Advertorial

Setahun Taruna Ikrar Nakhodai BPOM: Menjulang, Membumi, Mengakar untuk Indonesia Emas 2045

Kompas.com - 19/08/2025, 17:54 WIB

KOMPAS.com – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menegaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya akan terus melakukan reformasi dan inovasi dalam rangka menjaga keamanan obat, obat bahan alam, makanan, kosmetik, serta suplemen kesehatan di Indonesia.

Hal itu ia sampaikan dalam refleksi satu tahun kepemimpinannya sejak dipercaya untuk memimpin BPOM pada 19 Agustus 2024.

Menurut Taruna, pengawasan obat dan makanan bukanlah perkara teknis semata, melainkan amanah mulia dalam menyelamatkan nyawa dan menjaga masa depan generasi. 

“Setiap izin edar, setiap peringatan publik, dan setiap langkah penegakan hukum, saya niatkan sebagai ibadah untuk melindungi rakyat,” ujar Taruna dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa (19/8/2025).

“Saya percaya, setiap butir kerja yang kita persembahkan akan bernilai ibadah jika diniatkan untuk melindungi rakyat,” tambahnya. 

Reformasi dan inovasi

Dalam setahun terakhir, lanjut dia, BPOM bertransformasi menjadi lembaga yang lebih terbuka dan dekat dengan masyarakat.

Tak hanya itu, BPOM juga kini lebih tegas dalam memberantas mafia obat, obat bahan alam, kosmetik, dan pangan berbahaya.

“Pengawasan kini hadir bukan hanya di meja regulator, tetapi juga di laboratorium, pasar tradisional, bahkan di tengah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM),” jelas Taruna.

Salah satu langkah nyata adalah percepatan perizinan melalui digitalisasi dan integrasi data lintas sektor. 

Menurutnya, proses izin edar yang lebih cepat memberikan kepastian hukum tanpa mengorbankan kualitas pengawasan. Dengan begitu, produk aman, berkhasiat, dan berkualitas dapat segera dinikmati masyarakat. 

Selain itu, BPOM memperkuat operasi intelijen serta menjalin kerja sama dengan aparat penegak hukum dalam memberantas obat ilegal ataupun palsu, kosmetik ilegal, dan pangan berbahaya.

“Perlindungan rakyat adalah garis merah yang tidak bisa ditawar,” imbuhnya.

UMKM dan kolaborasi ABG

Taruna menilai, BPOM tidak bisa berjalan sendiri. Oleh karena itu, pihaknya menghidupkan kembali konsep academic, business, government (ABG) sebagai poros kolaborasi.

“Perguruan tinggi kami ajak memperkuat riset dan inovasi, dunia usaha kami dampingi agar bertumbuh sehat. Sementara, pemerintah daerah (pemda) kami libatkan agar pengawasan lebih merata,” jelasnya.

Berdasarkan data BPOM, sektor obat, makanan, kosmetik, dan produk kesehatan memiliki perputaran ekonomi lebih dari Rp 6.000 triliun per tahun. 

Adapun industri farmasi tumbuh hampir 10 persen per tahun, kosmetik 4,7 persen, dan pangan diproyeksikan mencapai Rp 4.388 triliun pada 2025.

Sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dinilai sebagai nadi penting dari ekosistem tersebut. 

Taruna menyebut lebih dari 12.000 UMKM telah mendapat fasilitasi BPOM, mulai dari sertifikasi hingga pelatihan keamanan pangan. 

Rinciannya, 1.043 di sektor obat bahan alam, 1.153 di kosmetik, dan hampir 9.800 di pangan olahan.

“Dukungan ini memastikan UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas, menembus pasar nasional hingga global,” kata Taruna.

Visi menjulang, membumi, mengakar

Ke depan, BPOM menetapkan tiga kata kunci sebagai kompas visi: menjulang, membumi, dan mengakar.

Taruna menjelaskan, menjulang berarti BPOM harus berkelas dunia, bereputasi global, dan mampu bersaing secara internasional. 

Sementara, membumi berarti tetap berpijak pada kebutuhan rakyat, dekat dengan masyarakat, dan responsif terhadap masalah sehari-hari.

“Mengakar berarti bekerja dengan fondasi pengetahuan, profesionalisme, dan integritas yang kokoh,” jelas Taruna.

Visi tersebut, lanjutnya, sejalan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045. 

Bagi dia, kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan, melainkan juga bebas dari ancaman obat palsu, makanan berbahaya, dan zat beracun yang mengintai rakyat.

“Dengan fondasi yang telah dibangun, saya optimistis BPOM akan terus menjadi garda terdepan menuju cita-cita besar bangsa: Indonesia Sehat, Indonesia Berdaulat, Indonesia Emas 2045,” kata Taruna.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau