Advertorial

Semangat Gotong Royong Warnai Peringatan 80 Tahun Kemerdekaan RI di Surabaya

Kompas.com - 19/08/2025, 10:32 WIB

KOMPAS.com – Sabtu (16/7/2025) malam, suasana Kampung RT 09/RW 4, Kelurahan Darmo, Wonokromo, Surabaya, tampak berbeda. Jalan kampung yang biasanya lengang menjadi pusat keramaian.

Di sana, panggung sederhana berdiri tegak dengan dihiasi umbul-umbul merah putih dan lampu hias yang kelap-kelip. Ratusan warga, mulai dari anak-anak hingga para sesepuh, tumpah ruah mengikuti tasyakuran peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Acara dimulai dengan menyanyikan lagu “Hari Merdeka” ciptaan H Muntahar. Di panggung itu, ibu-ibu kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) memandu jalannya nyanyian, sementara para warga berdiri tegak sambil mengepalkan tangan. Suasana penuh semangat, guyub, dan menyatu tanpa sekat.

“Tasyakuran ini adalah wujud kebersamaan warga. Semua dikreasi oleh warga sendiri dan dinikmati bersama-sama,” ujar Ketua RT 09, Suli Himawan, malam itu seperti dikutip dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (19/8/2025).

Selain warga setempat, hadir pula Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya Adi Sutarwijono, Ketua RW 4 Malik, serta tokoh masyarakat lainnya.

Dalam sambutannya, Adi menyampaikan apresiasi atas kekompakan warga.

“Semangat gotong royong inilah yang menjadi modal penting bangsa kita. Dengan kebersamaan, kita bisa menjaga warisan kemerdekaan sekaligus mengisinya dengan karya terbaik,” ujarnya.

Tradisi tasyakuran malam 17 Agustus telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kampung-kampung di Surabaya. Hampir setiap sudut kota, dari pusat hingga pinggiran, berbagai kegiatan menyambut kemerdekaan sudah menjadi budaya. Hari itu, jalan-jalan ditutup untuk pesta rakyat, panggung hiburan didirikan, dan berbagai lomba digelar untuk menambah keceriaan.

Biasanya, sejak awal Agustus, warga berbondong-bondong melakukan kerja bakti. Gapura dicat ulang, penjor dipasang, umbul-umbul berkibar di sepanjang jalan, dan lampu hias berwarna-warni yang menambah semarak pada malam hari.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, dalam sambutannya yang dibacakan di sejumlah kampung, menekankan pentingnya menjaga jiwa gotong royong sebagai wujud nyata nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Pada kesempatan itu, Adi Sutarwijono juga mengajak seluruh warga untuk mendoakan para pahlawan bangsa.

“(Mari) kita panjatkan doa untuk para pejuang yang telah mendahului kita. Semoga mereka mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Semoga kita juga diberikan kekuatan untuk melanjutkan api perjuangan mereka,” katanya.

Keesokan harinya, Minggu (17/8/2025), peringatan puncak HUT ke-80 Kemerdekaan RI digelar di Balai Kota Surabaya. Upacara berlangsung khidmat, dipimpin Wali Kota Eri Cahyadi, dengan peserta mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.

Adi Sutarwijono mendapat kehormatan membacakan teks Proklamasi—momen yang selalu mengingatkan bangsa ini pada detik-detik bersejarah 1945.

Setelah upacara, acara dilanjutkan dengan ramah tamah, penampilan lagu perjuangan, tarian daerah, dan kreasi seni anak-anak muda Surabaya. Semuanya menjadi simbol bahwa semangat nasionalisme terus hidup di tengah masyarakat yang majemuk.

Menurut Adi, kemerdekaan bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan panjang bangsa.

“Seperti pesan Bung Karno, kemerdekaan adalah jembatan emas. Tugas generasi sekarang adalah mendirikan negeri yang adil, makmur, dan berdaulat di seberangnya,” ucapnya.

Sebagai Ketua DPRD Surabaya, ia menegaskan komitmen lembaganya untuk mengawal pembangunan kota, mulai dari infrastruktur skala besar hingga program di tingkat kampung, termasuk perbaikan rumah tidak layak huni.

“Kami ingin memastikan pembangunan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga, terutama wong cilik. Karena pada hakikatnya, kemerdekaan harus memberi kesejahteraan bagi semua,” tambahnya.

Delapan puluh tahun Indonesia merdeka, Surabaya kembali menegaskan dirinya sebagai kota yang tak pernah kehilangan ruh kebersamaan, dari kerja bakti mempercantik kampung, lomba penuh tawa, hingga doa untuk para pahlawan, semuanya memperlihatkan bahwa gotong royong masih menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.

Semarak peringatan kemerdekaan tahun ini bukan sekadar pesta rakyat, melainkan juga pengingat bahwa kemerdekaan adalah anugerah yang harus terus dijaga, dirawat, dan diisi dengan kontribusi nyata.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau