Advertorial

Pinjaman Surabaya Dikoreksi, DPRD Tegaskan Utang Jangan Goyahkan Program Rakyat

Kompas.com - 25/09/2025, 18:52 WIB

KOMPAS.com — Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengajukan pinjaman senilai Rp 2,9 triliun pada 2026 akhirnya terkoreksi tajam menjadi Rp 1,5 triliun.

Langkah itu diambil setelah kalkulasi fiskal daerah menunjukkan potensi beban yang berlebihan jika utang dipaksakan.

Wakil Ketua DPRD Surabaya Bahtiyar Rifai menegaskan, koreksi angka tersebut bukan sekadar teknis, melainkan keputusan politik yang menyangkut arah pembangunan kota.

Menurutnya, pemangkasan pinjaman adalah hasil konsultasi dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas), yang mana pemerintah kota diminta menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kemampuan bayar.

“Awalnya Rp 2,9 triliun, kini turun menjadi Rp 1,5 triliun. Beberapa proyek harus ditunda, termasuk Jalan Dharma Husada dan Jembatan Kalimakmur. Itu akan kami perjuangkan kembali pada 2027,” ujar Bahtiyar dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Kamis (25/9/2025).

Meski mengecil, lanjutnya, pinjaman Rp 1,5 triliun tetap diarahkan untuk proyek infrastruktur strategis.

Pembangunan Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB), pelebaran jalan Wiyung, Diversi Gunung Sari, hingga lampu penerangan jalan umum tetap menjadi prioritas, selain agenda krusial penanganan genangan.

Skema pembiayaan dirancang melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) senilai Rp 1,145 triliun serta Bank Jatim Rp 417 miliar.

Namun, DPRD Kota Surabaya menekankan bahwa setiap rupiah utang harus dikelola dengan strategi matang.

“Kami tidak ingin cicilan pinjaman mengorbankan layanan dasar rakyat. Pendidikan dan kesehatan harus tetap aman,” tegas politisi Gerindra itu.

Rapat Badan Anggaran (Banggar) DPRD dengan Pemkot Surabaya yang akan digelar pada 25 dan 29 September menjadi forum krusial. Di sana, DPRD akan menguji detail skema bunga, tenor cicilan, serta strategi pelunasan.

Bahtiyar optimistis jika Pemkot Suraya serius menggarap potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD), risiko fiskal bisa ditekan.

“Masih ada dua sumber PAD yang bisa dioptimalkan, yaitu pemanfaatan aset dan pajak parkir. Kalau itu dikelola serius, cicilan pinjaman bisa terbayar tanpa mengganggu program prioritas,” tandasnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau