KOMPAS.com – Di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan, keinginan untuk mandiri secara finansial kian menguat di masyarakat.
Banyak orang mempertimbangkan kembali arah hidup dan karier, bahkan ada yang memutuskan meninggalkan zona nyaman sebagai pegawai untuk merintis usaha sendiri.
Langkah besar itu diambil demi memperoleh penghasilan yang lebih fleksibel, berkelanjutan, sekaligus kendali atas masa depan finansial.
Salah satunya dilakukan oleh Widya Purnama Sari, mantan karyawan yang kini sukses menjadi pengusaha usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berkat program Rumah BUMN binaan BRI.
Widya adalah pemilik Kreasi Nyobi, produsen pempek ikan tenggiri berkualitas tinggi. Dimulai pada 2020, usaha ini berangkat dari latar belakang sang suami yang telah lama menjadi pemasok produk perikanan.
Awalnya, pempek buatannya hanya dijual kepada teman dekat. Namun, berkat ketekunan dan eksperimen resep selama hampir setahun, produknya mulai dikenal luas.
“Saat itu hanya coba-coba saja karena sering lihat suami bawa bahan ikan. Akhirnya saya olah, dan lama-lama ketemu resep yang cocok,” ujar Widya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Minggu (10/8/2025).
Pada akhir 2023, Widya mulai aktif mengikuti pelatihan dan pendampingan dari berbagai komunitas UMKM, termasuk Rumah BUMN binaan BRI di Jakarta.
Melalui pelatihan daring dan luring, ia mendapatkan wawasan pengelolaan bisnis, pemasaran digital, legalitas produk, hingga membangun relasi dengan sesama pelaku usaha.
“Pelatihan itu hampir setiap hari ada, kadang online, kadang offline. Kami diajarkan bikin akun e-commerce, TikTok, sampai cara ekspor. Materi yang paling membantu adalah soal berjualan di e-commerce dan mem-branding produk,” jelasnya.
Kreasi Nyobi memproduksi pempek dalam dua kategori, yakni frozen dan ready-to-eat. Untuk acara katering, tersedia paket pondokan isi 3 pempek seharga Rp 12.000. Sementara, penjualan reguler dibanderol Rp 4.000 per buah, dengan kapasitas produksi 4.000 buah per bulan.
Pemasaran dilakukan secara langsung, melalui jaringan reseller yang ditemui di bazar, serta partisipasi di berbagai acara UMKM dan BUMN. Kehadiran di acara itu tak hanya mendorong penjualan, tetapi juga memperluas jejaring bisnis.
Saat ini, usaha dijalankan oleh tiga orang di bagian produksi dan satu orang di bagian operasional. Omzet bulanan mencapai Rp 10–15 juta, tetapi seluruhnya masih diputar kembali sebagai modal.
“Belum ambil keuntungan besar, masih putar modal semua. Ke depan, saya ingin punya toko offline, tapi butuh dana yang cukup besar,” kata Widya.
Dengan semangat belajar tinggi, Widya membuktikan bahwa program Rumah BUMN binaan BRI efektif memberdayakan pelaku usaha mikro hingga ultramikro untuk tumbuh dan berkembang.
Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi mengatakan, hingga akhir Juni 2025, BRI mengelola 54 Rumah BUMN dan telah mengadakan lebih dari 16.000 pelatihan.
“Melalui Rumah BUMN, BRI tidak hanya memberikan akses pelatihan dan pendampingan, tetapi juga membuka jalan bagi pelaku usaha untuk naik kelas dan go digital. Semakin banyak UMKM yang tumbuh, semakin kuat fondasi perekonomian bangsa,” ujarnya.