KOMPAS.com- Suatu hari, seorang guru bertanya pada muridnya yang pendiam di kelas, “Mengapa kamu tidak pernah angkat tangan saat aku bertanya?"
Anak itu menjawab dengan pelan, “Karena aku butuh waktu lebih lama untuk memahami pertanyaannya.”
Di banyak ruang kelas, guru kerap menemukan anak-anak seperti ini. Anak-anak ini tidak selalu cepat menjawab, tetapi menyimpan potensi luar biasa yang belum sempat dikenali.
Sayangnya, mereka sering dilabeli “malas” atau “tidak cerdas”. Padahal, mereka hanya belum menemukan metode belajar yang paling sesuai dengan dirinya.
Seperti diketahui, setiap anak memiliki keunikan, baik dari sisi potensi, kecepatan memahami, maupun cara menyerap informasi.
Ada anak yang lebih mudah belajar melalui gambar, ada yang unggul dalam bahasa, dan ada pula yang baru bisa menyerap informasi setelah praktik langsung. Oleh karena itu, mengenali potensi dan gaya belajar anak sejak dini menjadi kunci agar proses belajar mereka bisa berlangsung efektif.
Kemampuan kognitif seseorang mencakup proses berpikir, menganalisis, menyimpan, dan menggunakan informasi. Menurut penelitian Shi dan Qu (2022), potensi kognitif yang dikenali sejak dini berkaitan erat dengan prestasi akademik anak di masa depan.
Maka dari itu, pemetaan potensi perlu dilakukan agar anak dapat berkembang sesuai gaya belajar dan kekuatan alaminya.
Salah satu metode yang bisa membantu orang tua dalam mengenali potensi tersebut adalah Tes Kognitif AJT. Tes ini dikembangkan secara khusus untuk mengungkap potensi kognitif anak secara menyeluruh.
Tes tersebut dirancang dengan mempertimbangkan budaya dan konteks anak Indonesia berdasarkan salah satu teori kecerdasan paling komprehensif di dunia dan dikembangkan khusus para ahli di Indonesia, yaitu teori Cattell-Horn-Carroll (CHC).
Tes Kognitif AJT dapat digunakan untuk anak usia 6 hingga 18 tahun (setara SD hingga SMA). Tes ini memberikan banyak manfaat, yakni mengetahui kekuatan dan area pengembangan potensi anak, menyesuaikan pendekatan belajar yang paling cocok, serta memberi panduan bagi orang tua dan guru untuk mendampingi anak dengan lebih tepat.
Tes Kognitif AJT tersedia dalam tiga versi. Pertama, Brief Scale. Jenis tes ini cocok untuk keperluan administrasi, seperti pendaftaran sekolah atau mengetahui gambaran umum IQ.
Kedua, Full Scale. Jenis tes ini mengungkapkan gambaran kemampuan kognitif anak dengan hasil yang lebih lengkap daripada brief scale.
Ketiga, Comprehensive Scale. Jenis tes ini memberikan hasil paling lengkap dan mendalam mengenai seluruh domain kecerdasan anak.
Tes Kognitif AJT tidak hanya berfungsi sebagai alat ukur potensi, tetapi juga berperan dalam mendukung pendidikan yang lebih inklusif.
Hal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-4 tentang pendidikan berkualitas dan pembelajaran sepanjang hayat.
Untuk orang tua yang ingin lebih memahami potensi buah hatinya, Unit Konsultasi Psikologi Universitas Gadjah Mada (UKP UGM) menyediakan layanan Tes Kognitif AJT.
Layanan tersebut tidak hanya menampilkan angka atau skor, tetapi juga memberikan interpretasi bermakna serta rekomendasi praktis untuk mendukung proses belajar anak di rumah dan di sekolah.
Setiap anak berhak dikenali, dipahami, dan bertumbuh sesuai dengan caranya sendiri. Ini dapat dimulai dari satu langkah sederhana, yakni mengenali potensi belajarnya.
Untuk informasi lebih lengkap, orang tua dapat menghubungi UKP UGM melalui WhatsApp di (+62) 85759161581. Anda juga dapat mengunjungi Instagram @ukpugm dan laman resmi UKP di ukp.psikologi.ugm.ac.id.