KOMPAS.com - Rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) XI 2025 di Hotel Tentrem, Daerah Istimewa Yogyakarta, resmi ditutup pada Sabtu (9/8/2025).
Penutupan acara tersebut bersamaan dengan berakhirnya Pasar Malam Indonesia (PMI) 2025 Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG).
Malam puncak berlangsung meriah dengan penampilan musisi Project Band dan Jikustik. Ribuan warga dan tamu undangan memenuhi area TBEG untuk menikmati hiburan musik, tarian, dan pertunjukan budaya.
Selain hiburan musik, acara penutupan juga menampilkan kesenian dari berbagai Kawasan Cagar Budaya (KCB) di Yogyakarta. Atraksi ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan keragaman budaya di tiap kemantren.
Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan, SE, MM, yang hadir dalam acara penutupan JKPI XI 2025 menyampaikan rasa syukur atas kelancaran seluruh rangkaian kegiatan.
Menurutnya, para tamu yang terdiri dari kepala daerah hingga anggota delegasi JKPI mengaku puas dengan penyelenggaraan Rakernas di Yogyakarta.
“Syukur alhamdulillah untuk JKPI selama satu minggu berlangsung lancar, sukses semuanya. Tamu dari 58 kepala daerah yang hadir merasa senang dan mengapresiasi JKPI di Yogyakarta,” ujar Wawan dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (11/8/2025).
Wawan menegaskan, pelaksanaan JKPI XI berdampak positif pada perekonomian warga. Pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) memperoleh keuntungan, sedangkan sektor pariwisata juga mengalami peningkatan.
Rakernas kali ini juga melahirkan sejumlah kesepakatan strategis. Salah satunya adalah menetapkan Yogyakarta sebagai Ibu Kota Budaya Indonesia.
Untuk diketahui, Rakernas JKPI XI 2025 menghasilkan sejumlah poin penting dan kesimpulan. Pertama, Forum Rakernas menetapkan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya sebagai Dewan Penasehat JKPI.
Kedua, peserta rakernas menerima laporan pertanggungjawaban pengurus. Ketiga, Forum Rakernas JKPI XI 2025 menetapkan Yogyakarta menjadi Ibu Kota Kebudayaan Indonesia.
Keempat, Program Sharing City akan dilaksanakan pada 2026 dengan melakukan studi ke UNESCO dan kota-kota yang menjadi best practice. Kelima, Forum Rakernas JKPI memutuskan Rakernas XII 2026 akan dilaksanakan di Ternate.
Selain keputusan strategis, forum juga membahas tantangan pengelolaan JKPI. Salah satunya adalah pentingnya persiapan lingkungan sosial bagi daerah yang ingin mengajukan warisan budaya ke UNESCO. Beberapa aset budaya juga masih berstatus kepemilikan swasta.
Selain itu, beberapa daerah juga disarankan memperkuat narasi kuliner sekaligus ekosistem pemasarannya. Palembang, Ngawi, Salatiga, Ternate, dan Sumbawa menjadi contoh wilayah yang tengah mengembangkan potensi kulinernya.
Beberapa daerah juga berupaya mempercepat revitalisasi cagar budaya melalui kolaborasi sesama anggota JKPI.
Ruang perjumpaan budaya Nusantara
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti, SSos, MM, mengatakan bahwa sebagai rangkaian agenda Rakernas JKPI XI 2025, Pasar Malam Indonesia (PMI) 2025 merupakan ajang merayakan ragam budaya, kuliner, dan kreativitas Nusantara dalam suasana malam Yogyakarta yang hangat.
Lebih dari sekadar hiburan, PMI juga menjadi ruang perjumpaan yang memupuk kebhinekaan melalui interaksi antara peserta, tamu, dan masyarakat.
Menurutnya, PMI 2025 dikunjungi hampir 50.000 orang selama pelaksanaan. Sementara, agenda Indonesia Street Performance (ISP) yang digelar di Malioboro hingga Titik Nol Kilometer dihadiri 8.000 pengunjung.
PMI, kata Yetti, melibatkan 115 stan dari berbagai daerah serta 20 delegasi yang tampil dalam pentas budaya. Keberadaan acara ini memberi dampak positif bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Rangkaian Rakernas JKPI XI dimulai sejak 30 Juli 2025 melalui Festival Sastra Yogyakarta yang kemudian berlanjut hingga malam penutupan PMI.
“Dengan penuh rasa bangga, saya menyampaikan bahwa hasil Rakernas telah menetapkan Yogyakarta sebagai Ibu Kota Budaya Indonesia,” ujar Yetti.
Yetti menilai, predikat tersebut dianggap layak mengingat sejarah panjang Yogyakarta dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya, mulai dari keberadaan Kawasan cagar budaya, kampung-kampung budaya, penguatan industri batik, seni pertunjukan, hingga kuliner tradisional.
“Bahkan, tatanan ruang kota Yogyakarta yang khas dan penuh nilai filosofi masih tetap dipertahankan dan dijaga kelestariannya,” tuturnya.
Yetti juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat. Partisipasi delegasi setiap daerah melalui pentas budaya, pameran produk unggulan, kuliner khas, dan kolaborasi seni membuat PMI 2025 terasa istimewa.
Rangkaian PMI 2025 juga mencakup Pameran RUMAKET bertema “Wastra, Kriya, Ksatria – Cerita dari Tanah Nusantara”, pelatihan (gladhen) wayang dan karawitan, pentas Warisan Budaya Takbenda, serta pertunjukan kolaboratif wayang kulit, wayang golek, dan wayang wong yang dibawakan anak-anak.
JKPI XI 2025. Ada pula Festival Jogja Kota (Festa) bertema “Kumandhang” yang menampilkan potensi 14 kemantren serta Warung Kota (Wakot) yang menyajikan kuliner dan produk khas kawasan cagar budaya.
“Semoga penetapan Yogyakarta sebagai Ibu Kota Budaya Indonesia menjadi awal dari kiprah yang lebih besar dalam menjaga, mengembangkan, dan mempromosikan kekayaan budaya bangsa,” kata Yetti.
Direktur Eksekutif JKPI Dr (cand) Nanang Asfarinal, Msi, menilai bahwa partisipasi masyarakat dalam rangkaian acara Rakernas JKPI 2025 sangat luar biasa. Hal ini dibuktikan melalui besarnya dukungan terhadap seniman yang tampil.
Menurutnya, jumlah pengunjung yang mencapai puluhan ribu menjadi standar baru bagi penyelenggaraan JKPI di kota lain.
“50.000 pengunjung bukan angka yang sedikit. Ini pekerjaan rumah besar untuk Jaringan Kota Pusaka untuk kota yang lain karena standar penyelenggaraan JKPI XI 2025 di Yogyakarta luar biasa,” ungkap Nanang.
Nanang menyebut, keberhasilan Rakernas JKPI XI 2025 menjadi bukti kemampuan Pemkot Yogyakarta dalam menggelar acara berskala nasional, khususnya Dinas Kebudayaan Yogyakarta.
Rangkaian agenda tersebut menunjukkan kekuatan pertunjukan ruang publik, street performance, serta antusiasme warga di setiap kemantren. Acara ini juga dinilai mampu memberikan multiplier effect ekonomi bagi masyarakat.
“Selain meninggalkan kesan mendalam bagi peserta dan pengunjung, gelaran ini juga diharapkan dapat memperkuat posisi Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan nasional,” katanya.