KOMPAS.com – Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy di Wisma Danantara Indonesia, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (30/9/2025).
Rakornas dihadiri sejumlah kepala daerah dari berbagai kota dan kabupaten yang memiliki potensi pengolahan sampah skala besar.
“Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bersama pemerintah daerah lain ikut dalam rapat koordinasi persiapan penyelenggaraan waste to energy atau sampah menjadi energi listrik,” ujar Dedie dalam keterangan pers yang diterima Kompas.com, Rabu (1/10/2025).
Menurutnya, teknologi waste to energy layak diimplementasikan di Indonesia, terutama di wilayah perkotaan dengan volume sampah yang besar.
“Nah, untuk Kota dan Kabupaten Bogor rencananya akan menjadi satu area di Galuga. Proses pengadministrasian dilakukan tahun ini, dan tahun depan insya Allah sudah mulai masuk tahap konstruksi, pematangan, serta penyiapan lahan,” kata Dedie.
Ia berharap, Kota dan Kabupaten Bogor dapat segera memiliki instalasi waste to energy dan menjadi salah satu wilayah yang mampu menyelenggarakan program tersebut.
Di sisi lain, CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengungkapkan rencana pemerintah memberikan subsidi kepada PT PLN (Persero) yang menyerap listrik dari proyek PSEL.
Tarif listrik yang diserap PLN ditetapkan sebesar 20 sen per kWh, lebih tinggi dari tarif yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) No 35 Tahun 2018 sebesar 13,5 sen per kWh.
“Kenaikan tarif ini (diberlakukan) karena tidak ada lagi tipping fee atau biaya pengolahan limbah yang dibebankan kepada pemerintah daerah. Ke depan, PLN akan mendapatkan subsidi dari pemerintah pusat untuk menyerap listrik PSEL,” jelas Rosan.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, juga memastikan pihaknya siap menyerap listrik dari PSEL meski dengan harga relatif lebih tinggi dibandingkan pembangkit listrik lain, yakni 20 sen per kWh.