KOMPAS.com – Indonesia Investment Authority (INA) mencatat kinerja historis pada 2024 dengan capaian besar di sektor investasi yang berkelanjutan.
Lembaga pengelola dana abadi tersebut sukses menarik investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) signifikan sambil terus memperkuat komitmen pada prinsip environmental, social, and governance (ESG).
Capaian FDI INA pada 2024 mencapai Rp 13,8 triliun. Angka ini naik lebih dari dua kali lipat jika dibandingkan investasi ekuitas pada periode yang sama. Capaian ini juga turut menandai rekor realisasi FDI tertinggi yang pernah dicatatkan oleh INA sejak resmi berdiri.
Total penyaluran dana INA bersama para mitra co-investor juga mencatatkan angka positif, yakni Rp 19,5 triliun pada 2024. Secara kumulatif, total investasi yang telah disalurkan INA sejak pendiriannya menembus Rp 60,9 triliun atau setara 3,8 miliar dollar AS.
Angka tersebut setara hampir 1 miliar dollar AS setiap tahun, jumlah yang signifikan dari total transaksi yang diselesaikan di Indonesia. Porsi kumulatif penyaluran investasi dari INA sendiri kini mencapai Rp 24,9 triliun atau 1,6 miliar dollar AS.
Jumlah tersebut tumbuh sebesar 6,2 kali ketimbang total penyaluran investasi pada tahun pertama INA beroperasi. Selain itu, asset under management (AUM) INA juga naik tajam hingga 92 persen sejak pertama kali dibentuk dengan nilai mencapai Rp 144,3 triliun pada penghujung 2024.
Lonjakan AUM tersebut merupakan hasil dari dukungan modal berkelanjutan serta kepercayaan dari investor global yang berasal dari lebih dari 15 negara. Hingga Desember 2024, porsi terbesar alokasi investasi INA berada di sektor transportasi dan logistik.
Sektor tersebut mencapai 51 persen dari akumulasi total nilai investasi (INA dan co-investor) atau sebesar 61 persen dari akumulasi nilai investasi porsi INA.
Ketua Dewan Direktur INA Ridha Wirakusumah menjelaskan, pendekatan investasi yang diterapkan lembaganya konsisten, disiplin, dan berlandaskan fundamental yang kuat.
Pendekatan tersebut, lanjutnya, selalu berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang dan memastikan dampak pembangunan yang berarti bagi Indonesia.
"Kami berinvestasi dengan penuh keyakinan pada berbagai peluang yang memberikan imbal hasil menarik dengan risiko terukur. Kami mencari ketahanan melalui investasi pada sektor dan industri yang memenuhi kebutuhan esensial dan berjangka panjang," ujar Ridha dikutip dari Laporan Tahunan INA 2024.
Ia menambahkan, INA berinvestasi pada hal-hal yang diyakini penting bagi Indonesia saat ini dan akan terus dibutuhkan oleh generasi-generasi mendatang.
Perkuat komitmen ESG dan pengakuan global
Pada 2024, INA semakin memperkuat kerangka kerja prinsip ESG dalam setiap keputusan investasi. Penerapan aspek ini menunjukkan komitmen INA dalam mendorong investasi yang bertanggung jawab di seluruh aktivitas, mulai dari operasional hingga pemantauan portofolio.
INA memastikan integrasi pertimbangan ESG yang material ke seluruh proses investasi. Hal ini mencakup penyaringan, uji tuntas, dan menjadi dasar pengambilan keputusan. Selain mengelola risiko ESG, lembaga investasi ini berupaya mengoptimalkan peluang keberlanjutan dalam portofolio investasinya.
INA juga menjalankan hak dan pengaruhnya untuk mendukung peningkatan kinerja perusahaan secara berkelanjutan. Salah satunya melalui kerja sama dengan perusahaan portofolio untuk mengurangi risiko.
Komitmen tersebut selaras dengan upaya mengatasi isu iklim dengan mendorong investasi di sektor energi bersih, transisi energi, teknologi bersih, dan solusi berbasis alam.
Komitmen tata kelola INA juga mendapat pengakuan internasional dari Global SWF, organisasi riset global yang berfokus pada investor milik negara. Pada 2025, Global SWF memberikan skor “Governance, Sustainability, and Resilience” (GSR) kepada INA sebesar 72 persen. Angka ini melampaui rata-rata global sebesar 53 persen.
Posisi ini menempatkan INA di peringkat ke-30 di antara sovereign wealth fund (SWF) global yang dinilai, meskipun lembaga tersebut tergolong baru jika dibandingkan pengelola investasi lainnya.
Dalam laporan tahunannya, INA memprioritaskan 12 area fokus ESG, termasuk Emisi GRK, Manajemen Energi, Kesehatan dan Keselamatan, serta Etika bisnis dan Antikorupsi.
Berdasarkan survei tahunan pada 2024 di sebagian besar perusahaan portofolio INA terkait dampak keberlanjutan, tercatat 89 persen perusahaan portofolio telah memiliki kebijakan terkait ESG atau health, safety, environment.
Survei tersebut juga menunjukkan bahwa 56 persen perusahaan kunci memiliki perwakilan perempuan di dewan direksi serta 65 persen dari total tenaga kerja merupakan perempuan.
Implementasi nyata ESG melalui proyek prioritas
Wujud nyata komitmen INA di ranah ESG terlihat melalui berbagai proyek. Salah satunya adalah investasi terkait pengadaan Jalan Tol Trans Sumatera ruas Bakauheni – Terbanggi Besar.
Proyek ini dijalankan bekerja sama dengan PT Hutama Karya (Persero) dan memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebesar 0,034 persen pada 2024.
Tol Bakauheni – Terbanggi Besar diperkirakan menciptakan 20.000 potensi lapangan kerja baru secara langsung dan tidak langsung. Kehadiran infrastruktur ini juga memungkinkan penghematan waktu dan biaya perjalanan hingga Rp 23,5 triliun serta pengurangan emisi CO? hingga Rp 9,7 triliun.
Wujud komitmen ESG lain adalah pembentukan PT Rafflesia Investasi Indonesia (PT RII) bersama Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) dan APG Asset Management pada 2024. Platform ini dibentuk untuk mengelola sejumlah ruas tol strategis dan memastikan tata kelola yang baik di tingkat platform serta di setiap aset yang dimiliki.
PT RII telah menyusun dan menyetujui beberapa kebijakan penting untuk memastikan tata kelola perusahaan yang baik, termasuk Kode Etik serta Kebijakan Anti-Suap dan Anti-Korupsi.
Dalam kemitraan tersebut, INA, APG, dan ADIA memberikan arahan kepada PT RII untuk mengembangkan peta jalan keberlanjutan dan key performance indicators (KPI) yang mencakup efisiensi energi dan perbaikan sistem manajemen mutu.
Di sisi energi, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menunjukkan integrasi prinsip ESG ke seluruh lini operasi yang sukses. PGE bahkan menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang berhasil masuk daftar “2025 ESG Top-Rated Company” versi Morningstar Sustainalytics.
PGE meraih skor risiko ESG sebesar 7,1 dengan tingkat risiko yang sangat rendah (negligible risk) serta memperoleh status “Top Rated” di kategori Wilayah dan Industri. Prestasi ini menempatkan PGE sebagai perusahaan dengan risiko ESG terendah di sektor utilitas dan subsektor energi terbarukan.
Selain itu, INA juga aktif dalam forum global seperti Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) untuk membahas pembiayaan berkelanjutan. Lembaga tersebut juga menjalin komunikasi dan benchmarking dengan lembaga seperti Ireland Strategic Investment Fund (ISIF), APG, dan GenZero untuk berbagi praktik terbaik di bidang ESG.
Melalui pendekatan ini, INA tidak hanya berperan sebagai investor yang mengadopsi prinsip keberlanjutan, tetapi juga sebagai organisasi pembelajar yang terus berkembang. INA mengarahkan investasinya pada empat sektor prioritas nasional, yakni transportasi dan logistik, energi hijau dan transformasi, infrastruktur digital, serta kesehatan.