JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait atau Menteri Ara melakukan kunjungan kerja ke kantor pusat PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Jakarta, Kamis (2/10/2025).
Pertemuan bersama Direktur Utama BRI Hery Gunardi dan jajaran membahas percepatan program perumahan rakyat, khususnya Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
Hery menekankan, keberhasilan program perumahan tidak hanya ditentukan oleh eksekusi penyaluran kredit, tetapi juga sosialisasi agar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) mengetahui dan memanfaatkan fasilitas tersebut.
“Tadi kami mendiskusikan bahwa keberhasilan program tidak hanya (soal) eksekusi untuk menyalurkan, tapi juga bagaimana kami melakukan sosialisasi. Hal-hal yang baik ini perlu diketahui lebih banyak masyarakat, terutama MBR yang memang membutuhkan rumah layak,” ujar Hery, Kamis.
Dengan jaringan lebih dari 7.000 cabang di seluruh Indonesia, BRI diyakini mampu menjangkau masyarakat hingga ke pelosok.
Penyerapan FLPP tertinggi
Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho menambahkan, BRI termasuk bank paling progresif dalam penyerapan FLPP.
Tahun ini, kuota rumah subsidi BRI naik 47 persen, dari 17.700 unit pada 2024 menjadi 25.000 unit. Hingga awal Oktober 2025, realisasinya telah mencapai 17.822 unit, atau sekitar 71 persen dari target .
Oleh karenananya, dalam kesempatan itu, Menteri Ara mengapresiasi capaian BRI.
“Saya mengapresiasi langkah BRI yang paling tinggi realisasi penyerapannya di antara bank lain. Ini contoh nyata bagaimana dukungannya terhadap Program 3 juta rumah,” ujar Menteri Ara.
Terlebih, kata dia, BRI menjadi bank yang proaktif mengajukan kembali tambahan kuota 7.000 unit rumah subsidi.
Tantangan backlog perumahan
Meski capaian BRI cukup tinggi, Menteri Ara turut menekankan bahwa tantangan backlog perumahan yang diahdapi pemerintah kini masih sangat besar.
“Tahun ini targetnya 350.000 rumah. Kalau bisa naik ke 500.000 per tahun, maka dalam 20 tahun backlog bisa teratasi. Untuk itu (strategi) percepatan sangat penting, dan BRI punya peran besar,” jelasnya.
Kualitas kredit
Data BRI per Juni 2025 mencatat, secara akumulatif perbankan telah menyalurkan FLPP kepada lebih dari 101.000 penerima manfaat dengan outstanding mencapai Rp 13,79 triliun.
Dari total tersebut, sekitar 97 persen berkualitas baik, tecermin dari rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang rendah di level 1,1 persen.
“Artinya, kami menyalurkan dengan tata kelola yang baik.Likuiditas BRI saat ini juga sangat kuat, tecermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) yang stabil di kisaran 87–89 persen,”ujar Hery.