program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Beruntung, ia dan suami sudah menjadi peserta JKN segmen Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK). Seluruh biaya persalinan dan perawatan bayi-bayi mereka yang jumlahnya lebih dari Rp 200 juta pun ditanggung penuh oleh Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Menurutnya, mustahil keluarganya dapat menanggung biaya sebesar itu tanpa bantuan program JKN.
“Saya tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada BPJS Kesehatan. Kami hanya keluarga sederhana. Namun, berkat JKN, seluruh biaya operasi, perawatan bayi, NICU, sampai obat-obatan dijamin. Kami hanya bisa bersyukur dan terus mendoakan agar program ini terus ada dan membantu masyarakat kecil seperti kami,” ucap Tri.
Tri juga menceritakan pengalamannya selama memanfaatkan layanan JKN di RS Dr. Soedirman Kebumen.
Ia merasa sangat dihargai sebagai pasien. Tidak ada perlakuan diskriminatif antara peserta JKN dan pasien umum. Pelayanan yang diberikan tenaga medis pun menurutnya sangat baik.
“Mulai dari dokter, perawat, dan seluruh petugas di rumah sakit memberikan pelayanan dengan ramah dan optimal. Dukungan mereka terasa begitu nyata selama merawat saya dan buah hati saya,” ujarnya.