Advertorial

Gapura Panca Waluya, Konsep Pemprov Jabar untuk Bentuk Karakter Siswa

Kompas.com - 17/08/2025, 10:33 WIB

KOMPAS.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) berkomitmen mencetak peserta didik yang berkarakter melalui konsep Gapura Panca Waluya. 

Konsep tersebut bertujuan melahirkan siswa yang cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), pinter (pintar), dan singer (sigap).

Pendidikan karakter Panca Waluya Jabar Istimewa yang diinisiasi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menumbuhkan semangat ketarunaan dan menanamkan nilai-nilai bela negara.

Program tersebut menekankan pembentukan pribadi positif melalui penguatan integritas, disiplin, serta tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan.

Sebagai bentuk implementasi, KDM, sapaan akrab Dedi Mulyadi, mengeluarkan Surat Edaran Nomor 43/PK.03.04/KESRA yang ditujukan kepada bupati/wali kota yang berwenang pada jenjang PAUD, SD, dan SMP, Kepala Dinas Pendidikan Jabar untuk SMA/SMK sederajat, serta Kantor Kementerian Agama yang menaungi pesantren.

Ia menegaskan bahwa peserta didik dengan perilaku khusus, seperti tawuran, merokok, mabuk, balapan motor, menggunakan knalpot bising, atau tindakan tidak terpuji lainnya, akan mendapat pembinaan khusus. Program ini dilaksanakan setelah mendapat persetujuan orangtua, melalui kerja sama Pemprov Jabar dengan pemda kabupaten/kota serta TNI/Polri.

KDM juga menekankan pentingnya pendidikan moral dan spiritual melalui penguatan pendidikan agama sesuai keyakinan masing-masing.

Dalam penutupan program pendidikan karakter Gapura Panca Waluya di Markas Marinir Cilandak, Jakarta, KDM berpesan agar peserta memiliki visi kuat dan tidak mudah menyerah menghadapi tantangan. 

KDM menceritakan kegagalan yang pernah dialaminya, termasuk saat tidak lolos akademi militer. 

Namun, ia menjadikan kegagalan tersebut sebagai motivasi yang mendorongnya hingga saat ini bisa menjadi seorang gubernur.

Pesan tersebut bertujuan membekali peserta dengan mental pantang menyerah agar mampu menghadapi berbagai rintangan hidup dan mencapai cita-cita.

Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar Herman Suryatman menambahkan, program pendidikan karakter Gapura Panca Waluya Angkatan II di Depo Pendidikan (Dodik) Bela Negara Rindam III/Siliwangi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (29/6/2025), dilaksanakan secara terstruktur, sistemik, dan masif.

“Kegiatan ini kami desain dengan standar kompetensi lulusan, yaitu anak yang cageur, bageur, bener, pinter, singer—generasi Panca Waluya,” ujarnya.

Herman optimistis, pendidikan karakter selama 21 hari ini bisa berdampak besar. 

Meski singkat, ia yakin program akan melahirkan calon pemimpin masa depan, baik di pemerintahan, dunia usaha, profesi, maupun pertanian.

Apresiasi dari LPAI

Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) mengapresiasi program bela negara bagi siswa sekolah yang digagas Pemprov Jabar.

Ketua LPAI Seto Mulyadi menilai program itu sebagai langkah gemilang karena mampu menyalurkan potensi anak yang kerap terhambat kondisi lingkungan atau keluarga.

“Sampai saat ini saya menyimpulkan bahwa ini adalah satu langkah yang sangat gemilang,” ujar Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto.

Menurutnya, program bela negara mampu menyalurkan potensi setiap anak yang pada dasarnya kreatif, energik, dan penuh dinamika. Namun, karena lingkungan yang tidak kondusif, potensi itu sering kali menyimpang.

Ia mengingatkan, pendidikan formal dan informal perlu dilengkapi dengan pendidikan nonformal. Program bela negara di Dodik Rindam III/Siliwangi, Cikole, Lembang, menjadi salah satu alternatif.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau