KOMPAS.com – Universitas Negeri Malang (UM) memperkuat kolaborasi riset dan pengabdian masyarakat dengan menggandeng 24 perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH) se-Indonesia.
Sinergi ini terwujud dalam kegiatan monitoring dan evaluasi Laporan Kemajuan Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) dan Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI).
Kegiatan yang digelar di Malang, Jawa Timur, Kamis (11/9/2025), ini dihadiri langsung oleh para ketua lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat (LPPM) atau direktorat riset dan pengabdian masyarakat (DRPM) dari berbagai perguruan tinggi. Pertemuan ini diharapkan bisa mendorong PTN-BH di Indonesia menjadi yang terdepan.
Ketua LPPM UM Prof Dr Markus Diantoro, MSi, menegaskan bahwa sinergi ini penting dilakukan untuk menciptakan dampak yang lebih luas bagi masyarakat dan bangsa. Ia menyebutkan, kolaborasi riset akan menghasilkan lebih banyak inovasi dan luaran yang lebih besar.
“Pertemuan ini bukan sekadar formalitas, melainkan penuh harapan dan energi untuk membawa PTN-BH Indonesia menjadi yang terdepan,” ujarnya dikutip dari siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (12/9/2025).
Markus menilai bahwa semakin banyak proposal yang masuk, maka semakin besar pula dampak yang dihasilkan.
“Output riset dan pengabdian akan lebih besar jika dikerjakan bersama,” ucapnya.
Peserta dari 24 PTN-BH se-Indonesia berfoto bersama usai kegiatan monitoring dan evaluasi kolaborasi riset di Universitas Negeri Malang. Senada, Ketua Asosiasi RKI dan PMKI Prof Dr R Benny Riyanto, SH, MHum, CN, menekankan bahwa riset kolaborasi adalah jalan strategis untuk mencapai reputasi internasional.
Benny melanjutkan, melalui program ini dua poin, tri darma perguruan tinggi, yakni riset dan pengabdian masyarakat bisa tercapai sekaligus. Melalui kolaborasi ini, inovasi diharapkan bisa dipercepat dan posisi Indonesia dalam kancah riset global semakin kuat.
Sementara itu, Rektor UM Prof Dr Hariyono, MPd, menyoroti soal perluasan kerja sama ke luar PTN-BH. Menurutnya, jika perguruan tinggi non-BH, swasta, dan komunitas masyarakat juga digandeng, dampaknya akan jauh lebih besar.
Hariyono menambahkan, kendala birokrasi sering kali memperlambat eksekusi penelitian. Oleh karena itu, ia akan berdiskusi dengan para rektor PTN-BH dan kementerian untuk menyederhanakan birokrasi agar peneliti dapat segera mengeksekusi ide-ide mereka.
Selain birokrasi, ia juga mengajak para pimpinan LPPM dan DRPM untuk memperkuat budaya sitasi karya ilmiah dalam negeri. Hal ini dilakukan karena banyak penelitian yang sudah dipublikasikan, tapi sitasinya masih rendah.
Sinergi ini diharapkan dapat mempercepat inovasi dan memperkuat posisi Indonesia dalam kancah riset global, sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) pada bidang pendidikan dan inovasi.