Komitmen tersebut diwujudkan lewat inisiatif Program Literasi Anak Negeri, yang kali ini dilaksanakan di SD Negeri (SDN) 1 Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Program Literasi Anak Negeri di SDN 1 Malaka berlangsung dalam berbagai bentuk kegiatan, di antaranya pelatihan bagi guru serta kelas tambahan interaktif bagi siswa, yang didukung tenaga pengajar dan modul khusus guna meningkatkan keterampilan membaca.
Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi menjelaskan bahwa program tersebut memiliki sejumlah tujuan penting.
“BRI Peduli Literasi Anak Negeri dirancang untuk meningkatkan kemampuan membaca dan memahami bacaan, mendorong kemandirian belajar, memperkuat rasa percaya diri serta rasa ingin tahu siswa, sekaligus membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan,” kata Hendy dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Kamis (14/8/2025)
Program tersebut sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022 yang menyebut bahwa sebanyak 7,6 juta penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas masih buta huruf.
Khusus di NTB, tingkat literasi masih rendah. Provinsi ini menempati urutan ketiga terendah secara nasional, dengan 1 dari 9 penduduk mengalami buta huruf. K
Kondisi tersebut juga tecermin di tingkat sekolah dasar, yang mana banyak siswa masih tertinggal dalam kemampuan membaca dasar.
Ketidakmampuan membaca sejak dini berdampak pada pemahaman pelajaran lain, memperburuk ketertinggalan akademik, serta menurunkan kepercayaan diri siswa.
“Dengan metode pengajaran berbasis sains yang disesuaikan dengan konteks lokal, program ini tidak hanya meningkatkan kemampuan siswa, tetapi juga memperkuat kapasitas guru agar intervensi bisa berdampak jangka panjang,” tambah Hendy.
Selain kegiatan pembelajaran, BRI Peduli juga melakukan perbaikan infrastruktur sekolah, termasuk renovasi perpustakaan dan penambahan koleksi buku berbasis ilmu pengetahuan untuk menumbuhkan minat baca siswa.
Untuk membuat suasana belajar lebih menyenangkan, program tersebut menghadirkan permainan kreatif berbasis tantangan literasi yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa dan dapat diakses seluruh murid.
“Semoga kesempatan ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh siswa dan guru. Harapan kami, program ini menjadi model yang dapat direplikasi di wilayah lain, sehingga lebih banyak anak Indonesia bisa mendapatkan akses pendidikan berkualitas,” tutur Hendy.
Kepala SDN 1 Malaka, Laili Muniroh, menilai bahwa program tersebut sangat efektif bagi para siswa.
Ia menuturkan, sekolahnya memiliki keterbatasan akses buku, bahan bacaan, serta fasilitas pendidikan sehingga kemampuan literasi anak cenderung lebih rendah dibandingkan di daerah perkotaan.
“Program ini menjadi jembatan menghadirkan sumber bacaan yang layak, agar anak-anak tidak tertinggal dalam keterampilan membaca, menulis, dan memahami informasi. Program ini bukan hanya soal membaca, melainkan juga memahami, mengolah, dan mengkritisi informasi. Anak-anak jadi terbiasa berpikir analitis dan kreatif, modal penting untuk melanjutkan pendidikan dan menghadapi tantangan masa depan,” jelasnya.
Laili berharap, keberadaan program tersebut dapat memperluas wawasan siswa, menumbuhkan kepercayaan diri, dan membuat anak-anak di daerah tertinggal lebih siap bersaing dengan siswa dari daerah lain secara setara.
“Kami sangat berterima kasih BRI Peduli sudah hadir membantu sekolah kami,” tandasnya.