Advertorial

“Telling China’s Story” Mulai Tayang Musim Terbaru, Soroti Kolaborasi China–Indonesia

Kompas.com - 30/09/2025, 10:23 WIB

KOMPAS.com – Program dokumenter internasional Telling China’s Story musim terbaru yang berfokus pada hubungan diplomatik China-Indonesia resmi tayang Senin (29/9/2025).

Serial yang diproduksi Shenzhen Media Group tersebut menjadi bagian dari proyek komunikasi global bertema “Global Development Initiative”.

Program itu menyoroti praktik kerja sama China dengan berbagai negara, termasuk Indonesia, dalam bidang pembangunan berkelanjutan, perdagangan, infrastruktur, dan pertukaran budaya.

Episode perdana chapter Indonesia menyoroti pemulihan ekosistem laut di Makassar dan Pulau Bangka melalui proyek Marine Ranching. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi dengan universitas di China dan Indonesia sejak 2021.

Melalui proyek tersebut, terumbu buatan dan benih ikan ditebar untuk menghidupkan kembali kehidupan bawah laut yang sempat terancam akibat polusi dan penangkapan berlebih.

Kini, bintang laut, belut laut, dan teripang kembali menghuni perairan Pulau Bonetambung, Pemulihan ekosistem laut ini diharapkan membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir.

Salah satu penonton penayangan perdana, Kevin, menilai serial dokumenter tersebut memberi perspektif baru tentang dinamika hubungan kedua negara.

“Menurut saya, Telling China’s Story bukan sekadar dokumenter biasa. Episode pertama menampilkan bukti konkret bahwa kerja sama China dan Indonesia membuahkan hasil nyata, seperti proyek Marine Ranching yang berhasil memulihkan ekosistem laut dan meningkatkan kesejahteraan nelayan,” ujar Kevin dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin.

Kevin menambahkan, dirinya baru mengetahui bahwa nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai 147,8 miliar dollar AS pada 2024. Ia juga baru memahami bahwa China telah menjadi mitra dagang terbesar Indonesia selama 12 tahun berturut-turut.

Menurutnya, angka-angka itu menunjukkan bahwa kemitraan ini tidak berhenti pada diplomasi, tetapi benar-benar berdampak langsung bagi masyarakat.

Episode perdana chapter Indonesia dari Telling China’s Story/em menyoroti pemulihan ekosistem laut di Makassar dan Pulau Bangka. Dok. Istimewa Episode perdana chapter Indonesia dari Telling China’s Story/em menyoroti pemulihan ekosistem laut di Makassar dan Pulau Bangka.

Tahun ini, momentum tersebut terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan 75 tahun hubungan diplomatik China–Indonesia dan 70 tahun Konferensi Asia–Afrika di Bandung.

“Melalui tayangan ini, kita bisa melihat bagaimana kolaborasi dua negara berkembang besar dan dapat menjadi teladan di tingkat global serta menunjukkan kekuatan solidaritas Global South,” kata Kevin.

Sebagai informasi, episode-episode Indonesia dari Telling China’s Story juga menghadirkan pandangan dari sejumlah tokoh, termasuk akademisi dari Akademi Teknik Tiongkok kelahiran Indonesia Chen Qingquan serta Ketua Dewan Ekonomi Nasional Indonesia Luhut Binsar Pandjaitan.

Keduanya menilai bahwa kolaborasi riset dan teknologi dapat membuka peluang luas bagi generasi muda.

Program Telling China’s Story sendiri tayang setiap Senin pukul 21.35, dari 29 September 2025 hingga 27 Oktober 2025 dengan total lima episode melalui platform digital China, Zhinews, dan Shenzhen Satellite TV untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau