KOMPAS.com – Matahari sore belum benar-benar tenggelam saat satu per satu dari 20 orang teman tuli mulai menggelar matras di sisi kolam renang Hotel Midtown Residence Surabaya, Jawa Timur.
Di ketinggian lantai atas kawasan Surabaya Selatan itu, angin semilir menemani mereka yang datang bukan untuk berenang, melainkan untuk mencoba sesuatu yang baru, yakni yoga dalam keheningan.
Kegiatan bertajuk “Yoga for Deaf” itu menjadi kelas yoga pertama di Surabaya yang khusus menghadirkan teman-teman disabilitas tuli sebagai peserta utama. Selain itu, juga digelar dalam rangka memperingati Hari Tuli Sedunia yang jatuh setiap 28 September.
Kegiatan yang digelar pada Jumat (26/9/2025) itu juga merupakan bagian dari rangkaian acara “Kopi Tutur Rasa”, inisiatif inklusif dari Midtown Hotels Indonesia yang telah berjalan sejak 2024.
Menyatu dalam gerakan, tanpa kata
Dipandu oleh instruktur yoga bernama Coach Noy dan didampingi oleh Shafa dari Kitasetara Foundation sebagai juru bahasa isyarat, sesi dimulai dengan suasana tenang tapi penuh antusiasme.
Tepat pukul 17.00 WIB, para peserta sudah berdiri di atas matras masing-masing, siap mengikuti gerakan demi gerakan. Yoga dimulai dengan gerakan pemanasan yang dilakukan perlahan, seperti twisting, side bend, serta butterfly pose. Meski tanpa kata-kata, komunikasi tetap berjalan melalui gerakan tubuh, ekspresi wajah, dan tangan yang menari dalam bahasa isyarat.
“Seru dan menyenangkan bisa berbagi yoga dengan teman Tuli. Mereka sangat fokus dan penuh semangat,” ujar Noy dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Minggu (28/9/2025).
Sementara itu, salah satu peserta, Devi (22), menyampaikan kesan pertamanya mengikuti kegiatan yoga tersebut.
“Senang banget! Seru, tapi... agak sakit, hahaha!” aku Devi dalam bahasa isyarat Bisindo yang diterjemahkan oleh Shafa.
Inklusi yang menghidupkan
Yoga for Deaf bukan hanya tentang olahraga. Di area Escape, dekat kolam renang, bazar inklusi juga digelar. Area ini diisi oleh Doodle Corner, Tarot Corner, hingga booth edukatif milik Kitasetara Foundation.
Booth edukatif itu memperkenalkan huruf Braille dan dasar-dasar bahasa isyarat Bisindo kepada pengunjung umum.
Selain itu, salah satu sudut paling ramai ada di Kuliner Corner. Di sini, para barista tuli dari program Kopi Tutur Rasa menyajikan kopi racikan mereka. Menu seperti Kopi Klepon Gen-Z, Berry Fit Latte, hingga Sakura Coffee menjadi andalan.
Lebih dari sekadar minuman, menu-menu itu adalah hasil setahun pelatihan teman tuli menjadi barista andal di beberapa hotel jaringan Midtown.
Tak kalah menarik adalah kedai Layar TanCUP, kafe kecil bergaya teatrikal yang memperlihatkan siluet barista meracik kopi di balik kain putih. Area ini menciptakan nuansa “wayang kopi” yang menyentuh nostalgia layar tancap era 1990-an.
Yoga for Deaf dan seluruh rangkaian acara hari itu adalah bagian dari komitmen berkelanjutan Midtown Hotels Indonesia melalui program Midtown Connect. Program ini secara spesifik berfokus pada pemberdayaan dan inklusi penyandang disabilitas, khususnya teman tuli.
Didukung oleh berbagai komunitas dan mitra, seperti Kitasetara Foundation, Fablyme, Fitness Work, Ladang Lima, ForDive Parfume, Skinda, dan Nawaya Beauty Clinic, kegiatan ini menjadi bentuk nyata dari kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan ruang lebih setara.