KOMPAS.com – Wahana Visi Indonesia (WVI) bersama Seoul Guarantee Insurance (SGI) kembali mengadakan program SGI Dream Class untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Lewat program itu, kedua lembaga menghibahkan sejumlah perangkat digital untuk tiga sekolah di Jakarta Utara yang merupakan lokasi padat penduduk dengan kondisi kerentanan sosial ekonomi tinggi.
Digelar perdana pada 2022, program SGI Dream Class sejauh ini sudah dilaksanakan sebanyak empat kali dengan total penerima manfaat 5.096 peserta didik di area Jakarta.
Adapun tahapan program keempat dilakukan sejak Juli 2025 dan diawali dengan melakukan penilaian awal di beberapa sekolah yang menjadi rekomendasi.
Rekomendasi itu dikeluarkan oleh Suku Dinas Pendidikan Jakarta Utara dan kepala satuan pelaksana (kasatlak) di level kecamatan.
Setelah mendapat rekomendasi, kegiatan dilanjutkan dengan serah terima kepada pihak sekolah dampingan.
Program Manager WVI Yonathan Prasha mengatakan, pihaknya menghargai komitmen SGI dalam mendukung upaya mendorong terwujudnya kehidupan yang utuh dan bermakna bagi anak-anak melalui pendidikan.
“Penghargaan yang sama juga kami sampaikan kepada pemerintah dan pihak sekolah sebagai mitra, termasuk guru dan peserta didik. Mereka memiliki tanggung jawab penting dalam merawat perangkat digital yang telah diberikan,” ujar Yonathan dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (16/9/2025).
Yonathan berharap, perangkat digital yang diberikan dapat membawa manfaat berkelanjutan sekaligus bisa memperkuat proses belajar bagi anak-anak dan sekolah.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kassie SD Suku Dinas Pendidikan Jakarta Utara 2 Muhaeri mengaku mengapresiasi upaya dari WVI dan SGI yang memberikan bantuan.
Menurutnya, pemerintah telah mengalokasikan dana khusus untuk sektor pendidikan, tapi pengadaan fasilitas seperti perangkat digital masih sangat terbatas.
“Dengan adanya fasilitas ini diharapkan sekolah dapat lebih mengarahkan peserta didik untuk menggunakannya dengan maksimal, terutama untuk kegiatan asesmen nasional berbasis komputer (ANBK),” kata Muhaeri.
Bentuk kontribusi untuk Indonesia
Chief Officer of Jakarta Representative Office–Seoul Guarantee Insurance Sanghoon Oh menjelaskan bahwa SGI Dream Class merupakan bentuk kontribusi SGI terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak-anak di Indonesia.
“Program ini telah diadakan bertepatan dengan dibukanya kantor perwakilan kami di Jakarta pada 2022. Siswa sekolah merupakan harapan masa depan Indonesia sehingga lingkungan sekolah yang kondusif dan fasilitas memadai sangat dibutuhkan untuk mendukung mereka sebagai sumber daya masa depan bangsa,” jelas Sanghoon.
SGI Dream Class merupakan bentuk kontribusi SGI terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak-anak di Indonesia.Sanghoon menambahkan, SGI Dream Class bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dan siswa dalam mengakses serta memanfaatkan perangkat digital.
Hal tersebut diberikan karena Indonesia masih menghadapi berbagai kendala. Salah satu tantangan utama terletak pada guru. Banyak di antara mereka yang belum memiliki keterampilan digital memadai untuk menghadapi tuntutan abad 21.
Kesenjangan dalam literasi digital itu disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya pelatihan yang terintegrasi, terbatasnya infrastruktur, rendahnya motivasi, serta kurangnya dukungan untuk pengembangan profesional mereka.
Menurut berbagai jurnal, kondisi tersebut menyebabkan banyak guru kesulitan mendesain pembelajaran yang terintegrasi dengan teknologi secara efektif, khususnya di daerah-daerah terpencil yang memiliki akses terbatas ke teknologi.
Untuk mengatasi masalah itu, pelatihan berbasis praktik dan integrasi literasi digital dalam kurikulum calon guru menjadi kunci utama dalam peningkatan kompetensi mereka.
Di sisi lain, tantangan juga muncul dari siswa yang masih terbatas dalam hal akses perangkat digital, baik di rumah maupun di sekolah.
Padahal, di era digital, siswa idealnya perlu menguasai berbagai keterampilan, seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.
Namun, keterbatasan perangkat yang ada menghambat pencapaian keterampilan tersebut.
Oleh karena itu, penguatan literasi digital guru berperan sangat penting karena langsung berdampak pada peningkatan kompetensi siswa dalam mengadopsi teknologi pembelajaran.
Tantangan utama yang perlu diatasi adalah meningkatkan akses terhadap perangkat digital sekaligus memberikan pembinaan yang cukup bagi guru.
Hal itu agar mereka dapat berfungsi dengan baik sebagai fasilitator utama dalam pembelajaran berbasis teknologi.