KOMPAS.com – Bupati Keerom, Piter Gusbager, mengunjungi tiga kampung di Distrik Towe, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua, pada Rabu (17/9/2025) hingga Jumat (19/9/2025).
Ketiga kampung itu adalah Kampung Bias, Kampung Niliti, dan Kampung Towe Hitam. Seluruhnya berbatasan langsung dengan Kabupaten Pegunungan Bintang dan negara tetangga Papua Nugini.
Kunjungan ini tidak hanya bertujuan menyapa masyarakat, tetapi juga meninjau kondisi lapangan, menyalurkan bantuan material serta dana, dan memastikan warga memperoleh layanan dasar yang selama ini terbatas.
Sepuluh jam jalur darat menuju Kampung Bias
Rabu (17/9/2025) pukul 03.00 WIT, Bupati Piter bersama rombongan berangkat dari Distrik Arso Kota menuju Kampung Bias. Perjalanan ditempuh selama sekitar 10 jam melalui jalur darat yang penuh tantangan.
Sebelum tiba di Bias, rombongan melewati jalan berlubang, sebagian ruas jalan transnasional yang belum diaspal, serta beberapa sungai tanpa jembatan. Pukul 13.00 WIT, mereka akhirnya tiba di Kampung Bias.
Di sana tampak aparat kampung, guru, tenaga kesehatan, dan masyarakat setempat. Kehadiran Bupati Keerom yang tanpa pemberitahuan sebelumnya membuat warga kaget.
“Saya ke sini memang sengaja tidak memberitahu terlebih dahulu sehingga bisa melihat langsung kondisi Kampung Bias,” ujar Piter dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa (23/9/2025).
Meski terkejut, warga menyambut Bupati Piter dengan suka cita penuh kesederhanaan dan kekeluargaan. Orang tua, pemuda, hingga pelajar ikut hadir menyambut.
Salurkan bantuan untuk warga dan gereja
“Saya datang bawa bahan makan (bama), pakaian, dan bantuan dana bagi gereja dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kampung Bias,” ungkap Piter.
Bantuan bama dan pakaian dibagikan kepada setiap keluarga dan anak-anak di Kampung Bias. Piter juga mengunjungi rumah ibadah (gereja) dan memberikan bantuan keagamaan sebesar Rp 1 miliar yang dibagikan untuk 10 gereja masing-masing Rp 100 juta.
Bersama Kepala SD Negeri Bias, Yulianus Yesnath, Piter meninjau kondisi sekolah yang sejak dibangun pada 2009 kini rusak berat dan tak layak.
“Saya sudah cek langsung sekolah memang kondisinya rusak berat sehingga tahun depan kami akan bangun sekolah yang permanen. Kami juga akan bangun rumah guru-guru sehingga mereka bisa tinggal dan mengajar anak-anak kita di sini,” katanya.
Piter juga menambahkan jumlah guru sebanyak tiga orang untuk memperkuat SD Negeri Bias.
Menyusuri sungai menuju Kampung Niliti
Karena hari sudah sore, Bupati Keerom dan rombongan bermalam di Kampung Bias sebelum melanjutkan perjalanan ke Kampung Niliti pada Kamis (18/9/2025) pagi.
Pukul 07.30 WIT, mereka menggunakan tiga perahu motor milik masyarakat setempat menyusuri Sungai Bias. Musim kemarau membuat sebagian besar aliran sungai surut sehingga perahu motor harus didorong di bagian dangkal.
Setelah delapan jam perjalanan, rombongan tiba di Kampung Niliti pukul 15.00 WIT. Kampung ini merupakan kampung terakhir yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Bahkan, sebagian wilayahnya sudah berada di Papua Nugini.
Di kampung ini, ratusan warga asli suku Yetfa tinggal. Mayoritas sudah memiliki e-KTP Indonesia. Piter disambut tari-tarian dan dijemput dari perahu hingga Balai Kampung Niliti.
Kedatangan Bupati Keerom bertujuan mengecek batas antarnegara sekaligus kondisi rumah warga yang rusak akibat angin puting beliung awal September 2025 lalu.
Piter memberikan bantuan berupa pakaian anak-anak dan dewasa, uang tunai Rp 10 juta untuk 13 keluarga yang rumahnya rusak, serta Rp 100 juta untuk pembangunan gereja. UMKM mama-mama Papua juga mendapat bantuan uang tunai dan bama.
“Kepada warga Kampung Niliti, saya minta agar memindahkan kampung ke wilayah Indonesia sehingga bisa mendapatkan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Karena kampung yang dibangun sekarang sudah masuk wilayah Papua Nugini,” kata Piter.
Bupati juga berjanji akan membangun sekolah, gereja, dan perumahan bagi warga Kampung Niliti jika benar-benar pindah ke wilayah Republik Indonesia.
“Saya akan datang cek lagi. Jika sudah pindah ke wilayah Indonesia, tahun depan kami akan bangun perumahan, sekolah dan gereja sehingga warga Kampung Niliti bisa merasakannya secara langsung,” ujarnya.
Bermalam di hutan
Usai menyerahkan bantuan dan mengecek kondisi sekolah dan gereja, rombongan berpamitan dengan warga Kampung Niliti dan kembali menyusuri sungai menggunakan perahu motor ke Kampung Bias pukul 17.30 WIT.
Hari semakin gelap. Dengan bantuan senter seadanya, perahu motor tetap berjalan melawan arus dan sungai yang surut. Pukul 00.00 WIT, rombongan berhenti di pinggir sungai dekat pondok kayu beratap daun sagu milik warga Kampung Bias untuk beristirahat sejenak.
Hujan gerimis dan faktor keselamatan membuat Bupati Keerom dan rombongan memilih bermalam di sana sebelum melanjutkan perjalanan. Jumat (19/9/2025) pukul 05.00 WIT, perjalanan kembali dilanjutkan menyusuri sungai dan jalan darat.
Bupati Keerom Piter Gusbager memberikan bantuan UMKM bagi mama-mama Papua di Kampung Bias, Distrik Towe, Kabupaten Keerom, Papua, Rabu (17/9/2025). Piter bersama tim berjalan kaki menaiki gunung hingga tiba di Kampung Bias pukul 10.30 WIT. Warga menyambut mereka dengan tari-tarian.
“Intinya ke Kampung Niliti adalah melihat patok batas negara antara RI-PNG dan meminta masyarakat untuk membuat kampung di wilayah Indonesia. Lalu, saya melihat langsung rumah warga yang terkena dampak angin puting beliung dan sekaligus memberikan bantuan ke masyarakat,” jelas Piter.
Kunjungan ke Kampung Niliti juga sebagai persiapan verifikasi dalam negeri atau domestic verification terhadap posisi koordinat Kampung Niliti di Distrik Towe Kabupaten Keerom yang dipimpin Pemprov Papua.
Singgah di Kampung Towe Hitam
Setelah tiba di Kampung Bias, Bupati Keerom melanjutkan perjalanan ke Kampung Towe Hitam, pusat ibu kota Distrik Towe. Sekitar satu jam perjalanan, rombongan tiba dan disambut warga dengan tari-tarian.
Piter memberikan bantuan berupa pakaian anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Bantuan UMKM untuk mama-mama dan dana Rp 100 juta untuk gereja juga disalurkan.
“Saya minta masyarakat menjaga persatuan dan kebersamaan di dalam kampung. Bersama-sama saling mendukung untuk membangun Kampung Towe Hitam ini ke depan,” kata Piter di hadapan warga.
Ia menegaskan tidak ada pemekaran kampung sebelum warga bersatu membangun kampung induk, menjaga keamanan, kebersihan, dan merawat persatuan.
Piter juga mengimbau masyarakat Distrik Towe untuk tidak merusak alam, terutama menyerahkan tanah untuk pendulangan emas yang dapat merusak lingkungan.
“Kepada seluruh tokoh-tokoh adat, mari jaga alam untuk masa depan anak-anak dan cucu-cucu kita,” ucapnya.
Harapan warga
Pendeta Abimelek merasa bahagia karena Bupati Keerom hadir langsung mengecek warga di Kampung Bias.
“Kami sampaikan terima kasih karena bupati bisa datang langsung dan melihat kondisi kami serta nanti pembangunan gereja,” katanya.
Menurut Abimelek, selama ini pihaknya menggunakan rumah misionaris untuk beribadah setiap Minggu.
“Doa kami selama ini akhirnya terwujud di mana bupati datang dan serahkan bantuan serta akan membantu pembangunan gereja,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Kepala SD Negeri Bias, Yulianus Yesnath, berterima kasih atas perhatian Bupati terhadap pendidikan di Kampung Bias.
Sementara itu, Bendahara Kampung Niliti, Kompoti Aisi, menyebut sejak kampung ini didirikan belum ada satu pun pejabat atau kepala daerah mengunjungi kampung perbatasan itu.
Menurut Kompoti, Piter merupakan satu-satunya kepala daerah yang pertama kali mengunjungi Kampung Niliti dan rela menyeberang Sungai Bias berjam-jam untuk melihat langsung warganya.
“Kami merasa senang sebab bertahun-tahun kami menunggu kunjungan bupati. Kini, kami dikunjungi langsung Bupati Keerom yang rela menyeberang sungai hingga sampai di Kampung Niliti,” tutur Kompoti.
Warga Kampung Niliti berharap kehadiran Bupati Keerom dapat memberikan dampak nyata, terutama perhatian terhadap pendidikan, kesehatan, dan akses jalan dari Kampung Jember ke Kampung Niliti.