Advertorial

Pentingnya Penerapan EAP untuk Atasi Masalah Mental di Tempat Kerja

Kompas.com - 30/07/2025, 08:00 WIB

KOMPAS.com - Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia ditantang oleh sejumlah kasus tragis yang menyoroti pentingnya dukungan psikologis di lingkungan kerja.

Karyawan tambang di Halmahera, pekerja di Kalimantan Tengah, hingga pegawai di institusi keuangan nasional menjadi contoh nyata bagaimana tekanan kerja yang tinggi tanpa pendampingan mental yang memadai bisa berujung pada krisis.

Fakta-fakta tersebut menjadi cerminan bahwa isu kesehatan mental masih sering luput dari perhatian.

Padahal, banyak pekerja Indonesia kini menanggung beban yang tak terlihat, mulai dari stres, kelelahan mental, hingga depresi.

Masalah tersebut jelas tidak bisa dianggap sepele. Sebab, ketika kesehatan mental diabaikan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga dapat memengaruhi performa dan produktivitas organisasi secara keseluruhan.

Oleh karena itu, masalah kesehatan mental bukan hanya sekadar deretan angka atau berita duka yang lewat begitu saja. Ini adalah peringatan keras bahwa dunia kerja Tanah Air sedang tidak baik-baik saja.

Pekerjaan yang layak seharusnya tidak hanya memberikan penghasilan, tetapi juga rasa aman dan kesejahteraan bagi pekerja.

Sayangnya, kenyataan di lapangan masih jauh dari ideal. Berbagai faktor risiko, seperti jam kerja yang berlebihan, ketidakjelasan peran, hingga budaya organisasi yang permisif terhadap diskriminasi masih sering ditemukan di lingkungan kerja.

Situasi tersebut diperkuat oleh berbagai temuan riset dalam beberapa tahun terakhir.

Studi dari de Oliveira dan rekan-rekannya pada 2022 menunjukkan bahwa fenomena presenteeism atau kondisi ketika seseorang tetap bekerja meskipun sedang tidak sehat secara mental semakin umum terjadi.

Hal itu mencerminkan bagaimana banyak pekerja merasa terjebak dalam tekanan yang tidak terlihat, tapi terus dipaksakan untuk tetap produktif.

Kemudian, penelitian yang dilakukan oleh Arizal dan Wisana pada 2023 mengungkapkan bahwa tingkat depresi memiliki korelasi dengan keinginan karyawan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Temuan mereka menggarisbawahi betapa pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan psikologis di tempat kerja. Tidak hanya untuk individu, tetapi juga untuk menjaga stabilitas dan keberlanjutan organisasi.

Lalu, pada 2024, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis data yang menegaskan bahwa tekanan di tempat kerja terus menjadi isu global yang berdampak langsung terhadap kesehatan mental karyawan.

Perlunya penerapan  EAP

Berbagai temuan terkait masalah mental yang dihadapi pekerja semakin menguatkan bahwa persoalan ini tidak bisa lagi dipandang sebelah mata dan membutuhkan langkah nyata yang tidak hanya responsive, tetapi juga berkelanjutan.

 Salah satu bentuk komitmen tersebut dapat diwujudkan melalui penerapan employee assistance program (EAP).

Program itu dirancang untuk memberikan dukungan psikologis yang terstruktur bagi karyawan melalui layanan konseling, pelatihan manajemen stres, dan pendampingan dalam situasi krisis.

EAP bukan hanya solusi jangka pendek, melainkan investasi strategis untuk membangun budaya kerja yang sehat dan produktif.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa EAP tidak hanya berdampak positif pada kesehatan mental individu, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi organisasi.

EAP juga terbukti mampu mengurangi stres dan risiko burnout, meningkatkan produktivitas serta efektivitas kerja, dan mencegah ketidakhadiran ataupun presenteeism.

Selain itu, EAP disebutkan bisa memperkuat loyalitas karyawan dan mendukung retensi jangka panjang karena membuat pekerja merasa lebih dihargai serta didukung.

Dalam jangka panjang, kehadiran program EAP juga dapat membantu membangun budaya kerja yang sehat dan suportif yang bisa menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan organisasi.

Agar manfaat EAP benar-benar terasa dan berdampak, implementasinya perlu dilakukan dengan pendekatan yang terarah dan profesional.

Sebab, penerapan EAP tidak cukup hanya dengan menyusun program, perusahaan perlu didampingi oleh pihak yang memahami kompleksitas kesehatan mental di lingkungan kerja dan mampu merancang solusi yang relevan.

Salah satu mitra yang dapat diandalkan dalam penyusunan program tersebut adalah Unit Konsultasi Psikologi (UKP) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Berbekal pengalaman akademik dan praktik lapangan, UKP UGM menawarkan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing organisasi, baik dalam proses asesmen, pelatihan, maupun konseling individual.

Layanan EAP yang disediakan UKP UGM terdiri dari asesmen psikologis, program pelatihan, hingga layanan konseling individual yang seluruhnya dirancang berbasis bukti.

Dengan fokus pada kesejahteraan jangka panjang, UKP UGM berkomitmen mendampingi organisasi dalam membangun lingkungan kerja yang lebih sehat, suportif, dan berkelanjutan bagi seluruh elemen di dalamnya.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai layanan dari UKP UGM, silakan hubungi WhatsApp di nomor (+62)85759161581.

Anda juga bisa mengikuti akun Instagram @ukpugm dan laman resmi UKP di ukp.psikologi.ugm.ac.id.

untuk penulisan subjudul tidak perlu kapital semua

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau