KOMPAS.com – Ribuan mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) berkumpul dengan penuh antusiasme dalam acara Kuliah Kebangsaan bertema “Menciptakan Generasi Muda yang Berkualitas dengan Semangat Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah” di Graha Cakrawala, UM, Kota Malang, Jawa Timur, Senin (29/9/2025).
Bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI), acara ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional lintas bidang untuk menginspirasi mahasiswa agar lebih memahami peran penting rupiah dalam perekonomian Indonesia.
Kuliah kebangsaan tersebut juga bertujuan membangkitkan semangat nasionalisme serta rasa cinta terhadap rupiah sebagai simbol kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.
Acara dimulai dengan sambutan dari Kepala Kantor Perwakilan BI Malang Febrina. Ia menegaskan, ada tiga sikap yang harus dimiliki oleh generasi muda terhadap rupiah, yaitu cinta, bangga, dan paham rupiah.
Menurutnya, sikap tersebut harus dimiliki bukan hanya sebagai bentuk pengenalan, melainkan pemahaman yang lebih mendalam terkait cara mengelola, menyimpan, dan berinvestasi.
“Cinta, bangga, dan paham rupiah tidak dapat dipisahkan. Paham (berarti) tidak sekadar tahu, tetapi mampu mengelola, menyimpan, dan berinvestasi agar generasi mendatang berdaya,” ujar Febrina dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Rabu (1/10/2025).
Dengan sikap itu, generasi muda diharapkan tidak hanya dapat memperkuat nilai rupiah sebagai alat transaksi, tetapi juga bagian dari kedaulatan bangsa yang harus dilestarikan.
Menguatkan rupiah di kancah global
Setelah Febrina, giliran pendakwah muda dan penulis Habib Husein bin Ja'far Al Hadar yang memberikan pesan penting mengenai eksistensi rupiah.
Habib Husein mengatakan, menjaga dan memperkuat rupiah adalah bagian dari jihad ekonomi. Ia mencontohkan pemanfaatan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang kini menjadi revolusi digital yang membantu memperkuat rupiah di tingkat global.
Menurutnya, sebagai standar sistem pembayaran digital Indonesia, QRIS tidak hanya memudahkan transaksi, tetapi juga meningkatkan kepercayaan internasional terhadap rupiah sebagai mata uang yang modern dan berdaulat.
“QRIS adalah langkah signifikan dalam memperkenalkan Indonesia ke dunia melalui sistem pembayaran yang lebih efisien. Ini adalah salah satu cara kita menjaga eksistensi rupiah di dunia global,” ungkap Habib Husein.
Geliat ekraf
Selanjutnya, Rektor UM Prof Dr Hariyono, MPd, memberikan penekanan tentang peran penting kontribusi mahasiswa dalam meningkatkan nilai rupiah melalui sektor ekonomi kreatif.
Menurut pandangannya, mahasiswa bukan hanya sebagai konsumen, melainkan juga motor penggerak inovasi yang dapat membantu meningkatkan ekspor produk kreatif Indonesia. Selain membawa keuntungan materi, produk kreatif yang dijual ke pasar internasional juga berperan dalam memperkuat nilai tukar rupiah.
“Mahasiswa harus menjadi inovator yang tidak hanya menciptakan produk, tetapi juga menggerakkan ekonomi bangsa melalui ekspor produk-produk kreatif,” ujar Prof Hariyono.
Mahasiswa pun diharapkan dapat berperan aktif dalam meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global. Hal ini pada gilirannya akan berdampak positif pada nilai rupiah.
Prof Hariyono juga berpesan kepada generasi muda untuk menyadari bahwa rupiah bukan hanya alat transaksi biasa, melainkan simbol kedaulatan bangsa.
Untuk itu, lanjutnya, mahasiswa UM harus dapat menjadi pelopor dalam ekonomi kreatif dan berperan aktif dalam menjaga stabilitas ekonomi bangsa.
Universitas Negeri Malang (UM) bersama Bank Indonesia menggelar Kuliah Kebangsaan bertema "Menciptakan Generasi Muda yang Berkualitas dengan Semangat Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah" di Graha Cakrawala, UM, Kota Malang, Jawa Timur, Senin (29/9/2025).“Generasi Z harus menjadi pelopor ekonomi kreatif dan sekaligus bagian dari diaspora Indonesia yang mengharumkan nama bangsa di dunia internasional,” ujarnya.
Dorong investasi dini
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2020-2024 Dr H Sandiaga Salahuddin Uno, BBA, MBA, turut memberikan arahan tentang manfaat berinvestasi sejak dini.
Ia menjelaskan bahwa investasi pada produk lokal merupakan strategi yang tidak hanya berdampak positif pada perekonomian nasional, tetapi juga dapat memberi efek berganda hingga 2,6 kali lipat bagi perekonomian Indonesia.
Dengan memilih produk lokal, imbuhnya, masyarakat turut serta dalam memperkuat ekonomi Indonesia, menjaga kestabilan ekonomi, dan memperkuat posisi rupiah di pasar domestik.
“Saat menggunakan produk lokal, kita tidak hanya berpatriotisme, tetapi juga berinvestasi untuk masa depan bangsa. Hal ini adalah strategi nyata untuk membangun negeri,” kata Sandiaga.
Kuliah Kebangsaan itu menjadi momentum penting bagi mahasiswa UM dan generasi muda Indonesia untuk memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai rupiah. Dengan begitu, generasi muda diharapkan dapat lebih bijak dalam mengelola keuangan, berinvestasi dengan cerdas, dan menggerakkan ekonomi kreatif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Kegiatan tersebut juga diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi generasi muda untuk lebih aktif dalam menjaga stabilitas ekonomi bangsa. Selain itu, turut berperan dalam memperkuat perekonomian Indonesia serta meningkatkan literasi tentang pengelolaan keuangan dan investasi yang bijak untuk masa depan yang lebih cerah.